JAKARTA, ITN-  Jember telah ditetapkan sebagai Kota Karnaval di Indonesia setelah rutin setiap tahun sukses menggelar “Jember Fashion Carnival”, dimana event ini telah banyak menarik wisatawan nusantara (wisnus) maupun wisawatan mancanegara (wisman) di setiap penyelenggaraannya.

Tagline Jember Kota Wisata, Jember Kota Festival sekaliber dengan Festival Rio de Jeneiro, Brazil harus terus dijaga dan dibangun spiritnya ke seluruh lapisan masyarakat. Demikian dikatakan Hilda Ansariah Sabri, Pemimpin Umum Portal berita wisata bisniswisata.co.id saat berbicara pada staff meeting Java Lotus Hotel di Jember, Kamis (18/11/21).

Hilda mengatakan, Festival Rio de Jeneiro sudah terselenggara sejak tahun 1723. Sementara Dynan Fariz sang pelopor dan pendiri Jember Fashion Carnival memulainya tahun 2003, namun bisa melesat dan kini mendunia.

“Memang semua kerja tim bukan mendunia karena seorang Dynan Fariz saja. Tapi spiritnya harus terus dijaga dan dikembangkan dengan kesadaran penuh dari dalam diri bahwa Jember akan selalu masuk dalam peta pariwisata dunia,” ujar Hilda.

Hilda mengajak kalangan hospitality dan pers di Jember untuk terus hidupkan semangat almarhum Dynan Fariz, desainer kebanggaan Kota Jember ini untuk menghidupkan festival tahunan ini secara konsisten.

”Brazil punya festival dari tahun 1723, artinya sudah bilangan abad untuk melestarikannya dan tetap eksis. Bagi warga Jember baik dari kalangan birokrat, politikus, pers, akademisi, dan masyarakat harus memiliki sadar wisata yang tinggi untuk melestarikannya,” ungkap Hilda yang juga Pemimpin Umum Majalah berita dan destinasi wisata EXPLORE!.

Apalagi alm Dynan Fariz menurutnya juga salah satu peserta yang meraih penghargaan Best National Costume dalam kontes kecantikan dunia Miss Universe 2014 yang diselenggarakan di Florida, Amerika Serikat pada 25 Januari 2014.

“Semua aset yang sudah dirintis beliau jangan tenggelam. Ayo pariwisata Jember bangkit. Popularitas yang sudah disalip oleh Banyuwangi jangan dibiarkan. Pariwisata Jember agar bangkit seiring pemulihan dari pandemi global Covid-19, ” tegas Hilda.

Sebagai Ketua Bidang Pariwisata DPP Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Hilda mengingatkan bahwa desa wisata menjadi tujuan populer dari warga dunia pasca pandemi.

”Sustainable Tourism dan desa wisata menjadi tren dunia. Berkah lainnya dari pandemi global adalah melonjaknya permintaan halal food dan Perjalanan Ramah Muslim. Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia akan rugi besar jika tidak memanfaatkan momentum ini,” ungkapnya.

Lalu sebagai pewaris  dari event besar ini bagaimanakah semangat kreativitas itu bisa kita bangun bersama?. Ada tiga pertanyaan utama yang perlu dijawab sendiri oleh seluruh stakeholder pariwisata Jember.

“Coba jawab tiga pertanyaan dasar siapa saya, dimana saya, dan mau kemana saya? seperti yang sering diungkapkan tokoh spiritual Ary Ginanjar Agustian di media sosialnya,” kata Hilda.

Pertanyaan ini lebih mengukur pada kontribusi kita pada kota Jember. Siapa saya? Peran kita sebagai warga, sebagai individu maupun sebagai institusi bahkan sebagai seorang journalist.

Dimana saya, sejauh mana sudah bisa berpartisipasi dan berkontribusi? dan mau kemana saya?  Ke depan sebagai pribadi maupun institusi Jember Fashion Carnival ini mau sebesar apa? Mau dibawa kemana?.

Siapa saya, dimana saya, dan mau kemana saya adalah pertanyaan universal dalam menangani persoalan hidup. Para petinggi, politikus, akademisi, dan masyarakat Jember sendiri yang mampu menjawabnya.