JAKARTA, ITN– “BERBURU” tiket kereta api menjelang mudik Lebaran selalu dilakukan oleh para perantau yang akan pulang kampung.  Sekitar 20 tahun lalu, untuk mendapatkan tiket kereta api tidaklah seperti saat ini yang bisa dilakukan secara  online. Tapi dengan sistem online, tiga bulan sebelum hari “H” Lebaran pun, seluruh tiket kereta api  biasanya sudah ludes. Padahal pembelian tiket perorang juga dibatasi jumlahnya.

Pengalaman “berburu” tiket kereta api untuk mudik Lebaran pernah saya alami dan sangat mengenaskan. Untuk membeli tiket kereta api di Stasiun Kota, Jakarta dengan  tujuan Surabaya, hari itu saya sengaja berangkat setelah makan sahur. Saya menduga orang yang  antre untuk membeli tiket kereta api pada dinihari belumlah banyak. Ternyata dugaan saya tidak  benar. Calon pembeli tiket  sudah membludak. Karena loket baru dibuka pagi hari sekitar pukul 07.00 atau 08.00 WIB, para calon pembeli tiket duduk di lantai. Itu berbeda dengan saat ini yang ruang tunggu pembelian tiket di stasiun-stasiun dilengkapi fasilitas tempat duduk. Sejuk lagi.

Begitu loket dibuka, antrean  yang paling depan dilayani. Terlihat muka orang tersebut sumringah, karena sudah mendapatkan tiket pulang kampung. Satu persatu pembeli tiket menuju loket, kemudian menyerahkan uang dan memperoleh lembaran tiket kereta api. Saya juga beringsut centimeter demi centimeter menuju ke loket. Ada perasaan gembira karena bakal memperoleh tiket pulang kampung untuk mudik Lebaran. Sudah terbayang wajah orang tua yang menyambut anaknya pulang kampung. Pas giliran saya di depan loket, petugas yang melayani pembelian tiket mengatakan “habis”. Perasaan gembira itu spontan lenyap berganti rasa kecewa dan kesal.  Saya sudah antre sejak dinihari, pas sudah di depan loket; ternyata tiket habis. Hal serupa tentu juga dirasakan oleh banyak orang yang antre di belakang saya. Mereka juga harus gigit jari dan balik ke rumah.

Meski demikian, semangat pulang kampung dalam suasana Lebaran tidak surut. Saya akhirnya bisa mencapai kampung halaman menggunakan angkutan bus. Sebenarnya untuk naik pesawat terbang dari Jakarta menuju Surabaya juga ada, tapi waktu itu moda transportasi pesawat terbang masih termasuk  “wah”.

Beberapa tahun kemudian pengalaman “berburu” tiket kereta api menjelang Lebaran kembali saya alami. Waktu itu ada saudara sepupu  yang akan mudik Lebaran minta tolong saya untuk  mendapatkan lima lembar tiket kereta api tujuan Surabaya. Kebetulan saya kenal  baik dengan Komandan Kodim 0501/BS Jakarta Pusat Letkol Inf Koesnadi.

Saya telepon Komandan Kodim itu. “Pak Koes, ada saudara saya mau pulang ke Surabaya dengan keluarganya. Bisa bantu saya mendapatkan tiket kereta api sebanyak lima lembar? Kalau saya beli langsung di Stasiun Gambir, kan pasti antre.  Nanti uangnya saya bayar,” kata saya.  Mendengar telepon saya itu, Letkol Inf Koesnadi “Bas, Bas, kamu itu wartawan, tapi nggak ngikuti berita. Tiket kereta api sudah habis semuanya,” ucapnya. Tapi Pak Koesnadi akhirnya berkata akan dicobanya. Karena Stasiun Gambir merupakan wilayahnya Kodim 0501/BS Jakarta Pusat.

Beberapa hari kemudian setelah  melakukan liputan menjelang mudik Lebaran, saya mampir ke Stasiun Gambir. Iseng-iseng saya tanya ke petugas di loket, apa tiket kereta api tujuan Surabaya masih ada. Petugas itu langsung mengangguk dan berkata, “Masih ada”.  Saya langsung mengatakan perlu lima lembar tiket kereta api tujuan Surabaya dan langsung saya bayar.

Saking gembiranya, dengan lima lembar tiket kereta api di tangan; saya menuju ke rumah saudara saya. Saya bertemu istri saudara sepupu yang mengatakan suaminya sedang ke Stasiun Gambir untuk membeli lima lembar tiket kereta api. Mendengar jawaban itu, saya kaget dan lemas.  Artinya, saudara sepupu saya sudah membeli tiket kereta api sebanyak lima lembar, saya lima lembar, dan dari Komandan Kodim 0501/BS Jakarta Pusat juga lima lembar. Jadi semuanya 15 lembar tiket kereta api.

Khawatir tiketnya hangus, segera saya kembali ke Stasiun Gambir untuk membatalkan pembelian tiket itu dan menelepon Komandan Kodim 0501/BS Jakarta Pusat Letkol Inf Koesnadi menceritakan hal itu sekaligus meminta maaf. (A Basori)