JAKARTA, ITN- DANAU merupakan salah satu kekayaan alam yang belum mendapat perhatian khusus namun memiliki potensi besar bagi bangsa Indonesia. Dari total 840 danau besar, dan 735 danau kecil di Indonesia, Presiden Jokowi telah menetapkan 15 danau yang menjadi prioritas yakni Danau Toba, Danau Singkarak, Danau Maninjau, Danau Kerinci, Danau Rawa Pening, Danau Batur, Rawa Danau, Danau Sentarum, Danau Kaskade Mahakam, Danau Tempe, Danau Tondano, Danau Matano, Danau Poso, Danau Sentani, serta Danau Limboto.

“Pengembangan danau untuk pariwisata harus didukung oleh unsur3A yakni aksesibilitas, amenitas dan atraksi,” ujar Deputi Bidang Pengembangan Destinasi Kementerian Pariwisata, Dadang Rizki Ratman dalam seminar perihal Pengembangan 15 Danau Prioritas sebagai Destinasi Pariwisata di Hotel Teras Kita by Dafam, Cawang, Jakarta Selatan, Rabu (17/7/19).

Bila terpenuhi menurutnya aspek pariwisata akan berjalan dan memberi dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Ini memerlukan kerja bareng antar instansi. Khusus untuk amenitas cara yang paling cepat dan murah adalah membangun penginapan sejenis glamping.

“Danau Toba sedang dirintis nomadic tourism. Tidak perlu bangun hotel yang mungkin saja memakan banyak biaya dan juga polusi, tapi pengembangan wisata bisa mengarah ke glamping dan karavan, selain lebih instagramable,” ujar Dadang Rizki Ratman.

Dadang Rizki Ratman dalam seminar perihal Pengembangan 15 Danau Prioritas sebagai Destinasi Pariwisata

Untuk atraksi Dadang pun setuju bahwa digelarnya festival di danau akan mendorong lebih meningkatnya kunjungan wisatawan misalnya Festival Danau Toba, Festival Danau Sentani yang sudah menjadi agenda tahunan dan berjalan sukses menjaring wisatawan bahkan sampai manca negara.

Namun di sisi lain sebagai dampak dari fungsi ekonomi di danau, aspek lingkungan juga harus diperhatikan sehingga tetap tidak merusak lingkungan melalui pengelolaan yang benar.

Dadang mengatakan, “Danau harus bisa memberi manfaat dan nilai ekonomi untuk masyarakat sekitar, dan pelancong pun bisa menikmati alam tanpa merusak danau, ini namanya ekonomi berkelanjutan”.

Menurutnya saat ini danau yang paling siap untuk dikembangkan pariwisata dengan lingkungan alam yang tetap terjaga di antaranya ada Maninjau, Kerinci, Rawa Pening, Sentarum, dan Tondano.

“Kalau daerah lain yang punya danau dan ingin mengembangkan wisatanya akan kita dorong, akan difasilitasi,” ujarnya lebih lanjut.

Sementara itu Deputi Kemaritiman Direktur Kehutanan dan Konservasi Sumber Daya Air Nur Hygiawiati Rahayu mengungkapkan bahwa pemanfaatan danau sangat penting dan 15 di antaranya terbilang perlu dikembangkan karena ikut menjadi salah satu penyedia air tawar untuk lingkungan setempat.

Ia mengatakan, “Tahun 2045 diperkirakan danau-danau di Pulau Jawa akan menjadi solusi suplai air tawar terbaik untuk sekitarnya. Peningkatan kebutuhan lahan untuk pertanian tahun 2045 atau 100 tahun Indonesia merdeka akan berdampak signifikan pada pasokan air tawar yang datang dari danau karena pohon-pohon di hutan pun akan menurun luasnya sebagai penyuplai air”.

Secara keseluruhan menurutnya atraksi memang perlu ada, tapi juga perlu dipertimbangkan aspek amenitas. Daya tampung danau perlu ditinjau. Salah satunya yang bisa menarik kemajuan ekonomi bisa dicapai lewat ekowisata yang ikut menyumbang percepatan ekonomi. Tapi perlu berhati-hati agar tidak merusak alam.

“Di Indonesia, contohnya ada Danau Sentarum yang dipakai sebagai wilayah konservasi saat ini. Sedangkan Limboto perlu dipulihkan supaya ke depannya bisa dikembangkan lagi sebagai bagian dari pariwisata,” jelasnya.

Sementara itu, Staf ahli Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Bidang Hubungan Antar Lembaga Pusat dan Daerah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Prof Winarni D Monoarfa menjelaskan, “Jika danau disentuh aspek wisata, akan ada banyak manfaat untuk masyarakat sekitar, salah satunya pemanfaatan eceng gondok jadi pupuk dan biogas atau sebagai suvenir merupakan solusi agar masyarakat bisa menikmati danau tanpa merusak”.

“Kita perlu mewaspadai akibat pendangkalan danau karena banyak ikan endemik yang ikut hilang, sebuah kerugian besar,” jelasnya. Baginya, pengembangan pariwisata dengan danau pun bisa dikembangkan dengan berbagai festival menarik, seperti adanya Festival Danau Toba yang telah berjalan puluhan tahun dan juga pada September mendatang ada Festival Danau Matano.

Terakhir, Kepala Bidang Danau Situ dan Embung Direktorat Bendungan Ditjen Sumber Daya Air Naswardi mengatakan pengembangan danau prioritas terus dilakukan, salah satu contohnya Danau Toba. Di mana, dilakukan pelebaran alur lebih lebar agar nantinya kapal besar bisa mengelilingi danau.

Selanjutnya, ada penambahan jembatan tahun depan untuk akses memudahkan ke wilayah yang melingkupi Danau Toba sebanyak tujuh kabupaten.

“Danau Toba yang merupakan kaldera raksasa di dunia dan termasuk salah satu yang diusulkan pemerintah sebagai UNESCO Geopark baru dikenal sebagai tempat wisata tapi oleh masyarakat sekitar masih dimanfaatkan secara iliar tanpa memperhatikan lingkungan,” tambahnya. (evi)

Foto. Danau Toba (Tommi Sembiring)