JAKARTA, ITN- Event Jakarta Fashion Muslim Festival (JFMF) 2025 yang berlangsung di Balai Kartini, Jakarta telah berlalu, dalam gelaran tersebut Indonesiatripnews.com sempat berkenalan dengan seorang supermodel asal Singapura yang kini tinggal di Dubai.
Zai Miztiq namanya, Zai mengatakan kedatangannya ke Indonesia dalam rangka menjadi speaker di acara Stay In You seminar motivasi mengenai cara meraih kesuksesan. “Saya baru datang lagi ke Indonesia setelah sekian lama, dulu ketika aktif di modeling saya sering ke Tanah Abang. Itu seperti rumah keduaku,” ungkapnya.
Zai memuji perkembangan fashion muslim di Indonesia. “Fashion muslim di sini bagus banget. Yang saya lihat ini harus dibawa ke Tokyo Jepang, Dubai, Milan, I love it,” kata Zai yang memang menyukai traveling keliling dunia.
Saking sering melakukan traveling, Zai sering sekali mengucapkan kalimat ini, “Kita ini bukan pohon, kita bisa bergerak bebas kemanapun,” kata Zai yang mengaku ingin menjajaki tinggal lebih lama di Indonesia.
Kepada Indonesiatripnews.com, ia menceritakan kehidupannya yang dijadikan inspirasi banyak orang terutama ketika Ia berjuang untuk berjalan lagi setelah kecelakaan mobil yang menyebabkan tulang belakangnya patah.

Kecelakaan mengerikan itu hampir membuat Zai Miztiq lumpuh, tetapi perjalanannya menuju pemulihan dan belajar berjalan lagi memberinya tujuan baru dalam hidupnya dan memberinya dorongan untuk menginspirasi orang lain.
Bagi banyak orang, usia dua puluhan merupakan masa ketika hidup penuh dengan potensi dan peluang menarik. Dunia adalah milik mereka dan hanya sedikit hal yang mustahil.
Hal ini tentu saja berlaku bagi penulis buku pengembangan diri, pelatih kehidupan, dan motivator berusia 45 tahun ini.
Pada tahun 2001, ia adalah lulusan politeknik yang antusias dan riang yang mengikuti kontes kecantikan, menyukai tata rias, dan ahli dalam seni henna.
“Seorang teman yang dulu tinggal di Jepang melihat saya menggambar henna dan menyarankan agar kami mengembangkannya di sana sebagai bisnis potensial,” kata Zai. Maka, pada usia 21 tahun, ia memulai petualangan wirausaha pertamanya, mendirikan kios henna di berbagai acara jalanan di sekitar Tokyo.
Perjalanan yang seharusnya berlangsung dua minggu justru menjadi perjalanan selama enam bulan. “Saya merasa beruntung karena lebih banyak orang mengenal kami setelah saya diwawancarai oleh Tokyo FM dan berbagai majalah di sana. Beberapa orang Jepang bahkan ingin menekuni seni henna sendiri,” ujarnya.
Saat ia dan temannya kembali ke Singapura, mereka dan usaha mereka ramai dibicarakan. “Tiba-tiba, kami banyak diliput media sebagai gadis-gadis lokal yang membawa henna ke Jepang. Ada wawancara dengan Suria dan Berita Harian, di antara yang lain, dan kami pun menjadi seniman henna ternama di Singapura,” kenangnya.

Selama beberapa tahun berikutnya, bisnisnya, Miztiq Henna & Body Art, berkembang pesat. Ia sudah menerima pesanan dua tahun sebelumnya, terutama untuk urusan tata rias pengantin, dan banyak calon pengantin ingin dihias oleh tangannya.
Lalu suatu hari, ketika ia berusia 25 tahun, semuanya benar-benar terhenti.
Kecelakaan yang mengubah hidupnya
Pada tahun 2005, Miztiq sedang berada di dalam taksi bersama temannya, dalam perjalanan pulang kerja di sore hari, ketika ia mendapati dirinya terlempar ke depan dengan keras dalam sekejap. Sopir taksi tertidur di belakang kemudi, menabrakkan kendaraannya ke bagian belakang trailer tentara.
“Saya ingat itu jenis yang mengangkut tank militer, ketika taksi itu jatuh, saya tidak tahu apa yang terjadi. Yang saya ingat hanyalah ponsel saya jatuh ke lantai dan saya tidak bisa bergerak,” ungkapnya.
Saat itu Zai mengatakan, “Saya takut mati, jadi saya tidak berani kehilangan kesadaran. Saya tetap terjaga sampai masuk ruang operasi”. Selama itu menurutnya, hanya satu pikiran yang membuatnya terus bertahan, yakni ibunya.
“Saya terus berpikir saya tidak bisa mati karena saya harus merawat ibu saya. Saya anak bungsu dari enam bersaudara dan ada perbedaan usia yang jauh antara saya dan saudara-saudara saya. Mereka semua sudah menikah saat saya berusia 12 tahun, jadi saya dan ibu saya sangat dekat,” jelasnya.
Di rumah sakit, ia bersikeras agar para perawat menghubungi saudara-saudaranya, bukan ibunya, dan memberikan instruksi agar mereka tetap diam tentang kecelakaan itu. “Jika sesuatu terjadi pada ibu saya karena syok itu, saya tidak akan sanggup menerimanya,” ujar Zai.

