JAKARTA, ITN- Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno mengajak Asosiasi Galeri Seni Rupa Indonesia (AGSI) untuk berkolaborasi serta mendukung pengembangan subsektor seni rupa untuk meningkatkan kinerja sektor ekonomi kreatif tanah air.

Dalam webinar yang bertajuk “Peran Pemerintah Dalam Mendukung Galeri Seni Rupa untuk Meningkatkan Ekonomi Kreatif Indonesia”, Menparekraf Sandiaga mengatakan diperlukan tiga pilar utama dalam menjalankan program pemerintah yaitu inovasi, adaptasi, dan kolaborasi.

“Karena saya melihat jika tidak ada keterlibatan dari komunitas, dunia usaha, institusi pendidikan, ataupun media, banyak sekali program-program pemerintah yang nantinya tidak bisa berjalan optimal,” ujar Sandiaga, Sabtu (8/5/2021).

Lebih lanjut, Sandiaga menuturkan akan membuat sebuah working group, dimana ada perwakilan dari manajemen AGSI untuk ikut serta memberikan arahan dan masukan terkait pengembangan subsektor seni rupa.

Selain itu, Sandiaga menjelaskan terdapat dua creative hub yang sedang dikembangkan, yaitu di Samosir dan di Labuan Bajo yang sedang dalam tahap finalisasi. Komunitas AGSI ini diharapkan bisa membantu memaksimalkan potensi untuk menciptakan ekosistem ekonomi kreatif, yang mampu menghadirkan soul dari seni rupa itu sendiri.

“Ini menjadi awal yang baik untuk kita bergandengan tangan, bersama-sama, karena saya yakin there is always possibility, kalau kita sama-sama mencurahkan our best effort untuk menghadapi dinamisme yang terjadi serta menangkap peluang yang ada. Karena seni rupa memiliki nilai tambah yang luar biasa dan tidak bisa di pandang sebelah mata,” jelasnya.

Berdasarkan data yang dihimpun dalam Opus Creative Economy Outlook tahun 2019, sektor ekonomi kreatif memberikan kontribusi sebesar Rp1,105 triliun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Hal ini menjadikan Indonesia berada di urutan ketiga setelah Amerika Serikat dan Korea Selatan, dalam jumlah kontribusi sektor ekonomi kreatif terhadap PDB negara.

Meskipun relatif tidak sesignifikan subsektor ekonomi kreatif lainnya, seperti kuliner, fesyen, dan kriya, namun seni rupa di Indonesia berkontribusi sebesar Rp2,03 triliun terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) dan terdata sebanyak 17.000 unit usaha yang bergerak di bidang seni rupa. Ini membuktikan seni rupa juga mampu menciptakan lapangan kerja bagi para seniman dan pihak-pihak yang terlibat di dalamnya seperti institusi budaya, penyelenggara event seni, dan masyarakat sekitar.

Acara webinar ini dihadiri oleh Ketua AGSI dan Pemilik Artsphere Gallery Maya Sujatmiko, Kolektor Seni dan Pemilik Semarang Gallery Christianto Dharmawan, Direktur dan Pemilik Lawangwangi Creative Space Andonowati, Kolektor Seni dan Arsitek Cosmas D. Gozali, Founder dan CEO Artotel Group Erastus Radjimin, dan Auctioneer dan Direktur Puri Art Gallery Yuanita Sawitri.

Pada kesempatan itu, Kolektor Seni dan Pemilik Semarang Gallery Christianto Dharmawan, menjelaskan seni rupa di negara-negara regional Asia sudah semakin maju, hal ini dikarenakan sudah mempunyai infrasturktur yang lebih tetap. Infrastruktur yang dimaksud adalah seniman, kolektor, galeri, lelang, pasar, kurator, kritik seni, media masa, serta peran pemerintah dalam membangun museum.

“Museum ini sangat penting untuk didirikan. Kalau kita lihat di Indonesia ini setiap tahunnya banyak seniman yang bermunculan, serta banyak sekali kolektor potensial yang siap mengapresiasi, tapi acuannya belum ada, seperti mencari standar produk seni seperti apa yang pantas dibeli, kemudian kualitas seperti apa yang akan dikoleksi. Itu adalah fungsi dari museum. Jadi, museum sebagai alat untuk memberikan edukasi kepada kolektor, dan juga menjadi tolak ukur bagi seniman, sejauh mana kualitas karya yang pantas masuk ke dalam museum,” jelas Chris.

Lebih lanjut Chris mengungkapkan pemerintah harus segera menginisiasi untuk membangun atau membuat sebuah museum. Sebetulnya pembangunan museum ini tidak perlu menggunakan bangunan baru, seperti misalnya di Jakarta ada Kota Tua, terdapat bangunan-bangunan yang bisa di renovasi dan dikonservasi menjadi museum. Selain itu, di Semarang ada Kota Lama, yang terdapat aset pemerintah kota Semarang yang sampai saat ini belum digunakan dan bisa dikerjasamakan menjadi museum.

“Museum ini akan menjadi satu tonggak kebudayaan yang berhubungan dengan peradaban suatu bangsa,” ungkap Chris.