JAKARTA, ITN- SELESAI mengikuti acara pembukaan Festival Candi Muarajambi 2017, dan  untuk mengetahui lebih lanjut informasi Candi Muarajambi, Indonesiatripnews.com bersama rombongan dari Kementerian Pariwisata berkunjung ke Museum Siginjei, Jumat (12/5/17).

Museum Siginjei yang berlokasi di Jalan Urip Sumoharjo No 1 Jambi ini dulunya bernama Museum Negeri Provinsi Jambi atau Museum Negeri Jambi. Lalu pada 30 Oktoberi 2012 diubah namanya menjadi Museum Siginjei.

Alu dan lesung koleksi Museum Siginjei sebagai tempat bahan makanan yang akan ditumbuk, misalnya padi dan jagung.

Bentuk bangunan museum yang memiliki 10 jenis koleksi ini bercorak arsitektur rumah tradisional Jambi, yakni Rumah Kajang Lako dan Rumah Larik (Kerinci).

“Sepuluh jenis koleksi yang ada di museum ini diantaranya koleksi biologika, geologika, filologika, ethnografika, arkeologika, historika, numismatika/heraldika, keramologika, seni rupa, dan teknologi,” ujar Kepala Seksi Bimbingan dan Publikasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi, Masgia, SH.

Ada enam ruang yang dijelaskan Masgia saat berkunjung, dimulai dengan perjalanan melihat Ruang Loby yang memberikan informasi awal melalui peta pengenalan wilayah Jambi dan penjelasan mengenai lambang Provinsi Jambi.

Lanjut ke Ruang Potensi Alam yang menjelaskan koleksi yang berasal dari alam, seperti batuan, flora, dan fauna serta fosil kayu, dilanjutkan dengan pengenalan Jambi dari masa ke masa dengan benda budaya yang digunakan pada masanya.

Melihat koleksi Museum Siginjei.

Pengenalan informasi Candi Muarajambi terdapat di ruang ketiga, di ruangan inilah Indonesiatripnews.com mendapatkan informasi mengenai Candi Muarajambi dengan berbagai informasi Candi Muarajambi melalui peta dan foto persebaran candi baik sebelum dan sesudah eskapasi.

Ruang keempat, yakni Ruang Budaya Masyarakat Jambi, di ruangan ini dipamerkan miniatur rumah tradisional daerah Jambi serta koleksi budaya yang digunakan masyarakat mulai dari zaman berburu, bercocok tanam, pertanian, kerajinan, amben, pelaminan, pakaian adat berdasarkan suku yang ada di daerah Jambi, kamar tidur raja/sultan serta alat musik tradisional dan permainan tradisional masa lalu.

Dilanjutkan ke Ruang Miniatur Goa dimana di tempat ini pengunjung diperkenalkan dengan miniatur goa yang ada di Sungai Manau Kabupaten Merangin, yakni Goa Tiangko yang merupakan kediaman manusia purba, serta penemuan batu yang menakjubkan.

Pengunjung melihat koleksi masterpiece di Museum Siginjei.

Yang terakhir Ruang Khazanah Budaya Jambi, di ruangan ini dipamerkan koleksi budaya unggulan (master peace) yang diawali dengan temuan beberapa koleksi di area percandian Muarajambi dan temuan dari daerah lainnya, seperti Gong China, Arca Dewi, Fragmen Tangan Arca, Arca Budha, Bambu Bertulis, Stempel Wirokusumo dengan bahan kuningan dan kayu, Medali Turki, Baju Kurung Hiasan Emas, Piagam Bertulis, Cincin bahan emas dan batu permata, dan masih banyak lainnya.

Beberapa koleksi masterpiece, gong china, arca dewi, dan fragmen tangan arca yang berada di Ruang Khazanah Jambi.

Menurut Masgia, Gong China ini ditemukan di reruntuhan Candi Kembar batu Muarajambi. “Gong ini pemberian dari pengusaha China kepada pengusaha Melayu, terbuat dari perunggu. Berdasarkan tulisan yang terdapat pada bagian pinggiran gong, diperkirakan gong ini dibuat pada 1231,” ungkap Masgia.

“Medali Turki ini bukti persahabatn antara Kesultanan Jambi dengan Kesultanan Turki. Diberikan oleh Sultan Turki sebagai penghargaa kepada utusan Sultan Turki sebagai penghargaan kepada utusan Sultan Taha Saifuddin yang berkunjung ke Turki dalam upaya meminta dukungan Sultan Turki saat menghadapi Belanda di Jambi,” jelasnya.

Selain itu pada ruangan ini juga dipamerkan koleksi beberapa jenis keramik dari dalam dan luar negeri, seperti China, Thailand, Eropaa, Arab, dan Myanmar. Beberapa keramik China ditemukan di bawah air Selat Malaka.

Masgia (dua dari kiri) bersama Kepala Pengelola Museum, Dendy Denmark (tengah) dan staf Museum Siginjei.

Museum yang memiliki fasilitas ruangan audivisual, auditorium, perpustakaan, musholla, saung, dan pentas hiburan ini buka setiap Senin – Kamis pukul 08.00-11.00 WIB, Sabtu-Minggu pukul 08.00-13.00 WIB.

Kegiatan Museum Siginjei menurutnya selain pameran tetap juga ada pameran khusus, pameran keliling, museum masuk sekolah, lomba kreativitas siswa, workshop, penyajian audivisual, pegelaran seni, dan lain sebagainya. “Hari besar museum tutup, tiket masuk Rp2.000,” ungkap Masgia mengakhiri pembicaraan. (evi)