JAKARTA, ITN– PAMERAN Wasiat Agung Negeri Nusantara (WARISAN) akan kembali dihelat pada 22-25 Agustus 2019 di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan.

Memasuki tahun keempat perhelatan premium ini mengusung tema “Citra Bahtera Nusantara” dengan menampilkan tiga wasiat Indonesia, yaitu batik, tenun, dan mutiara.

“Tahun ini Pameran WARISAN menampilkan kurang lebih 130 stan dengan produk batik, tenun, dan mutiara yang berkelas dan bergaransi serta dijamin keasliannya,” ujar Direktur Mediatama Binakreasi, Umi Noor Wijiati saat jumpa pers di Jakarta, belum lama ini.

Umi mengatakan, “Batik yang akan ditampilkan hanyalah batik dari hasil penggunaan malam panas 100 persendengan aplikasi batik tulis, cap atau kombinasi (tulis dan cap)”.

Pameran ini juga menghadirkan pula hasil karya tenun NTT dan songket Palembang yang terkenal mewah.  Seperti tahun sebelumnya, kali ini juga dipamerkan mutiara laut Indonesia asli dan tersertifikasi.

Produk yang akan dipamerkan di Pameran WARISAN telah melalui proses kurasi yang dilakukan oleh tim kurator yang terdiri dari Komarudin Kudiya (kurator batik), Romi Oktabirawa (kurator batik), Dudung Alie Syahbana (kurator batik), Zainal Arifin (kurator tenun), dan Ratna Zhuhry (kurator mutiara)

Umi optimistis pameran kali ini bisa mencapai target transaksi Rp20 miliar naik dari Rp12,37 miliar pada 2018. “Diharapkan 10 ribu pengunjung datang ke pameran yang berlangsung empat hari. Kami tambah satu hari dari pameran sebelumnya cuma tiga hari. Tahun lalu pengunjung yang datang ke Pameran WARISAN mencapai enamribu orang,” paparnya.

Menurutnya, tahun ini panitia mengenakan tiket masuk pameran Rp100 ribu per orang. “Namun bagi pengunjung yang mengenakan batik, tenun atau mutiara, maka tiket masuknya gratis,” ujarnya.

Mediatama Binakreasi selaku penyelenggara pameran menggaransi peserta yang ikut serta dalam perhelatan ini hanya menjual produk asli. “Bagi yang kedapatan menjual produk tiruan akan dikenakan sanksi, yaitu membayar dua lali lipat dari harga jual ke konsumen dan tahun depan tak diizinkan ikut pameran lagi. Kurator yang akan menentukan apakah produk yang dijual itu asli atau palsu,” ungkapnya.

Kurator batik, Komar menegaskan, para peserta pameran diminta meneken pakta integritas yang menyatakan produk yang mereka jual memang asli. “Kami kurasi dan sesekali akan sidak ke peserta secara acak,” jelasnya.

“Pembeli bahkan bisa minta sertifikat keaslian saat membeli produk dan bisa menunjukkan produk yang dia beli kepada kurator untuk mengecek keasliannya. Jika terbukti palsu, maka penjual kena denda 200% atau dua kali lipat dan harus membayar ke pembeli,” ujarnya lebih lanjut..

Sementara pada kesempatan yang sama Ratna, kurator mutiara mengatakan, Pameran WARISAN berupaya memaparkan anak-anak generasi milenial dengan mutiara. Kalau bisa mahar dan mas kawin diganti mutiara, tidak melulu emas,” ujarnya.

Menurut Ratna, mutiara Indonesia merupakan salah satu yang terbaik di dunia. Mutiara bisa diwariskan ke anak cucu dan memiliki nilai tersendiri yang tak lekang oleh zaman.

Pamor mutiara di Indonesia diakui masih kurang kinclong dibandingkan batu mulia lain, misalnya berlian. “Tapi di balai lelang internasional semacam Christie’s mutiara yang dilelang mencapai angka fantastis US$400.000.

Untuk menjaga mutiara dalam kondisi baik,

Ratna juga memberikan tips menjaga mutiara agar kondisinya tetap baik, seperti menjauhkan dari wewangian atau parfum. Kalau terkena wewangian agar segera mencuci dengan air mineral dan mengeringkannya dengan kain lembut. (evi)