JAKARTA, ITN – ASPERAPI, FEBRUARI. Hosea Andreas Runkat, terpilih secara aklamasi dalam (Munas ASPERAPI XI) Musyawarah Nasional Asosiasi Perusahaan Pameran Indonesia ke 11 untuk menjabat kembali sebagai Ketua Umum periode 2022-2025 mendatang.

Di area Munas yang berlangsung di Jakarta Convention Center pada hari Kamis, (24/02/2022) Ketum ASPERAPI yang akrab disapa Andre ini menegaskan, Munas ASPERAPI ke-11 akan dijadikan momentum untuk kebangkitan industri Meeting Incentive Convention Exhibition (MICE) tanah air.

“Munas ASPERAPI ke 11 ini menjadi titik awal kebangkitan industri MICE tanah air yang sempat terpuruk akibat pandemi Covid-19, sekaligus akan menjadi momen untuk berkolaborasi dan bersinergi baik dengan pemerintah pusat maupun pemerintah daerah serta para pemangku kebijakan lainnya,” terang Andre.

Semenjak pandemi Covid-19 merangsek ke Indonesia hingga saat ini, industri MICE—utamanya pameran atau exhibition belum kembali normal seperti yang terjadi pada tahun 2019 lalu.

Menurut data ASPERAPI yang disampaikan Andre dalam Munas, kondisi pameran tahun 2019, jumlah pameran Business to Business (B2B) sebanyak 172 event, kemudian untuk Business to Consumer (B2C) sebanyak 98 pameran, sementara itu untuk skala internasional 169 pameran dan untuk skala nasional mencapai 270 pameran.

Memasuki tahun 2020, jumlah pameran B2B sebanyak 144, B2C tercatat 123 pameran, dengan rincian 154 pameran internasional dan 113 pameran skala nasional. Namun, di tahun awal pandemi Covid-19 masuk ke Indonesia ini telah memangkas sejumlah pameran sangat jamak.

“Tahun 2020 hanya mampu menggelar 28 pameran atau hanya 10 persen saja. Sebanyak 239 atau 90 persen pameran batal terselenggara, akibat Covid-19,” urai Andre.

Memasuki tahun 2021, kondisi industri pameran mulai sedikit merangkak naik. Meski secara daftar jumlahnya sangat kecil yakni hanya 64 pameran, namun mampu terlaksana sebanyak 42 penyelenggaraan.

“Pameran tersebut dapat terlaksana atau mendapat rekomendasi penyelenggaraan dari pemerintah pusat maupun daerah di seluruh Indonesia. Ada 18 pameran yang terlaksana di wilayah Jabodetabek, dan 24 pameran dari luar Jabodetabek,” rinci Andre.

Ia melanjutkan, untuk luas area pameran mencapai 450.360 square meter dengan jumlah pengunjung mencapai 680.826 orang. Ada 41 pameran dengan skala B2C yang terlaksana dan hanya 1 pameran berskala B2B.

Dengan jumlah pameran tersebut tercatat ada 1.486 peserta dari institusi, lembaga, atau perusahaan. Sementara untuk jumlah transaksi pameran yang terjadi di tahun 2021 yakni sebesar Rp9,2 Trikiun,” detail Andre.

Besar harapan, di tahun 2022 ini kita sudah bisa menyelenggarakan pameran tanpa khawatir dengan pembatasan sewaktu-waktu dan kembali bersinar dan memberikan kontribusi dalam meningkatan perekonomian Indonesia.

“Kendala saat ini terjadi untuk pameran dengan skala B2B, karena ada keterkaitan dengan border internasional. “Harapannya Juli mendatang, pameran B2B sudah mulai terealisasi, karena beberapa negara tetangga pun sudah mulai berjalan,” harapnyanya.

Recovery Industri MICE Tanah Air
Dikesempatan yang sama Masruroh, Direktur Wisata Pertemuan, Insentif, Konvensi dan Pameran (MICE) Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menyampaikan, Kemenparekraf akan terus meningkatkan kolaborasi dengan ASPERAPI.

Sebagaimana diketahui, bahwasannya spending money wisatawan MICE ini lebih besar disbanding wisatawan leisure. Selain itu, penyelenggaraan event MICE seperti pameran ini memiliki multiplier effect yang sangat besar. Salah satunya banyak tenaga kerja yang terserap.

“MICE tahun ini Insya Alloh jauh lebih baik dari tahun kemarin. Terlebih lagi tahun ini, Indonesia menjadi keketuan G20 yang harus berjalan secara in persion, sesuai dengan arahan Presiden,” katanya.

Andre kembali menambahkan, ada sejumlah pameran yang diprediksi mengalami recovery paling cepat di antaranya adalah, pameran consumer goods, auto show, dan pameran kerajinan.

Untuk merecovery di industri pameran Akibat pandemi Covid-19, para pelaku industri pameran pun harus merubah mindset. Digitalisasi dunia pameran menjadi suatu kewajiban. Sebab, jamannya sudah berbeda.

Kemudian, harus didukung pula dengan kebijakan seperti tidak adanya lagi PPKM dan atau pembatasan lainnya di tahun ini baik setelah lebaran dan seterusnya. Jika ini berjalan lancer, mungkin sudah 85 persen ada penyelenggaraan event, dan tahun 2023 mendatang sudah kembali normal seperti yang terjadi pada tahun 2019 lalu. [*1]