JAKARTA, ITN – Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) bergerak cepat mendorong pemulihan ekonomi daerah pascabencana di Sumatera Barat. Melalui workshop dalam lingkup program Ekraf Peduli ‘Pulih Bersama, Bangkit Berdaya’, Wamen Ekraf pun mengajak meningkatkan nilai tambah produk lokal subsektor kuliner, kriya, dan fesyen agar mampu menembus pasar internasional.
Saat memberi sambutan dalam kegiatan Workshop Desain Kemasan di Bukittinggi, Sumatera Barat pada Kamis (27/08), Wamen Ekraf menyebut desain bukan hanya sebagai alat untuk memperindah produk, tetapi sebagai strategi untuk memperkuat identitas, meningkatkan daya saing, membuka pasar, dan membangun kembali ekonomi masyarakat.

“Peran kemasan bukan sekadar pembungkus produk, tetapi merupakan bagian dari identitas merek, media komunikasi dengan konsumen, sekaligus salah satu faktor yang dapat mempengaruhi persepsi dan keputusan pembelian. Yang paling penting juga yaitu Keunikan budaya dan keunggulan cerita atau storytelling yang kita miliki merupakan kunci utama serta keunikan produk atau Unique Selling Proposition bagi pertumbuhan ekonomi kreatif Indonesia di kancah global, karena Ke depannya, konsumen tidak lagi sekadar membeli sebuah produk fisik, melainkan membeli nilai dan kisah menarik yang menyertainya sebagai daya tarik utama,”ujar Irene Umar.
Kota Bukittinggi merupakan salah satu wilayah terdampak banjir yang memiliki potensi ekosistem ekonomi kreatif sangat beragam, mulai dari kuliner, kriya, fesyen, hingga seni budaya. Mengingat ekonomi kreatif saat ini diposisikan sebagai mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional yang dimulai dari daerah, Kementerian Ekraf berkomitmen menjaga keberlangsungan aktivitas ekonomi masyarakat agar pelaku usaha tetap produktif menghasilkan produk lokal berdaya saing tinggi.
“Ingat satu hal, potensi karya lokal yang sering kali dianggap biasa oleh pemiliknya justru memiliki nilai estetika luar biasa saat dilihat dari sudut pandang audiens luas. Pemerintah siap membukakan jalur distribusi global ke seluruh dunia, namun para pelaku usaha harus terlebih dahulu siap membawa cerita unik dari setiap produk mereka. Workshop inipun tidak berhenti pada peningkatan kemampuan desain semata, tetapi menjadi bagian dari upaya untuk memperkuat ketahanan, keberlanjutan, dan daya saing usaha ekonomi kreatif pascabencana,” tegas Irene Umar.
Kegiatan yang diinisiasi oleh Direktorat Arsitektur dan Desain Kementerian Ekraf berkolaborasi dengan Kementerian Perdagangan juga Pemerintah Kota Bukittinggi ini merupakan aksi nyata pemulihan ekonomi di daerah terdampak bencana. Sebanyak 50 pelaku subsektor kuliner, kriya, dan fesyen membawa langsung produk beserta kemasan mereka untuk dievaluasi serta dibahas secara interaktif selama pelatihan berlangsung.
Pelatihan intensif ini berlangsung selama satu hari penuh dengan membedah materi, studi kasus, praktik hingga simulasi perancangan desain kemasan dan pemberian umpan balik terhadap desain kemasan peserta. Sebagai bentuk dukungan konkret, lima desain kemasan peserta terbaik akan mendapatkan fasilitas redesign langsung melalui Klinik Desain Kementerian Perdagangan.
“Saya sangat terbantu dan senang sekali bisa berkonsultasi mengenai kemasan yang menarik secara gratis. Terima kasih kepada Kementerian Ekraf yang telah memfasilitasi acara ini. Wawasan saya mengenai pentingnya kemasan yang menarik untuk meningkatkan jual beli kini bertambah, dan semoga ini bisa menaikkan omset produk ‘Kue Mangkuak Neti’ saya dari yang biasa menjadi jauh luar biasa,” ujar peserta Workshop Desain Kemasan, Netti Herawati.
Kegiatan ini dihadiri oleh Wali Kota Bukittinggi, Muhammad Ramlan Nurmatias; Asisten Perekonomian dan Pembangunan Kota Bukittinggi, Dedi Syafrizal; Kepala Dinas Pariwisata Kota Bukittinggi, Rofie Hendria; Kepala Dinas Koperasi, UKM dan Tenaga Kerja Kota Bukittinggi, El Qadri; Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Bukittinggi, Herriman; Kepala Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah Kota Bukittinggi, Emilia Gustia.
Sementara Wamen Ekraf didampingi oleh Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain, Yuke Sri Rahayu; Staf Khusus Bidang Penguatan Ekosistem Ekonomi Kreatif dan Data, Jago Anggara; serta Direktur Arsitektur dan Desain, Sabar Norma Megawati Panjaitan.











































