- iklan -

JAKARTA, ITN – Seiring dengan berkembangnya layanan berbasis AI, jaringan seluler membutuhkan kinerja lebih tinggi dan otomasi yang lebih cerdas. Ericsson hari ini memperkenalkan AI in RAN, layanan software yang menghadirkan model AI kelas telekomunikasi ke dalam baseband dan radio untuk meningkatkan efisiensi, kinerja, dan penghematan energi.

Penawaran yang dapat diskalakan secara komersial ini memberikan penyedia layanan komunikasi manfaat langsung untuk jaringan 5G dan mendukung peralihan ke RAN berbasis AI tanpa memerlukan software tambahan.

-iklan-

AI in RAN dari Ericsson memperkenalkan:
● Model AI kelas telekomunikasi yang dirancang untuk berjalan secara real-time di dalam  jaringan akses radio (RAN).
● Software yang mampu beradaptasi dan menjadi semakin cerdas berkat dukungan data
berkualitas tinggi yang dapat diolah dalam jumlah besar.
● Dukungan Agentic AI untuk memungkinkan otomasi RAN tingkat lanjut dan operasi
jaringan

Untuk Indonesia, AI in RAN membuka kesempatan bagi penyedia layanan komunikasi
memaksimalkan investasi 5G yang sudah ada melalui peningkatan jaringan berbasis software. Data dari Global System for Mobile Association (GSMA) menunjukkan bahwa kebutuhan investasi untuk pengembangan 5G mencapai 18 miliar dolar AS atau sekitar Rp324 triliun, dan bisa mencapai 50 miliar dolar AS (sekitar Rp 900 triliun) pada 2030 berdasarkan estimasi konservatif.

AI in RAN dari Ericsson menawarkan pendekatan yang lebih efisien dengan memanfaatkan
kecerdasan buatan untuk meningkatkan kinerja jaringan melalui pembaruan berbasis software.

Di Indonesia, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menargetkan jangkauan 5G
mencapai 32 persen pada 2030. Seiring meningkatnya permintaan terhadap konektivitas
berkinerja tinggi di kalangan pelanggan, perusahaan, industri dan aplikasi sektor publik, optimasi jaringan berbasis AI dapat membantu operator meningkatkan efisiensi spektrum, meningkatkan pengalaman pengguna, dan meningkatkan efisiensi energi.

Kemampuan ini dapat mendukung agenda transformasi digital dan perluasan layanan digital di seluruh negeri, termasuk harapan untuk merilis 5G sebelum peringatan kemerdekaan Indonesia tahun ini.

Nora Wahby, President Director Ericsson Indonesia, mengatakan, “AI menjadi pendorong utama inovasi di berbagai industri, dan menciptakan kebutuhan baru untuk konektivitas, kinerja, dan otomasi. Dengan AI in RAN, Ericsson membantu penyedia layanan memanfaatkan AI untuk meningkatkan efisiensi jaringan dan relevansi jangka panjang, serta membantu operator memenuhi permintaan data yang lebih besar di tengah tantangan investasi. Kemampuan ini juga diharapkan mampu mendukung visi Indonesia Digital 2045 dengan menguatkan fondasi jaringan yang cerdas, efisien, dan berkelanjutan.”

Model AI kelas telekomunikasi milik Ericsson dirancang untuk memproses dan menghasilkan keputusan dalam waktu yang sangat singkat, hingga hitungan mikrodetik. Teknologi ini mampu memberikan kinerja yang andal dan stabil di berbagai kondisi jaringan radio (RAN) yang beragam dan dinamis. Dikembangkan berdasarkan keahlian mendalam di bidang telekomunikasi, serta dilatih menggunakan data berkualitas tinggi, model AI ini menghadirkan standar baru dalam performa dan efisiensi jaringan.

Terbukti dalam penerapan jaringan komersial
AI in RAN dari Ericsson dapat digunakan pada Ericsson 5G Advanced, baik pada jaringan yang menggunakan perangkat khusus maupun Cloud RAN, untuk menghadirkan berbagai layanan baru yang didukung AI. Solusi ini merupakan implementasi nyata dari visi AI for Networks dengan memanfaatkan AI untuk meningkatkan kinerja dan efisiensi jaringan. AI ditempatkan pada bagian jaringan radio paling tepat agar dapat bekerja secara optimal.

Kemampuan ini didukung oleh Ericsson Silicon, yaitu chip khusus yang memungkinkan
pemrosesan AI berjalan dengan hemat energi langsung di perangkat radio, serta generasi terbaru RAN Compute yang memberikan daya komputasi lebih tinggi. Software Cloud RAN yang fleksibel memungkinkan AI dapat bekerja secara optimal di berbagai bagian jaringan serta mudah diterapkan di berbagai platform.

