JAKARTA, ITN- JF3 Fashion Festival 2025 menghadirkan beberapa brand lokal yang dibina PINTU Incubator.
PINTU Incubator kembali mempersembahkan karya-karya terbaik dari enam brand terpilih hasil program inkubasi selama enam bulan.
Program incubator bertujuan mencetak brand lokal yang inovatif, Tangguh, dan siap bersaing di tingkat global.
Program ini dirancang untuk membekali para emerging brands dengan wawasan dan ketrampilan yang diperlukan untuk berkembang di industri mode yang kompetitif.

Salah satu keunggulan utama dari program ini adalah kesempatan eksklusif bagi peserta yang lolos kurasi untuk menampilkan koleksi mereka di JF3 Fashion Festival 2025. Selain itu, mereka juga berkesempatan untuk mengikuti Paris Trade Show, Première Classe, sebuah platform prestisius yang mempertemukan desainer dengan buyer atau bahkan investor fashion global.
Dengan berbagai peluang yang ditawarkan, PINTU Incubator menjadi wadah yang ideal bagi para desainer muda yang ingin mengembangkan brand mereka dan meraih pengakuan di pasar internasional. Jangan lewatkan kesempatan ini untuk menjadi bagian dari perjalanan fashion yang inspiratif dan penuh potensi.
Dari enam terpilih tampil di ajang JF3 Fasion Festival 2023, yakni CLV, Dya Sejiwa, Lil Public, Nona Rona, Rizkya Batik, dan DENIMITUP.
Keenam brand ini menampilkan koleksi terbaru mereka dalam fashion show bertajuk “Echoes of the Future by PINTU Incubator featuring Ecole Duperre” yang juga menghadirkan kolaborasi kreatif bersama tiga desainer muda dari Ecole Duperre Paris, yakni Pierre Pinget, Bjorn Backes, dan Mathilde Reneaux.
Lil Public
Lil Public meluncurkan koleksi perdananya bertajuk Hisashi Series di panggung bergengsi JF3 Fashion Festival. Koleksi ini terinspirasi dari novel karya Hisashi yang mengeksplorasi bagaimana makanan dapat membangkitkan kenangan, emosi, dan cerita hidup seseorang.

Koleksi ini menampilkan berbagai fashion item dengan cutting oversize bergaya urban wear yang dirancang agar mudah dipadupadankan untuk keseharian. Produk yang dihadirkan antara lain, Hoodie, Work Jacket, Leather Jacket, Shirt & Tshirt, Celana, Aksesori, dan tentunya topi dengan desain unik khas Lil Public.
Nona Rona
Nona Rona mempersembahkan “Lavanya” — Sebuah Penghormatan untuk Cahaya dalam Diri Setiap Perempuan. Setiap perempuan punya kisah. Perjalanan yang dipenuhi kekuatan, momen-momen anggun, dan ketangguhan yang tak selalu terucap.
Lavanya, yang berarti “Keanggunan yang Memikat”, terinspirasi dari kekuatan dan kelembutan perempuan Indonesia. Setiap busana membawa bisikan warisan budaya, sulaman yang terperinci layaknya jejak perjalanan hidup, dan motif bunga yang merekah sebagai pengingat bahwa keindahan hadir di setiap bab kehidupan.
Rizkya Batik
Rizkya Batik mempersembahkan MIMO, koleksi baru yang dirancang khusus untuk perempuan aktif, terutama para ibu menyusui. Terinspirasi dari kekuatan dan kelembutan perempuan, MIMO menggabungkan keindahan batik tradisional dengan potongan modern yang fungsional dan elegan.
MIMO adalah refleksi dari keinginan perempuan untuk tetap tampil stylish tanpa mengesampingkan peran penting mereka. Koleksi ini menggunakan bahan batik tulis hasil perajin batik Solo yang berkualitas tinggi dengan sentuhan warna indigo alam dan hijau kuning yang menenangkan, serta fitur busui friendly, seperti bukaan tersembunyi.
DENIMITUP
DENINITUP Vincent Mikhael Hadirkan Koleksi “THE REVELATION” di JF3 Fashion Festival 2025
Koleksi ini menampilkan teknik jahitan split-pattern modern, warna-warna kontras yang berani khas Denimitup, serta perpaduan antara kain tradisional seperti songket dan batik yang diinterpretasikan ulang melalui perspektif denim kontemporer.
Rilisan “Revelation” memperkenalkan tampilan khas terbaru dari Denimitup tanpa mengesampingkan misinya untuk memperkenalkan ikon TRILOGO ke dunia.
Koleksi ini menggambarkan dunia yang semakin dipenuhi masalah, manusia semakin serakah, tantangan yang terus bermunculan, seperti yang tercermin dalam banyak kitab suci, dunia sedang mendekati akhir zaman.
Tak hanya itu koleksi ini juga mencerminkan visi tentang bagaimana manusia mungkin akan berpakaian di babak terakhir dari era ini.
Setiap item dibuat oleh tangan-tangan terampil dan pikiran kreatif para ahli di bidangnya mulai dari ilustrator, pembuat pola, penjahit, hingga proses pewarnaan dan penyempurnaan akhir seperti pemangkasan benang. Yang membuatnya lebih keren, yakni semuanya dibuat di “THE HOUSE OF DENIMITUP”, dengan bangga diproduksi di Indonesia.
CLV
CLV, koleksi untuk para kreator yang terus bergerak, koleksi ini dibuat untuk mereka yang sibuk. Dirancang untuk mereka yang berani.
CLV, label artwear asal Indonesia yang tengah naik daun, tampil perdana di panggung JF3 Fashion Festival dengan koleksi penuh pernyataan: “W.I.P – Work In Progress.”
Lebih dari sekadar koleksi, W.I.P adalah potret hidup dari perjuangan kreatif sebuah penghormatan bagi mereka yang bermimpi, membangun, dan membawa karya mereka ke mana pun mereka pergi.
Mulai dari kantong lepas-pasang yang bisa menjadi tas, hingga siluet yang terinspirasi dari ruang kerja dan alat-alat, setiap detail dirancang untuk mendukung para kreator sejati yang selalu bergerak.
“Kami selalu percaya bahwa pakaian tidak hanya sekadar mempercantik tampilan, tapi juga harus membawa cerita. Ini adalah runway pertama kami, dan kami ingin melangkah bersamanya bersama orang-orang yang membangun sesuatu bukan sekadar memakainya,” ujar Clavi Kirana Founder & Creative Director CLV.
Ia mengatakan, “Presentasi 6-look ini menampilkan karakter dari inti kami. Kenakan Apa yang Ingin Kamu Jadi — apakah itu Musisi, Ilustrator, Fotografer, Desainer Mode, Arsitek, atau Pelukis, semuanya ditata bukan hanya dalam gaya, tapi juga dalam fungsi. Jaket berubah menjadi wadah perlengkapan”.
Tote bag berubah menjadi rompi di tengah langkah. Kuas, kontroler MIDI, kacamata pelindung, dan palet menjadi bagian dari outfit.
“Pendekatan khas kami yang memadukan tas dan fashion menjadi alat modular yang dapat dikenakan tampil sepenuhnya di koleksi ini. Konsep ini lahir dari tahun-tahun pengamatan terhadap para kreator yang berpindah dari meeting ke studio, dari jalanan ke panggung, selalu membutuhkan perlengkapan yang berfungsi dan mencerminkan diri mereka,” ungkapnya.
Berakar dari komunitas kreatif dan menatap Paris, showcase di JF3, CLV menandai momen kedatangan bukan sebagai brand mewah, tapi sebagai label yang digerakkan oleh tujuan dan siap mengekspor identitas.
Koleksi yang diberi nama W.I.P ini bukan hanya karena ini adalah Work In Progress kami, Tapi karena kami juga sedang dalam proses, kami menuju Paris. Itu adalah mimpinya. Runway ini adalah langkah pertama.
Dya Sejiwa
Dya Sejiwa adalah merek ready-to-wear yang berbasis di Indonesia didirikan Nadya Kinanti Arifin. Dya Sejiwa identik dengan potongan busana yang tak lekang waktu, memadukan teknik tradisional dengan desain kontemporer, menghasilkan beragam pakaian yang cocok untuk berbagai kesempatan.

