- iklan -

JAKARTA, ITN- TARI Marpangir dari Sumatra Utara membuka acara penyelenggaraan seminar Sales Mission Danau Toba di Indonesia (Jakarta-Bandung) dan seminar “Pengembangan Destinasi Pemasaran Terpadu Danau Toba” yang berlangsung di Hotel Sheraton Jakarta selama tiga hari, Jumat-Minggu (19-21/10/18).

Bagaimana sebuah destinasi dikembangkan? Sumatra Utara ada Danau Toba, DKI Jakarta saat ini juga sedang mempromosikan Pulau Seribu. “Dengan adanya promosi Danau Toba di Indonesia bisa meminimalisir angka traveler Indonesia ke luar negeri,” ujar Kepala Bidang Destinasi dan Pemasaran Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta, Hari Wibowo dalam sambutannya sekaligus membuka acara seminar.

Danau Toba merupakan bagian strategis pariwisata  nasional dan merupakan 10 destinasi baru yang diharapkan dapat meningkatkan satu juta orang di tahun 2019.

Kemenpar Harus Mengembangkan Beyond Pariwisata Danau Toba“Terkait dengan Danau Toba, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menetapkan 10 destinasi pariwisata prioritas yang dikembangkan sebagai 10 Bali Baru untuk mendukung target  pariwisata dalam mendatangkan 20 juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia pada 2019. 10 destinasi Bali Baru, tersebut salah satunya, yakni Danau Toba,” ujar Asisten Deputi Pengembangan Destinasi Regional 1 Kementerian Pariwisata, Drs Lokot Ahmad Enda, MM.

Dulu membangun Danau Toba tidak semudah membangun tanah Jawa, tetapi sekarang sudah bisa dijalankan, masyarakatnya sudah sadar wisata. “Setelah Danau Toba ditetapkan sebagai 10 destinasi Bali Baru, Danau Toba juga masuk dalam empat prioritas pariwisata bersamaan dengan Borobudur, Labuan Bajo, dan Mandalika,” ungkapnya.

Pertumbuhan pariwisata di Sumatra Utara sangat positif 14% ,  pertumbuhan pariwisata yang paling banyak di Samosir, Tobasa, dan Prapat dengan mengembangkan homestay. Selain itu menurutnya juga sedang dikembangkan pariwisata yang intagramable untuk swafoto, seperti di Hutaginjang, Tobasa, Bukit Siholong, Kawasan Taman Semalam, dll.

“Dan berharap rencananya akan dikembangkan seperti Nusa Dua, namun kendalanya di daerah Danau Toba banyak tanah adat dan tanah hutan lindung,” ungkapnya.

Namun Danau Toba masih memiliki tantangan dalam mengembangkan pariwisata dikarenakan jadwal event yang masih berubah-ubah (belum pas tanggalnya).

Sementara dari ASITA Sumatra Utara, Solahuddin Nasution, SE, MSP, pada kesempatan yang sama mengatakan, ““Pengembangan posisi Danau Toba menguntungkan dengan adanya perhatian dari pemerintah pusat. Pengembangan aksesibilitas juga telah mendukung. Perjalanan darat dengan tol Kualanamu bisa menghemat waktu dalam perjalanan, hanya sekitar 3 jam. Dari Silangit ke Parapat hanya ½ jam”.

“Dari segala sudut bisa lihat Danau Toba. Tidak hanya keindahan alam dan kebudayaannya tetapi Danau Toba juga menyimpan sejarah,” ungkapnya.

Pada hari ini hingga tanggal 21 Oktober 2018 menurutnya ada 17 travel agent dan 13 hotel, serta oleh-oleh Medan yang akan menjual paket pariwisata dengan harga menarik dan hot dealnya pun menarik.

Kementerian pariwisata menurutnya harus mengembangkan beyonnya pariwisata Danau Toba, misalnya dengan menjual paket-paket dari Bukit Lawang; lihat orang utan. “Wisaatawan Eropa suka ke bukit lawang ini. Bisa satu malam lalu dikombain ke Danau Toba, atau dari Danau Toba ke Brastagi. Sebelum ke Brastagi ke Simajunjung yang udaranya cukup dingin,” ujar Solahuddin.

Pada seminar yang dihadiri praktisi pariwisata, akademika, pelaku industri pariwista, dan media ini juga menghadirkan nara sumber pakar pariwisata Drs Wardiyatmo, MSc dan perwakilan Airlines Garuda Indonesia I Wayan Supatrayasa.

Tak hanya seminar, kegiatan Sales Mission Danau Toba juga diramaikan dengan berbagai acara, seperti table top, rangkaian acara di mal, seperti pameran, pojok mewarnai, penampilan seni musik dan tari Batak, demo masak, dll. (evi)

- iklan -