Fitur awal AI in RAN mulai tersedia pada kuartal kedua tahun 2026, dengan pengembangan
lanjutan sepanjang tahun. Beberapa fitur utama meliputi:
● AI-native Scheduler untuk mengoptimalkan pengaturan dan alokasi sumber daya
jaringan secara otomatis.
● AI-powered Positioning untuk meningkatkan akurasi penentuan lokasi pengguna.
● AI-managed Beamforming untuk mengoptimalkan kualitas sinyal secara dinamis dan
otomatis.
● AI-powered Multi-layer Coordination untuk meningkatkan koordinasi antar lapisan
jaringan guna memastikan pengalaman pengguna yang lebih konsisten.
● Performance Management untuk pemantauan dan analisis performa jaringan yang lebih
canggih.
● Augmented Observability yang menghadirkan visibilitas dan transparansi lebih tinggi
terhadap cara AI beroperasi dan mengambil keputusan di dalam jaringan.

Setelah dibuktikan melalui lebih dari 15 implementasi dan uji coba di seluruh dunia, AI in RAN Ericsson mampu menghadirkan peningkatan kecepatan downlink hingga 20 persen serta efisiensi spektrum hingga 10 persen. Solusi ini juga mendukung hingga dua kali lebih banyak pengguna dengan trafik tinggi, dengan akurasi prediksi cakupan 90–95 persen, serta presisi penentuan lokasi pengguna hingga lima kali lebih tinggi.

Teruyuki Oya, Senior Vice President & CNO, SoftBank Corp., mengatakan: “Software AI in RAN Ericsson menandai langkah penting dalam menghadirkan AI lebih dalam ke dalam radia access network. Dengan memungkinkan optimasi performa radio, efisiensi spektrum, dan pengalaman pengguna secara real-time, solusi ini membantu kami mengubah inovasi AI menjadi nilai nyata pada jaringan yang sudah beroperasi. Kami juga melihat potensi yang kuat dari fondasi ini dalam mendukung layanan berbasis AI yang sedang berkembang, termasuk skenario Physical AI yang bergantung pada konektivitas latensi rendah dan keandalan tinggi, serta koordinasi cerdas antara jaringan dan sumber daya komputasi.”

Bruce Dean, Senior Vice President, Network Technology & Operations Bell, mengatakan, “Di Bell, kami terus mengembangkan jaringan kami untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat terhadap layanan berbasis AI dengan performa tinggi. Mengintegrasikan AI secara langsung ke dalam RAN merupakan langkah penting untuk menjadikan jaringan lebih cerdas dan efisien. Dengan bekerja sama dengan mitra seperti Ericsson, kami menghadirkan kapabilitas ini ke dalam jaringan kami untuk meningkatkan performa, meningkatkan efisiensi energi, serta memberikan pengalaman yang lebih baik bagi pelanggan kami.”

Yu Takki, Head of Network Technology SK Telecom, mengatakan: “Melalui kolaborasi dengan Ericsson, SK Telecom terus mengembangkan AI-RAN untuk meningkatkan performa jaringan dan efisiensi energi, sekaligus mendukung operasional yang lebih cerdas dan terotomatisasi. Dengan mengombinasikan riset, validasi di dunia nyata, serta inovasi software, kami bertujuan untuk memperkuat posisi kami dalam evolusi jaringan berbasis AI serta membantu membangun fondasi bagi jaringan AI-native 6G.”

Mark Kennedy, Chief Technology Officer Rogers, mengatakan, “Sebagai jaringan 5G+ terbaik di Kanada, kami bangga dapat bekerja sama dengan Ericsson untuk menghadirkan teknologi 5G terbaru bagi masyarakat. AI in RAN akan membantu mengoptimalkan performa jaringan bagi pelanggan secara real-time sekaligus mengurangi konsumsi energi.”

Joe Madden, Principal Analyst di Mobile Experts, mengatakan: “Ini bisa menjadi ROI terbaik bagi operator seluler dalam beberapa tahun terakhir. Dengan hanya melakukan upgrade software, operator dapat memaksimalkan kapasitas, meningkatkan visibilitas jaringan, serta menghadirkan layanan berbasis lokasi yang lebih akurat dari jaringan 5G yang telah mereka miliki sebelumnya.”

Ericsson telah menghadirkan fungsi AI di seluruh produknya sejak era 4G, dan pada 2021
menambahkan akselerasi AI-ready di RAN Compute. Pada Februari tahun ini, Ericsson juga
memperkenalkan Neural Network Accelerators pada radio Massive MIMO, yang meningkatkan kapabilitas inferensi AI hingga 10 kali lipat.

- iklan -