- iklan -

JAKARTA, ITN – Setelah menyelesaikan program musik musim panas intensif di Paris dan tampil di salah satu festival musik klasik ternama di ibu kota Prancis, pianis Indonesia Michael Anthony Kwok, Pemenang Hadiah Utama Ananda Sukarlan Award (ASA) 2025, telah kembali ke Indonesia dengan pengalaman seni yang menandai tonggak penting dalam perjalanan musiknya. 

Keterlibatannya di Prancis merupakan pencapaian terbaru dari kemitraan jangka panjang antara Kedutaan Besar Prancis di Indonesia – Institut français d’Indonésie (IFI) dan Ananda Sukarlan Center (ASC), yang sejak tahun 2014 telah berkomitmen untuk membina generasi penerus musisi klasik Indonesia melalui mobilitas seni, pertukaran pengetahuan, dan kerja sama budaya. 

-iklan-

Selama lebih dari satu dekade, IFI dan ASC telah bekerja sama untuk memberikan akses kepada musisi muda Indonesia ke ekosistem musik Prancis yang terkenal secara internasional. Selain menjadi venue babak final Ananda Sukarlan Award di IFI Jakarta, IFI juga telah memberikan beasiswa kursus musim panas tahunan di Prancis kepada Pemenang Hadiah Utama kompetisi tersebut sejak tahun 2014.

Kemitraan ini memasuki fase baru pada tahun 2025 dengan penandatanganan perjanjian kerja sama yang diperbarui serta penyelenggaraan masterclass eksklusif yang dipandu oleh Trio Saint-Saëns-pemain biola Éric Lacrouts, pemain cello Fabrice Loyal, dan pianis Orlando Bass-yang berbagi keahlian mereka dengan para finalis ASA dan musisi muda Indonesia. 

From Jakarta to Paris: Ananda Sukarlan Award dan IFI Bersama Dukung Bakat Muda Indonesia

Sebagai Pemenang ASA 2025, Michael Anthony Kwok-untuk pertama kalinya dalam sejarah Ananda Sukarlan Award, pemenangnya adalah penyandang spektrum autisme-ikut serta dalam program seni ini dengan melakukan perjalanan ke Paris pada 14 hingga 20 Juni 2026. Dengan dukungan dari Kedutaan Besar Prancis – IFI, ia mengikuti program intensif di Conservatoire Municipal Charles Munch, di mana ia menjelajahi kekayaan repertoar piano Prancis abad ke-20 melalui enam sesi privat bersama tiga pianis ternama asal Prancis. 

Sepanjang program tersebut, Michael belajar dengan Orlando Bass dalam hal teknik piano dan interpretasi musik, dengan Isabelle Dubuis dalam mengkaji karya-karya Maurice Ravel, serta dengan Éric Le Sage-pemenang Kompetisi Piano Robert Schumann 1989-dalam mengkaji karya-karya piano Francis Poulenc dan Claude Debussy. Selain penyempurnaan teknis, program ini juga menawarkan pengalaman imersi ke dalam tradisi seni yang telah membentuk musik klasik Prancis selama beberapa generasi. 

Pengalaman tersebut mencapai puncaknya dengan undangan yang diterima Michael untuk tampil di Festival Fièvres Musicales di Paris pada tanggal 17 dan 18 Juni 2026. Selama festival tersebut, ia membawakan karya Maurice Ravel berjudul Le Tombeau de Couperin, sebuah karya yang telah ia pelajari selama masa residensinya di Paris, bersama dengan Rapsodia Nusantara No. 44 karya Ananda Sukarlan, yang diciptakan khusus untuknya. Dengan memadukan melodi lagu folk Indonesia Potong Bebek Angsa dengan referensi tradisi klasik Eropa, karya tersebut secara indah menggambarkan dialog antara budaya musik Indonesia dan Prancis. Penampilannya disambut hangat oleh penonton dan mencerminkan dampak nyata dari pertukaran seni internasional. 

Prancis telah lama diakui sebagai salah satu pusat musik klasik terkemuka di dunia. Mulai dari para maestro musik Barok abad ke-17 dan ke-18 seperti Lully dan Rameau, hingga Claude Debussy-yang mana pertemuannya dengan gamelan Jawa telah memengaruhi musiknya-serta Maurice Ravel, Gabriel Fauré, dan Francis Poulenc, para komposer Prancis telah memainkan peran krusial dalam sejarah musik klasik. Saat ini, Prancis terus memelihara warisan ini melalui konservatori-konservatori bergengsi, festival, dan lembaga-lembaga budayanya, serta menyambut musisi-musisi berbakat dari seluruh dunia. 

Baca juga: https://indonesiatripnews.com/ulasan-menarik/kementerian-ekraf-perkuat-diplomasi-fesyen-indonesia-prancis-lewat-pintu-residency/

Baca juga: https://indonesiatripnews.com/hiburan/fete-de-la-musique-2026-gema-musik-di-seluruh-indonesia-bersama-musisi-prancis-violet-indigo/

Melalui kemitraan dengan Ananda Sukarlan Center, Kedutaan Besar Prancis – IFI berupaya memperkuat pertukaran seni antara Prancis dan Indonesia, sekaligus memberikan kesempatan kepada musisi muda Indonesia yang menjanjikan untuk belajar, tampil, dan berinteraksi dengan seniman serta lembaga yang diakui secara internasional. 

Perjalanan Michael Anthony Kwok menunjukkan bagaimana kerja sama budaya dapat menciptakan peluang yang bermakna bagi para talenta muda. Dengan berinvestasi pada mobilitas seni, pertukaran pengetahuan, dan kemitraan kelembagaan jangka panjang, Prancis dan Indonesia terus mempererat persahabatan antara kedua negara melalui budaya, pendidikan, dan kreativitas. 

- iklan -