Pada akhirnya, ia bahkan menandatangani surat pernyataannya sendiri untuk tindakan operasi tersebut. Selama operasi, tulang belakangnya yang retak dan terkilir harus diperbaiki menggunakan delapan sekrup dan dua batang logam untuk menahannya.
Setelah itu, ia mengetahui bahwa dokter memberitahukan jika peluang hidupnya 50-50. Dan bahkan jika ia berhasil bertahan hidup, mereka mengatakan ada kemungkinan 95 persen ia tidak akan bisa berjalan lagi.
“Setiap kali saya memikirkan hal ini, saya berkata pada diri sendiri bahwa saya perlu lebih bersyukur,” ujarnya dengan sungguh-sungguh.
Hebatnya, sopir taksi itu hanya mengalami luka kecil. Temannya menderita memar dan pembekuan darah, dan harus dirawat di rumah sakit selama seminggu.
Sedangkan Zai terbaring di tempat tidur selama tiga minggu. Setiap gerakan atau putaran kecil tubuhnya membutuhkan dosis morfin yang ia konsumsi sendiri karena rasa sakit dari tulang belakang dan tulang rusuknya yang retak sangat menyiksa.
Ibunya bergegas ke rumah sakit segera setelah ia diberi tahu kebenarannya keesokan harinya. Dan ketika ia melihat punggung putrinya yang hancur, mereka berdua menangis.
Ketika ia akhirnya cukup kuat untuk dibantu bangun dari tempat tidur, ia dikirim untuk menjalani fisioterapi untuk melihat apakah ia bisa berjalan. Fisioterapis meminta saya untuk berdiri dan saya tidak tahu caranya. Dua perawat harus membantu saya.
“Saya sangat takut ketika mereka meminta saya untuk mencoba berjalan karena saya tidak tahu apakah saya bisa. Mereka harus mengajari saya melakukannya dengan menggerakkan pinggul saya. Dulu saya seorang model, dan di sanalah saya, perlu diajari cara berjalan lagi. Itu adalah pengalaman yang sangat merendahkan hati,” ungkapnya.
Membangun Bisnis
Saat ini Zai dikenal sebagai seorang motivator, coaching life bersertifikat dan pendiri Step up Journey, sebuah platform yang didedikasikan untuk membantu orang lain bangkit dari keputusasaan. Melalui penyembuhannya, ia menemukan misinya: mengingatkan orang-orang bahwa sekeras apa pun hidup, harapan tak pernah hilang.

“Saya bertemu dengan seseorang, kita ngobrol dan akhirnya saling berteman di Facebook. Lalu dia mengajak saya mengobrol via chat tapi akhirnya saya telpon dia. Dia mengatakan sebelum ketemu saya, dia berfikir akan bunuh diri. Tapi keinginan itu hilang setelah bertemu dan ngobrol dengan saya,” cerita Zai. Saat itu dia merasa apa yang diucapkan dari mulutnya ternyata bisa dijadikan motivasi untuk orang lain.
Zai kini telah ‘melahirkan’ dua buku yaitu 5 Things I Love About Being A Woman dan Turn Your Passion into Profit. Zai Miztiq merangkum perjalanan hidup, refleksi mental, dan strategi suksesnya ke dalam sebuah buku yang mudah dicerna oleh pembaca dari berbagai latar belakang. Gaya tulisannya mengalir, personal, dan penuh insight. Tidak hanya berbicara tentang pencapaian, Zai juga jujur membahas kegagalan, proses jatuh-bangun, dan cara ia membangun mentalitas yang lebih kuat.
Buku ini mendapat sambutan hangat karena relevan dengan realitas anak muda dan profesional masa kini yang ingin berkembang tanpa kehilangan arah.
Di dunia bisnis, Zai Miztiq membuktikan bahwa kreativitas dapat bersatu dengan strategi. Ia mengembangkan brand dan platform yang fokus pada pengembangan diri, gaya hidup, serta personal branding. Dalam bisnisnya, Zai menerapkan nilai-nilai yang sama dengan yang ia bagikan kepada audiens: konsistensi, keaslian, dan visi jangka panjang.
Selain platform Step Up Journey, Zai juga mendirikan perusahan diamond, Diamond Women Network. “Kami bangun bisnis ini di Dubai, dan Dubai itu suka yang bling-bing,” tutup Zai yang menyukai masakan Indonesia, terutama sambal pete. (evi)









![[CES 2026] Pendamping yang Memperhatikan Kesehatan dan Keamanan Keluarga](https://indonesiatripnews.com/files/2026/01/SAM1-218x150.jpg)


































