JAKARTA, ITN- Kemampuan mengelola finansial menjadi kunci penting untuk mencapai tujuan finansial. Tapi mengelola uang itu memang tidak mudah. Selain butuh komitmen yang kuat dan tindakan nyata secara berkelanjutan, mengelola uang juga perlu strategi lho.

Sebagai contoh, menyisihkan gaji untuk pos-pos keuangan yang sudah tetap setiap bulan seperti halnya saving dan berinvestasi. Jangan mudah tergoda untuk tergiur untuk berbelanja untuk barang-barang yang bukan kebutuhan. Bayangkan tanpa disadari baru awal bulan, gaji sudah habis. Akibat tidak memiliki perencanaan finansial, akhirnya tergoda untuk mengutang. Pengeluaran makin jauh lebih besar daripada penghasilan.

Tak hanya itu, kita juga terbiasa tidak memisahkan rekening tabungan dan kebutuhan sehari-hari. Hal ini dapat membuat keuangan kita tidak terencana dengan baik dan potensi kebocoran finansial pun akan semakin besar. Kalau sudah begini, tinggal menunggu waktu, “malapetaka” finansial pun terjadi.

Setidaknya, ada tiga alasan mengapa kita harus mengelola finansial. Apa saja?

1. Agar Kita Punya Dana Darurat

Dana darurat merupakan dana yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan mendesak yang tidak bisa ditanggulangi dengan kondisi finansial yang normal. Misalnya, ketika menghadapi kondisi ada anggota keluarga yang sakit, kecelakaan atau peristiwa tiba-tiba lainnya. Karena gaji kita sudah punya pos-pos pengeluaran yang tetap maka adanya kejadian mendadak ini tentu tidak akan mampu ditangani jika tidak ada dana darurat.

2. Agar Kita Bisa Mewujudkan Impian

Semua orang punya impian bukan? Ada yang ingin membeli rumah yang lebih besar dengan halaman luas dan kolam renang. Ada yang mau liburan dengan anak-anak tersayang keliling Eropa. Ada yang ingin menikah di tempat mewah, dan ada yang ingin memiliki mobil mewah pada usia muda. Semua ini bisa dicapai dengan pengelolaan keuangan yang baik. Termasuk, misalnya, dengan cara mengendalikan keinginan untuk berbelanja barang-barang yang tidak terlalu dibutuhkan, dan melakukan perencanaan yang baik.

3. Agar Bisa Memiliki Warisan untuk Keturunan

Usia manusia terbatas di dunia. Tiba masanya manusia akan meninggalkan dunia, dan saat itu apa yang menjadi pertanyaan adalah warisan apa yang bisa kita berikan kepada keturunan kita? Tidak sedikit orang tua yang tidak meningalkan apa-apa, atau bahkan meninggalkan utang kepada anak-anaknya. Tapi melalui perencanaan keuangan yang baik selama hidup, orang tua bisa meninggalkan warisan baik itu berupa uang maupun harta benda lainnya untuk keperluan anak-anak atau keperluan lainnya. Alangkah senangnya jika orangtua tidak menjadi beban juga bagi anak-anaknya pada masa tuanya.

Tips Kelola Keuangan

Menurut Jeffrey Kie, Chief Agency Officer PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia, mengatur keuangan membutuhkan komitmen kuat, serta tindakan nyata yang diterapkan secara konsisten dan berkelanjutan. Harus konsisten menyisihkan gaji untuk pos-pos keuangan yang kita tujukan, seperti halnya dalam melakukan saving dan berinvestasi.

Kemudian sisihkan pendapatan di awal untuk saving maupun investasi bukan di akhir bulan atau malah menabung dari sisa pendapatan (uang yang sudah dibelanjakan). Bagi mereka yang masih single dapat memiliki dana darurat sebesar minimal enam kali pengeluaran bulanan. Sementara untuk mereka yang sudah berkeluarga, upayakan tetap miliki dana darurat 12 kali dari pengeluaran bulanan.

“Dana darurat dapat digunakan untuk kebutuhan mendesak, misalnya jika kita terkena Covid-19, lalu harus menjalani isoman maupun perawatan atau bahkan untuk berjaga-jaga untu kebutuhan tak terduga lainnya bisa menggunakan dana tersebut,” kata Jeffrey Kie.

Dia mengakui, biasanya faktor-faktor yang membuat seseorang kesulitan mengatur keuangan diantaranya adalah tidak ada komitmen dan tujuan finansial yang kuat. Kemudian pengeluaran lebih besar daripada penghasilan, misalnya gaya hidup berlebihan dan mudah tergiur untuk memuaskan nafsu berbelanja. Jika hal ini dibiarkan, berapapun penghasilan yang kita dapatkan tidak akan pernah cukup untuk membiayai kebutuhan kita terlebih kebutuhan di masa depan.

Orang tersebut juga selau menunda untuk menabung sehingga tidak memiliki simpanan untuk masa depan maupun untuk kebutuhan yang mendesak, tidak memiliki anggaran keuangan. “Tanpa disadari, baru awal bulan, gaji sudah habis tak bersisa. Biasakan untuk memiliki perencanaan keuangan sehingga gaji dapat dibagi sesuai pos-pos finansial yang sesuai kebutuhan untuk sebulan kedepan,” ujarnya lebih lanjut.

