SAMOSIR, ITN- MENGIKUTI kegiatan para peserta lomba lari di event Samosir Lake Toba Ultra Marathon 2016 yang digelar di Resort Sitio-tio, Pangururan, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, Sabtu (17/9/16) tentu saja banyak perjalanan yang memanjakan mata, baik alam dan kekayaan budaya lokal.

Danau Toba tak seperti yang saya bayangkan ketika dua tahun terakhir berkunjung ke tempat ini. Udaranya yang sejuk dan bersihnya jalanan membuat lebih nyaman berjalan di pinggiran Danau Toba.

00001aasamosir1Destinasi wisata pertama yang menjadi perhatian mata, jatuh kepada sebuah bangunan di tengah lapangan hijau yang luas, yang bernama Batu Hoban.

Batu Hoban ini terletak sekitar 15 kilometer dari Pangururan, Desa Limbong Sagala, Kecamatan Sianjur Mula-Mula, Kabupaten Samosir, atau tepatnya di Pusuk Buhit.

Pusuk Buhit, merupakan sebuah gunung yang terbentuk akibat sisa letusan Gunung Toba yang memiliki tinggi berkisar 1.800 Mdpl. Saat ini wilayah Pusuk Buhit dikelilingi tiga kecamatan, yakni Sianjur mula-mula, Pangururan, dan  Harian Boho.

Saat mendekat ternyata ada beberapa pengunjung dan pemimpin adat yang sedang berdoa dan melakukan ritual keagamaan.

Pimpinan adat yang terlihat di mulutnya mengunyah sirih merah tampak membagikan sirih tersebut kepada seorang wanita setengah baya, lalu sirih tersebut dikunyahnya. Tak lama ia juga menyemburkan sirih yang dikunyahnya  ke kening pengunjung lainnya.

Pimpinan adat . (Foto evi)
Pimpinan adat . (Foto evi)

“Kami datang kesini meminta berkah kepada opung kami, semoga apa yang kita angan-angankan tercapai, sebelum Tuhan mendengarkan doa kita melalui opung di sini. Kami datang kemari tidak ditentukan, kedatangan kami disini merupakan panggilan,” ujar Rosmina Samosir yang datang dari Medan kepada ITN.Com.

Menurutnya ia datang ke tempat itu tidak diminta sesuatu apapun. “Yang dibawa kesini hanya hati yang bersih, dan jeruk purut serta sirih selengkapnya,” ungkap Rosmina lebih lanjut.

Hobon dalam bahasa Batak artinya peti. Batu ini berdiameter sekitar satu meter dengan bagian bawah berongga. Dulunya di tempat ini kerap diadakan upacara sakral yang masih berlanjut hingga sekarang. Upacara itu diyakini sebagai penghormatan pada roh leluhur sekaligus menerima pewahyuan dari nenek moyang, dikenal dengan sebutan “Tatea Bulan”.

Rumah Bolon

Selesai berhenti di Batu Hoban, perjalanan dilanjutkan dengan melihat Rumah Bolon yang terletak di Sianjur Mula-mula dan atraksi budaya yang dibawakan tujuh gadis cantik. “Mereka disini membawakan tarian Tortor Pangurason,” ujar Kepala Desa Hutaginjang dan pelatih tari Sanggar Tari Karangtaruna Huta Ginjang, Marjon Sagala (46 th).

00001aasamosirrmh“Dulu rumah Bolon itu keharusan untuk dibangun, namun saat ini sudah tidak menjadi keharusan, sudah banyak rumah moderen karena biaya membangun sebuah rumah Bolon itu mahal. Satu rumah Bolon biayanya empat kali rumah moderen, satu rumah Bolon bisa ratusan juta biayanya,” ungkapnya.

Menurutnya yang membuat mahal itu kayunya, yakni menggunakan kayu hutan meranti batu. “Kalau rumah biasa hanya menggunakan satu atap seng, rumah bolon bisa tiga seng. Dahulu yang punya rumah Bolon dianggap paling mampu,” ujarnya.

Bentuk rumah Bolon ada aturan khusus, pemasangan tiang-tiangnya ada ritualnya. Seperti tiang tengah di dalam tidak boleh sejajar dengan pintu. Sebelum bangun rumah, harus buat tepung beras, kelapa, dsb. Kemudian juga ada ritual pasang atap yang biasanya pisang digantung.

