JAKATA, ITN- Mesin produksi berteknologi tinggi, material inovatif, hingga produk kulit, alas kaki, tekstil, dan garmen memenuhi area JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (5/8/2026). Suasana tersebut menandai dibukanya Indo Leather & Footwear (ILF) Expo dan Indo Garment & Textile (IGT) Expo 2026 yang berlangsung hari ini 5 hingga 7 Juli 2026.
Hadir pada kesempatan tersebut, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, yang menyampaikan apresiasinya kepada Asosiasi Persepatuan Indonesia (APRISINDO), Asosiasi Pertekstilan Indonesia (APPI), serta PT Krista Media Pratama atas konsistensinya menyelenggarakan pameran industri yang telah memasuki tahun ke-19. Ia berharap ajang tersebut terus menjadi wadah kolaborasi, inovasi, dan pengembangan industri manufaktur nasional.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong transformasi industri alas kaki, garmen, tekstil, dan kulit nasional agar tidak hanya mengandalkan kapasitas produksi, tetapi juga menghasilkan produk bernilai tambah tinggi yang mampu bersaing di pasar internasional. Upaya tersebut dinilai penting untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok industri global.

“Industri alas kaki dan tekstil Indonesia selama ini memiliki kontribusi besar terhadap penyerapan tenaga kerja dan aktivitas manufaktur. Namun, untuk menghadapi persaingan global, pelaku industri perlu memperkuat inovasi, meningkatkan kualitas produk, mengadopsi teknologi modern, serta menerapkan proses produksi yang lebih berkelanjutan,” ujar Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam sambutannya saat membuka Indo Leather & Footwear (ILF) Expo 2026 dan Indo Garment & Textile (IGT) Expo 2026.
Menurutnya keberlanjutan bukan menjadi beban, tetapi harus menjadi keunggulan daya saing. Dunia saat ini tidak hanya membeli produknya, tetapi juga melihat bagaimana barang itu diproduksi, apakah ramah lingkungan dan adil bagi pekerjanya.
“Transformasi industri harus mencakup pengembangan desain produk, modernisasi mesin produksi, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, hingga penerapan standar industri hijau. Langkah tersebut dinilai akan meningkatkan daya saing produk Indonesia sekaligus memenuhi tuntutan pasar global yang semakin memperhatikan aspek lingkungan dan keberlanjutan. Selain transformasi industri, pelaku usaha memanfaatkan peluang yang terbuka melalui implementasi Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA). Kesepakatan tersebut diharapkan memperluas akses produk Indonesia ke pasar Eropa melalui penurunan berbagai hambatan perdagangan,” jelas Agus.
Lebih lanjut ia menegaskan, “Kita harus membanjiri produk Indonesia di negara lain, bukan justru dibanjiri produk negara lain di Indonesia”.
Di pasar domestik, Kemenperin juga berupaya memperkuat rantai pasok industri dari sektor hulu hingga hilir. Agus menilai sinergi antara produsen bahan baku, industri tekstil, produsen alas kaki, hingga industri garmen menjadi faktor penting untuk menjaga daya saing nasional di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Ia memastikan pemerintah akan terus memberikan dukungan kepada dunia usaha, namun meminta asosiasi industri lebih aktif menyampaikan berbagai kendala yang dihadapi agar dapat segera dicarikan solusi bersama.”Help us to help you. Laporkan persoalan yang dihadapi industri agar bisa segera kami tindak lanjuti,” katanya.
Melalui penyelenggaraan ILF Expo dan IGT Expo 2026, Kemenperin menargetkan lahirnya berbagai kerja sama konkret, mulai dari peningkatan transaksi perdagangan, terbentuknya kemitraan bisnis dan investasi baru, hingga percepatan alih teknologi melalui kolaborasi dalam pengembangan mesin, proses produksi, desain, dan inovasi industri.
Agus optimistis berbagai kolaborasi yang terbangun selama pameran akan memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat industri manufaktur di kawasan, tidak hanya sebagai basis produksi, tetapi juga sebagai bagian penting dalam rantai pasok global untuk industri alas kaki, tekstil, dan garmen.
Pameran Indo Leather & Footwear (ILF) Expo dan Indo Garment & Textile (IGT) diikuti 210 peserta, termasuk 50 UMKM lokal, serta perusahaan dan pelaku industri dari 14 negara, yaitu Indonesia, China, Italia, Uni Emirat Arab, Pakistan, Spanyol, India, Bangladesh, Jerman, Taiwan, Hong Kong, Vietnam, Singapura, dan Korea Selatan. Partisipasi internasional yang semakin luas menunjukkan besarnya kepercayaan dunia terhadap potensi industri manufaktur Indonesia sekaligus mempertegas posisi Indonesia sebagai salah satu pusat pertumbuhan industri kulit, alas kaki, tekstil, dan garmen di kawasan Asia.
