BANGKA, ITN– Ke Bangka biasanya identik dengan mengunjungi wisata pasir putih atau wisata batu granit, tetapi di Bangka tak hanya itu, Sungai Upang yang merupakan Kawasan Konservasi Biodiversity di Kampung Tanah Bawah, Kecamatan Puding Besar, Kabupaten Bangka belum lama ini menjadi salah satu yang dikunjungi Indonesiatripnews.com.

Destinasi wisata Sungai Upang bukanlah destinasi yang populer di kalangan wisatawan Indonesia dan dunia, namun sudah cukup dikenal oleh masyarakat setempat. Perjalanan ke Sungai Upang dari Bandara Depati Amir, Pangkalpinang dapat ditempuh dalam waktu satu setengah jam via darat.

Walaupun saat itu hujan deras tak menyurutkan niat Indonesiatripnews.com untuk menyusuri beberapa potensi wisata yang bisa dinikmati di Kawasan Konservasi Biodiversity Sungai Upang ini, seperti menikmati keindangan sungai dan keindahan pepohonan di sekitar sungai. Sebelum menjadi kawasan konservasi di sungai yang luasnya hampir 10 Km ini sempat ditemukan ikan pesut yang terdampar hingga ke Sungai Upang.

Memasuki kawasan Sungai Upang tampak terlihat tulisan enam pilar konservasi di Sungai Upang yang antara lain yaitu Konservasi KEHATI, Konservasi Energi, Pengelolaan Kawasan yang Lestari, Arsitektur Hijau dan Transportasi Internal, Konservasi Etika, Seni dan Budaya, dan Kaderisasi Konservasi. Tulisan tersebut bertujuan untuk menyelamatkan pelestarian flora.

Bagi pengunjung yang ingin berswafoto di area Sungai Upang ini menjadi lebih menarik apalagi dilengkapi pondok peristirahatan dan jembatan bambu yang menjalar panjang.

Sungai  Upang ini juga dikenal dengan ikan tapah dan ikan khas air tawar lainnya. Ikan Tapah merupakan ikan khas dari Sungai Upang.  Nelayan di kampung tersebut pernah menangkap Ikan Tapah terbesar yang beratnya mencapai 70 Kg.

Di area sungai ini juga terdapat puluhan Anggrek yang ada di seluruh Indonesia yang di tanam secara masal oleh pemerintah desa setempat dan pihak terkait, walaupun sangat disayangkan habitat Anggrek tersebut hanya tersisa beberapa karena peristiwa kebakaran hutan beberapa waktu lalu.

Berkat dukungan nyata dari pemerintah dan pihak-pihak terkait, masyarakat lokal pun mulai melirik potensi wisata yang ada di Sungai Upang dan tiap akhir pekan datang ke kawasan ini.

Bagi pengunjung yang penasaran untuk melihat lebih jauh di sekeliling Sungai Upang, bisa mencoba naik perahu dengan membayar Rp10.000 per orang, dan Rp25.000 per orang jika ingin nyebrang ke Pulau Anggrek

“Keberadaa Sungai Upang sudah menjadi penyangga kehidupan para masyarakatnya, ada yang menjadi nelayan, supir perahu, dan usaha menjual makanan kecil di Kawasan Konservasi Biodiversity Sungai Upang ini,” ujar Kepala Desa Tanah Bawah, Holidi saat ditemui Indonesiatripnews.com.

Menariknya, selain air sungai yang sangat jernih, Sungai Upang juga masih sangat alami dan memiliki 25 jenis ikan yang hidup di sungai ini. Bahkan ikan-ikan tersebut sulit ditemukan di sungai-sungai lain, termasuk ikan tapah, ikan toma, ikan kepras, ikan baung, dan sebagainya

“Kawasan ini buka mulai pukul 09.00 hingga 18.00 WIB, biasanya pengunjung datang untuk melihat sunset, tetapi karena disini belum ada listrik, maka kita batasi jam kunjungannya jangan sampai larut malam,” jelasnya.

Pengunjung bisa datang walau sekarang fasilitas masih seadanya, bayar seiklasnya untuk kebersihan. Holidi pun menyampaikan harapannya agar keberadaan Kawasan Konservasi Biodiversity Sungai Upang ini bisa tetap terus dijaga dan tidak rusak.

“Khususnya bagi kami di Desa Tanah Bawah keberadaan Sungai Upang sangat penting artinya, saya berharap pengunjung terus menjaga kelestarian alam yakni hutan dan sungai agar dapat dterus dikembangkan yang nantinya dapat memakmurkan masyarakat desa,” ungkapnya.

Sementara Ketua Sahabat Alam Sungai Upang dan Ketua Kelompok Sadar Wisata, Hormen menambahkan, “Untuk wisata biodiversity insya Allah tahun 2022 sudah jadi. Sekarang ini masih dalam proses pembangunan dan pengembangan fasilitas di tempat. Kemungkinan kita akan mewajibkan pengunjung untuk menanam flora melaui bibit-bibit yang akan kami sediakan. Ini konsep wisata biodiversity kita nantinya”.

“Kedepannya kami juga akan membuat kegiatan kerajinan dari sisa sampah rotan,” tutup Hormen.(evi)