JAKARTA, Indonesiatripnews.com: FILM-film Indonesia semakin memberikan warna baru untuk menjadi tontonan yang menarik, salah satunya dengan hadirnya film terbaru berjudul Surat dari Praha.

Film yang dibintangi Tio Pakusadewo, Julie Estelle, Widyawati tersebut mengungkap kisah seorang mahasiswa dinas di Praha yang kehilangan kewarganegaraanya karena menolak orde baru. Dia pun terpaksa menjalani hidup di pengasingan sebagai orang buangan (eksil).

“Film tersebut adalah perjalanan kreatif yang kontemplatif. Ia pun bertemu langsung dengan para eksil yang sudah berusia senja namun masih mampu bercerita dengan detail dan emosional tentang pengalaman mereka selama berstatus stateless (tak memiliki negara),” ujar Sutradara Surat dari Praha, Angga Dwimas Sasonggko saat jumpa pers film Surat dari Praha di Jakarta, Senin (25/1/16).

Menurut Angga, film ini merupakan sebuah pengalaman luar biasa dalam menelusuri sejarah Indonesia yang jarang diperbincangkan dengan melibatkan tiga orang eksil yang berada di Praha. Ketiganya termasuk di antara 12 orang Indonesia yang menjalani pengasingan di Praha, ibu kota Republik Ceska (dulu Cekoslowakia).

Tidak hanya mengungkap kehidupan orang Indonesia di pengasingan, film tersebut juga menyuguhkan beberapa hal berbeda dari para pemain yang terlibat dalam film tersebut. Misalnya saja keterlibatan Chicco Jerikho yang tidak hanya sebagai aktor tapi juga menjadi produser untuk pertama kalinya. Ada pula Julie Estelle yang juga harus bernyanyi dan mahir bermian piano.

“Dengan kisah yang lebih ringan, diiringi musik dan kisah cinta diharapkan film yang mulai tayang di bioskop pada 28 Januari 2016 ini bisa menjadi alternatif sejarah bagi para generasi muda,” ungkapnya.

Sinopsis

Film diibuka dengan kisah Sulastri (Widyawati) yang meninggalkan sepucuk surat kepada putrinya Larasati (Julie Estelle) untuk diantarkan kepada Jaya (Tyo Pakusadewo) yang kehilangan kewarganegaraanya karena menolak orde baru. Surat tersebut sebagai syarat Larasati untuk bisa mewarisi harta peninggalan Sulastri.

Setibanya di Praha, bukanlah hal mudah bagi Larasari meminta Jaya menerima surat itu. Sebab, bagi Jaya hal itu sama saja membuka luka masa lalu, mulai dari kisah cinta hingga pengalaman pahit ketika mengalami ketidakadilan pada masa orde baru.