Beragam inovasi ditampilkan dalam pameran ini, mulai dari produk kulit dan alas kaki, tekstil, garmen, bahan baku, aksesori, hingga mesin produksi, teknologi otomasi, dan solusi manufaktur terkini. Seluruhnya dirancang untuk mendukung peningkatan produktivitas, efisiensi, kualitas produk, serta penerapan praktik industri yang lebih berkelanjutan.
Selain menjadi etalase inovasi, Indo Leather & Footwear (ILF) Expo dan Indo Garment & Textile (IGT) juga menghadirkan berbagai program yang memperkaya wawasan industri. Transformasi digital, modernisasi proses produksi, penggunaan material ramah lingkungan, serta strategi penguatan rantai pasok menjadi sejumlah isu utama yang dibahas guna mendorong terciptanya industri yang lebih adaptif, kompetitif, dan berorientasi pada nilai tambah.

Sebagai bagian dari rangkaian acara Seminar Nasional AGTI (Asosiasi Garment dan Textile Indonesia) mengangkat tema “Membangun Industri TPT yang Kompetitif, Berkelanjutan, dan Menjadi Pemain Utama dalam Rantai Pasok Nasional dan Internasional.” Seminar ini mempertemukan pemerintah, akademisi, asosiasi, dan pelaku usaha untuk membahas penguatan industri tekstil dan produk tekstil (TPT) melalui inovasi, peningkatan daya saing, serta pengembangan rantai pasok yang lebih kuat.
Sementara itu, ILF–IGT Manufacturing Forum 2026 mengusung tema “Jaya di Pasar Domestik, Unggul di Pasar Global”, Forum yang diselenggarakan Krista Exhibitions Group bersama APRISINDO ini didukung oleh Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, serta Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM. Berbagai isu strategis dibahas, mulai dari revitalisasi industri padat karya, peningkatan investasi manufaktur, pemberdayaan UMKM dan IKM, hingga pemanfaatan peluang perdagangan melalui Indonesia–European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) sebagai langkah memperluas akses pasar ekspor Indonesia.
Suasana pameran semakin semarak melalui The Fashion Show yang menampilkan karya dan inovasi terbaru dari industri kulit, alas kaki, tekstil, dan fesyen nasional, serta Networking Cocktail Dinner yang menjadi bagian dari program Business Matching. Kegiatan ini mempertemukan peserta pameran dengan buyer, investor, asosiasi, dan mitra industri guna membuka peluang kerja sama yang lebih luas.
Networking Cocktail Dinner menghadirkan anggota berbagai asosiasi terkemuka, di antaranya APRISINDO (Asosiasi Persepatuan Indonesia), APRINDO (Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia), APPMI (Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia), APKI (Asosiasi Pertekstilan Indonesia), dan APGAI (Asosiasi Pemasok Garment dan Aksesoris Indonesia), dengan dukungan penuh dari Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. Selain itu, acara ini juga menghadirkan buyer potensial dari dalam maupun luar negeri yang akan bertemu langsung dengan produsen lokal untuk menjajaki peluang kemitraan dan transaksi bisnis.
Melalui penyelenggaraan ILF Expo dan IGT Expo 2026, Krista Exhibitions Group berharap pameran ini dapat menjadi motor penggerak pertumbuhan industri kulit, alas kaki, tekstil, dan garmen Indonesia. Sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, asosiasi, investor, dan mitra internasional diharapkan mampu mempercepat adopsi teknologi, meningkatkan investasi, memperluas pasar ekspor, serta memperkuat daya saing produk Indonesia di pasar internasional.
Indo Leather & Footwear (ILF) Expo 2026 dan Indo Garment & Textile (IGT) Expo 2026 turut mengundang para pelaku industri, produsen, distributor, importir, eksportir, asosiasi, akademisi, investor, hingga profesional di sektor kulit, alas kaki, garmen, dan Tekstil. Pengunjung dapat melakukan registrasi secara online melalui https://register.kristaonline.com/visitor/indoleatherfootwear atau mendaftar langsung di lokasi pameran. Temukan inovasi, teknologi, dan peluang bisnis terbaru dalam industri kulit, alas kaki, tekstil, dan garmen di Indo Leather & Footwear (ILF) Expo dan Indo Garment & Textile (IGT) 2026. Bersama, mari memperkuat industri manufaktur Indonesia menuju pasar global.











































