JAKARTA, ITN- Banyak orang menganggap keuangan itu tidak perlu dikelola biar mengalir begitu saja, tapi kemudian di masa tua kebingungan sendiri ketika mengetahui tidak ada cukup uang untuk memenuhi kebutuhan anak-anak, ataupun untuk mencukupi pengeluaran yang tidak terduga. Amit-amit menjadi poor dad atau poor parents (orang tua miskin) saat tua, jangan sampai terjadi ya!

Artinya mengatur keuangan saat produktif memang sangat penting. Mereka harus paham bagaimana mencapai tujuan finansial, dan hal itu dapat terlihat dari bagaimana mereka membelanjakan dana untuk kebutuhan yang benar-benar bermanfaat, memiliki dana darurat, bahkan saving dan investasi di masa depan sesuai dengan kebutuhan. Porsi pengeluarannya tidak akan melebihi penghasilan, sehingga orang-orang yang memahami tujuan finansial ini akan selalu memiliki dana untuk saving, proteksi maupun investasi.

Menurut Jeffrey Kie, Chief Agency Officer PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia, biasanya ada beberapa faktor yang membuat seseorang kesulitan mengatur keuangan, yaitu tidak ada komitmen dan tujuan finansial yang kuat. Kemudian pengeluaran lebih besar daripada penghasilan, misalnya akibat gaya hidup berlebihan dan mudah tergiur untuk memuaskan nasfu berbelanja.

“Jika hal ini dibiarkan berapapun penghasilan yang kita dapatkan tidak akan pernah cukup untuk membiayai kebutuhan kita terlebih kebutuhan di masa depan,” ucap Jeffrey Kie kepada indonesiatripnews.com, di Jakarta, Jumat (10/9/2021).

Kesulitan juga disebabkan kebiasaan menunda untuk menabung sehingga tidak memiliki simpanan untuk masa depan maupun untuk kebutuhan yang mendesak, tidak memiliki anggaran keuangan. Tanpa disadari, baru awal bulan, gaji sudah habis tak bersisa. Karena itu, disarankan agar membiasakan diri untuk memiliki perencanaan keuangan sehingga gaji dapat dibagi sesuai pos-pos finansial yang sesuai kebutuhan untuk sebulan kedepan.

Tidak hanya itu, tidak memisahkan rekening tabungan dan kebutuhan sehari-hari, juga berdampak serius loh, karena hal ini dapat membuat keuangan kita tidak terencana dengan baik dan potensi kebocoran finansial pun akan semakin besar. Sebaiknya pisahkan rekening tabungan dan kebutuhan agar tujuan fnansial dapat tercapai.

Tips Mengatur Keuangan

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah usia produktif Indonesia atau yang berusia 15-64 tahun pada 2020 mencapai 68,75 persen dari total populasi atau sekitar 185,34 juta jiwa. Angka ini merupakan angka yang cukup besar sebagai penggerak perekonomian Indonesia. Bahkan diproyeksikan Indonesia akan mengalami masa gemilang bonus demokrafi hingga 2045 dengan jumlah penduduk usia produktif lebih banyak dibandingkan penduduk tidak produktif.

image: pixabay

Tapi, banyaknya penduduk usia produktif ini bukan hanya bisa membawa Indonesia untuk menjadi negara maju. Namun di sisi lain ternyata masa ini bisa hilang karena beberapa hal, salah satunya adalah gaya hidup masyarakat Indonesia sendiri yang kurang sehat yang justru mendorong mereka tidak produktif, atau ketidakmampuan dalam mengelola keuangan mereka dengan baik, serta ketidakmampuan dalam memaksimalkan potensi yang ada.

“Salah satu persoalan yang menjadi tantangan bagi generasi muda kita saat ini adalah bagaimana mereka memiliki gaya hidup sehat, tidak lagi bertahan dengan prinsip ‘hidup hanya sekali maka lakukan apa saja yang kamu suka’ bahkan yang tidak sehatpun. Saya selalu ingatkan itu kepada anak-anak saya. Kemudian mengatur uang dengan baik, perlu komitmen, sebab waktu ini cepat sekali berlalu,” kata Vivi Rosmala, seorang ibu rumah tangga di Depok.

Menurut Vivi, dirinya seringkali dibuat jengkel dengan kelakuan anak perempuannya yang kini sudah mulai bekerja, karena tidak bisa membedakan mana kebutuhan yang harus dipenuhi atau kebutuhan dan mana yang hanya sekadar keinginan. “Banyak uang yang keluar untuk hal-hal yang sifatnya bukan kebutuhan, dan dia bisa saving money atau investasi, atau ikut asuransi misalnya,” sambungnya.