Faktor lainnya, tidak memisahkan rekening tabungan dan kebutuhan sehari-hari. Hal ini dapat membuat keuangan tidak terencana dengan baik dan potensi kebocoran finansial pun akan semakin besar. Menurut Jeffrey, sebaiknya pisahkan rekening tabungan dan kebutuhan agar tujuan fnansial dapat tercapai.

Jeffey lalu memberikan sejumlah tips pengelolaan finansial terutama di masa pandemi yang belum diketahui kapan akan berakhir. “Pertama, sisihkan gaji di awal bukan di akhir untuk saving, maupun investasi. Kedua, upayakan pengeluaran tidak lebih dari 30-40 persen dari penghasilan. Ketiga, belilah sesuatu karena butuh bukan karena ingin,” ucapnya.

Keempat, dia menganjurkan untuk memberikan proteksi dari risiko yang tidak terduga di masa depan. Dalam hal ini, dia menyebut Asuransi Manulife juga memberikan perlindungan untuk Covid-19, bahkan salah satu produknya, asuransi Kesehatan, MiUltimate Healthcare (MiUHC), menyediakan manfaat coverage Covid-19 tanpa masa tunggu.

Kelima, hindari cicilan yang melebihi batas aman finansial. Menurutnya, upayakan tidak lebih dari 1/3 penghasilan yang dimiliki. Kemudian keenam atau terakhir, tidak ada salahnya untuk mencoba menambah penghasilan dengan skill yang kita punya, salah satunya menjajaki karier sebagai agen Manulife Indonesia dengan potensi penghasilan tanpa batas serta fleksibel, dan dapat dikerjakan dari rumah atau dimana saja.

Inovasi Asuransi Manulife

Dikatakan, Asuransi Manulife beradaptasi, berinovasi serta berkomitmen untuk memberikan layanan maupun solusi semakin hari semakin baik kepada para nasabahnya. Sejak awal mula pandemi melanda, Manulife Indonesia dengan cepat mengubah model bisnis dan menyesuaikan diri dengan menerapkan layanan non-face-to-face, dimana seluruh karyawan serta tenaga pemasar tetap memberikan layanan optimal kepada para nasabah dengan memaksimalkan penerapan teknologi.

Melengkapi kebutuhan nasabah yang beragam, sejak pandemi, Manulife Indonesia telah meluncurkan berbagai solusi melalui inovasi produk asuransi jiwa, kesehatan, penyakit kritis maupun menambah pilihan investasi dana investasi sektor properti. Produk-produk ini kami pasarkan melalui saluran distribusi baik, berupa saluran distribusi agen maupun bancassurance.

Saat ini Asuransi Manulife memiliki lebih dari 2 juta nasabah di seluruh Indonesia, dan Manulife Indonesia mempertahankan posisi modal yang solid untuk mendukung kegiatan usahanya dengan tingkat solvabilitas (RBC) sebesar 943 persen atau jauh di atas ketentuan kecukupan modal yang berlaku di sepanjang 2020. Angka ini menunjukkan posisi Manulife yang kuat, sehat dan solid dari segi finansial. Hal ini penting bagi nasabah maupun calon nasabah asuransi agar mereview terlebih dulu kinerja keuangan perusahaan asuransi sebelum memutuskan untuk membeli produk asuransi yang dituju.

Sejak pandemi Covid-19 melanda sekitar hampir 2 tahun terakhir, seiring dengan meningkatnya kebutuhan nasabah akan perlindungan kesehatan, produk yang paling banyak diminati adalah produk asuransi jiwa maupun kesehatan yaitu MiSmart Insurance Solution (MiSSION) dan MiUltimate HealthCare (MiUHC).

Menurut Jeffrey, Asuransi Manulife optimis dengan prospek asuransi di Indonesia, apalagi hasil survei Manulife Asia Care 2020, responden di Indonesia menyebutkan bahwa sebanyak 72 persen nasabah yang telah memiliki asuransi mengatakan bahwa mereka berencana membeli tambahan asuransi dalam 18 bulan ke depan. Hal ini jauh lebih tinggi dari rata-rata di kawasan Asia yakni sebesar 62 persen. Produk terkait penyakit kritis mencapai (34 persen), asuransi jiwa (30 persen), kesehatan (30 persen) dan rawat inap (29 persen) adalah produk- produk asuransi baru utama yang dipertimbangkan oleh para nasabah asuransi Indonesia.

Hanya saja diakui, rendahnya penetrasi asuransi di Indonesia yaitu 2,92 persen (data OJK 2020), mengindikasikan diperlukan solusi secara komprehensif untuk mendorong transformasi berasuransi serta perlunya awareness, sosialisasi literasi finansial yang lebih giat lagi kepada masyrakat luas.

“Melihat hal ini, Manulife konsisten menggulirkan program-program literasi keuangan, sebagai contoh baru-baru ini kami mengadakan roadshow webinar untuk meningkatkan pemahaman keuangan di sekitar enam kota di Indonesia dan telah diikuti lebih dari 1100 peserta baik karyawan, agen maupun keluarga agen dan karyawan serta komunitas setempat,” tutup Jeffrey Kie. (Yeffi Rahmawati )