Berpartisipasi dalam PINTU Incubator 2025, Dya Sejiwa menciptakan koleksi eksklusif bertajuk Merekah. Terinspirasi dari transformasi alam yang paling anggun, mekarnya bunga dan metamorfosis seekor kupu-kupu.
Bjorn Backes – Student École.
Björn Backes adalah seorang desainer aksesori luxury ready-to-wear yang berspesialisasi dalam bordir dan penciptaan karya unik serta istimewa menggunakan teknik chainmail yang menggabungkan logam dan kulit.
Di JF3 2025 Björn Backes akan mengusung tema Requiem, merupakan koleksinya dan konsepnya berputar di sekitar gagasan tentang suvenir dan pelestarian kenangan melalui keberadaan fisik dari objek-objek pribadi tertentu yang dimiliki seseorang. Benda-benda seperti tiket, struk, atau potongan kertas sering kali diabaikan atau dibuang, tetapi sebenarnya menyimpan nilai emosional yang mendalam.
Ia menampilkan 10 tampilan yang dilengkapi dengan tas, perhiasan, dan sabuk. Saya memiliki 10 celana, 3 jaket, 4 atasan, 5 tas.
Pinget – Student École Duperré “Mafia”.
Koleksi ini menafsirkan ulang simbol visual dari sosok mafia Italia melalui sudut pandang tailoring kontemporer dan pemberdayaan perempuan.
Koleksi ini berakar dari tailoring tradisional Italia, yang ia pelajari secara mendalam selama program pertukaran Erasmus selama enam bulan di Napoli di bawah bimbingan Master Tailor Antonelli Lello.

Ia belajar membuat pakaian fully canvassed, 95% di antaranya dibuat sepenuhnya dengan tangan.
Fondasi kerajinan ini menjadi dasar eksplorasi estetika dan simbolis dari figur mafia dan representasi visualnya. Terinspirasi oleh sinema — The Godfather.
Koleksi ini dibangun dengan material mulia dan menuntut, yang dipilih dengan cermat untuk mencerminkan tingkat kualitas dan keanggunan yang diharapkan dari karakter-karakter yang ditampilkan dalam setiap siluet. Koleksi ini terdiri dari 7 siluet lengkap, termasuk jas, celana, kemeja, mantel, dan aksesori.
Mathilde Reneaux – Student École
Mathilde Reneaux mempersembahkan sebuah koleksi yang sepenuhnya dibuat secara handmade. Koleksi ini berlandaskan pada keahlian, khususnya bordir, penciptaan material, dan pembuatan aksesori.
Koleksi ini diberi judul Syrius, it dog, karena pada awalnya berkisah tentang cerita dengan anjing kesayangannya. Melalui lima siluet dan satu lini aksesori, koleksi ini menyajikan narasi visual yang menelusuri perjalanan dari hewan liar hingga menjadi produk yang terstandarisasi.
Setiap tahapan mencerminkan fase dalam transformasi ini: hewan bebas menjadi teman, lalu menjadi aksesori, kemudian menjadi citra, hingga akhirnya direduksi menjadi karakteristik yang paling diinginkan. (evi)










