Betul, mengatur keuangan memang membutuhkan komitmen yang kuat, serta tindakan nyata yang diterapkan secara konsisten dan berkelanjutan. Menurut Jeffrey Kie, para pekerja usia produktif harus konsisten menyisihkan gaji untuk pos-pos keuangan yang ditujukan, seperti halnya dalam melakukan saving dan berinvestasi. Kemudian siapkan pendapatan di awal, dan siapkan dana darurat.

“Tiga tips saya adalah kamu harus punya komitmen kuat, sisihkan pendapatan di awal, dan siapkan dana darurat. Segera sisihkan pendapatkan di awal untuk saving maupun investasi bukan di akhir bulan atau malah menabung dari sisa pendapatan (uang yang sudah dibelanjakan),” ucapnya.

Kemudian bagi mereka yang single dapat memiliki dana darurat sebesar minimal enam kali pengeluaran bulanan. Sementara untuk mereka yang sudah berkeluarga, upayakan tetap miliki dana darurat 12 kali dari pengeluaran bulanan.

“Dana darurat dapat digunakan untuk kebutuhan mendesak, misalnya jika kita terkena Covid-19, lalu harus menjalani isoman maupun perawatan atau bahkan untuk berjaga-jaga untu kebutuhan tak terduga lainnya bisa menggunakan dana tersebut,” kata Jeffrey lagi.

Pandemi Covid-19

Tapi bagaimana mengatur keuangan pada masa pandemi Covid-19 yang cukup menyulitkan saat ini? Apakah ada saran khusus kepada orang-orang muda yang produktif dalam urusan mengatur keuangannya?

Jeffrey mengakui, memang tidak ada yang mengetahui kapan pandemi ini akan berakhir namun orang-orang muda dapat menyikapi dengan bijak langkah apa saja yang diambil terutama terkait pengelolaan finansial. Apa itu? Pertama, sisihkan gaji di awal bukan diakhir untuk saving, maupun investasi. Kedua, upayakan pengeluaran tidak lebih dari 30-40 persen dari penghasilan. Ketiga, Belilah sesuatu karena butuh bukan karena ingin, Keempat, berikan proteksi dari risiko tak terduga di masa depan.

foto.ist

Dalam hal urutan proteksi ini, Jeffrey menyebut Asuransi Manulife juga memberikan perlindungan untuk Covid-19, bahkan salah satu produknya, asuransi Kesehatan, MiUltimate Healthcare (MiUHC), menyediakan manfaat coverage Covid-19 tanpa masa tunggu.

Kelima, hindari cicilan yang melebihi batas aman finansial. Upayakan tidak lebih dari 1/3 penghasilan yang kita miliki. Keenam, tidak ada salahnya untuk mencoba menambah penghasilan dengan skill yang kita punya, salah satunya menjajaki karier sebagai agen Manulife Indonesia dengan potensi penghasilan tanpa batas serta fleksibel, dan dapat dikerjakan dari rumah atau dimana saja.

Pemilihan untuk Asuransi Manulife antara lain karena perusahaan yang memiliki nasabah lebih dari 2 juta di Indonesia, memiliki posisi modal yang solid untuk mendukung kegiatan usahanya dengan tingkat solvabilitas (RBC) sebesar 943 persen atau jauh di atas ketentuan kecukupan modal yang berlaku di sepanjang 2020. Angka ini menunjukkan posisi Manulife yang kuat, sehat dan solid dari segi finansial.

Kemudian, sejak pandemi Covid-19 melanda sekitar hampir 2 tahun terakhir, seiring dengan meningkatnya kebutuhan nasabah akan perlindungan kesehatan, produk yang paling banyak diminati adalah produk asuransi jiwa maupun kesehatan yaitu MiSmart Insurance Solution (MiSSION) dan MiUltimate HealthCare (MiUHC).

Melengkapi kebutuhan nasabah yang beragam, sejak pandemi, Manulife Indonesia telah meluncurkan berbagai solusi melalui inovasi produk asuransi jiwa, kesehatan, penyakit kritis maupun menambah pilihan investasi dana investasi sektor properti. Produk-produk ini dipasarkan melalui saluran distribusi baik, berupa saluran distribusi agen maupun bancassurance.

Pentingnya berasuransi ini karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi besok hari. Atur keuanganmu saat muda, jangan jadi poor parent saat tua ya!. (Yeffi Rahmawati)