- iklan -

JAKARTA, ITN- GELAR Batik Nusantara (GBN) 2019 yang berlangsung pada 8-12 Mei 2019  diresmikan Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto bersama istri Wakil Presiden Mufidah Jusuf Kalla, di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Rabu (8/5/19).

Tema “Lestari Tak Berbatas” diangkat demi mendorong pemasaran batik hingga ke pasar internasional.

Airlangga Hartanto menargetkan ekspor batik tumbuh hingga 8 persen di 2019. Hal tersebut, dibandingkan dengan pertumbuhan ekspor sebesar US Dollar (USD) 52,44 juta atau setara Rp734.160.000.000 pada 2018. Dengan pasar utama Jepang, Amerika, dan Eropa.

Airlangga mengatakan, pihaknya akan terus berupaya mendorong pemasaran batik ke luar negeri. Sehingga nilai ekspor bisa terus merangkak naik.

“Ekspor batik tentu mempunyai pasar yang cukup besar. Nilainya mendekati USD 60 juta per tahun, ini kita dorong terus,” ujar Airlangga usai membuka GBN 2019.

Menurutnya dibutuhkan inovasi pada produk batik, guna diminati hingga ke mancanegara. Tentu hal itu bisa dilakukan dengan dukungan teknologi. “Produk ini kan sekarang punya perkembangan material. Bahannya apakah itu dari serat, rayon apakah itu dari biji kapas, dengan demikian ada teknologi pewarnaan. Kita lihat banyak kolaborasi desain bagaimana mencampur batik dengan yang lain seperti dengan tenun,” ungkapnya.

“Masih terdapat tantangan untuk memasarkan batik. Terutama soal desain. Desain batik harus bisa mengikuti perkembangan zaman. Tantangan tentu desain, namanya lifestyle tergantung pada desain dan tergantung pada selera publik. Tapi kita lihat bahwa banyak batik yang sudah desain-desainnya modern,” ujarnya lebih lanjut.

Ia mengatakan, “Batik menjadi identitas bangsa yang semakin populer dan mendunia. Batik saat ini bertransformasi menjadi berbagai bentuk fashion, kerajinan dan home decoration yang mampu menyentuh berbagai lapisan masyarakat baik di dalam maupun luar negeri”.

Dalam Gelar Batik Nusantara yang digelar selama 5 hari ini, Kemenperin juga terus memacu perkembangan Industri Kecil Menengah (IKM) pada sektor batik. Agar diharapkan memiliki peran penting bagi perekonomian nasional dan menjadi penyumbang devisa negara.

Industri batik diketahui merupakan salah satu sektor pembuka lapangan pekerjaan, didominasi IKM yang tersebar di 101 sentra. Tak ayal, jumlah tenaga kerja yang terserap di sentra IKM batik mencapai 15 ribu orang pada 3.782 unit usaha. Tercatat jumlah tenaga kerja dari batik hingga hulunya menyerap tenaga kerja di tekstil sebanyak 680 ribu orang.

Selain pameran, dalam kegiatan tersebut juga digelar workshop tentang batik yang diikuti 25 pelajar dari SMKN 27 Jakarta. Galeri Batik Nusantara tidak hanya dihadiri istri Wakil Presiden RI, Mufidah Jusuf Kalla yang mendapat penghargaan batik tertinggi, selaku Ketua Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas). Pameran ini juga dihadiri Ketua Yayasan Batik Indonesia, Yultin Ginanjar Kartasasmita, juga para duta besar dari negara sahabat. (sishi)

- iklan -