Ia mengatakan, “Kalau rumah Bolon pintu masuknya dari  bawah dan kanan kirinya ada sumbaho (tiang penyangga besar)”.

Marjon (tengah) bersama penari binaannya. (Foto.evi)
Marjon (tengah) bersama penari binaannya. (Foto.evi)

“Desain pintu pada rumah adat orang Batak sengaja dibuat rendah mengandung filosofi bahwa tamu akan menunduk saat memasuki Rumah Adat Bolon tersebut sebagai tanda bahwa pengunjung menghargai dan menghormati pemiliki rumah,” ujar Marjon menambahkan.

Pasar Souvenir Tomok dan Tortor Sigale-gale

Selesai memanjakan mata dengan melihat Batu Hobon dan Rumah Bolon, pasar souvernir di Desa Tomok dan pertunjukan Tortor Sigale-gale menjadi perjalanan selanjutnya yang menyenangkan hati.

Deretan toko souvenir di Desa Tomok yang menjual kerajinan khas Batak. (Foto. evi)
Deretan toko souvenir di Desa Tomok yang menjual kerajinan khas Batak. (Foto. evi)

Desa Tomok terletak kira-kira 45 Km dari Pangururan dan perjalanan sekitar 45 menit menyeberang kapal Fery dari Parapat.

Tempat ini merupakan pusat souvenir dan kerajinan tangan di Samosir, berbagai jenis souvenir dengan beragam harga ditawarkan kepada wisatawan, seperti kerajinan tangan, batik ulos, ulos, gantungan kunci, ukiran-ukiran kecil, miniatur rumah Batak, ikan asin, hingga menikmati durian.

Mengikuti pertunjukan Sigale-gale di Desa Wisasta Tomok. (Foto. Humas Kemenpar)
Mengikuti pertunjukan Sigale-gale di Desa Wisasta Tomok. (Foto. Humas Kemenpar)

Pertunjukan patung Sigale-gale menari di Desa Tomok termasuk atraksi wisata andalan untuk menarik wisatawan. Bersama pimpinan tortor Sigale-gale, saya dan sembilan peserta lainnya dari Biro Hukum dan Humas Komunikasi Publik Kementerian Pariwisata akhirnya mengikuti tortor Sigale-gale yang memakan waktu kurang lebih satu jam.

Pemimpin Tortor sebelumnya menceritakan cerita di balik Patung Sigale-gale. Patung atau sering juga disebut boneka Sigale-gale terbuat dari kayu yang dibuat untuk membahagiakan Raja Rahat, seorang raja dari salah satu kerajaan di Pulau Samosir yang dikelilingi Danau Toba.

00001aasgale
Patung Sigale-gale (Foto. evi)

Pada masanya, Raja Rahat memiliki seorang putra bernama Raja Manggale. Suatu ketika, sang raja mengirim putranya untuk berperang. Namun, Si Raja Manggale tumbang di medan perang. Tragisnya lagi, jenazahnya tak ditemukan. Raja Rahat sedih kehilangan putra semata wayang yang akan mewarisi kerajaannya, tersungkur melawan musuhnya.

Kemudian, Raja pun akhirnya jatuh sakit karena selalu memikirkan anaknya. Akhirnya para dukun membuat patung mirip Manggale. Lalu dipanggi rohnya sehingga bisa menggerak-gerakkan tangannya. Perlahan sang raja mulai pulih dari sakit. Sejak saat itu, orang Batak menyebut boneka itu sebagai Sigale-gale atau si lemas-lemas.

Dalam pertunjukan tersebut, saya dan peserta Tortor lainnya diminta memakai ikat kepala dan kain ulos, setelah itu pertunjukan dimulai dengan diiringi musik Sordam dan Gondang Sabangunan.

0001aasamosirpersSesekali saya mencoba melirik patung Sigale-gale tersebut yang pada awalnya saya memang rada takut, tapi ternyata terlihat jelas kalau patung yang dalam pertunjukan ini tidak dimasuki roh, melainkan  patung kayu tersebut hanya digerakkan dengan sistem penggerak mekanis, dan diakhir pertunjukan peserta Tortor diminta mengisi kotak amal. (evi)