JAKARTA, ITN- FRISIAN Flag Indonesia sebagai salah satu produsen produk-produk nutrisi berbasis susu telah memulai inisiatifnya untuk memberikan perhatian lebih dalam upaya meningkatkan pencapaian status kesehatan dan gizi menjadi lebih baik untuk anak-anak melalui pelaksanaan program Gerakan Nusantara yang telah berlangsung sejak 2013.

“Gerakan ini didukung oleh ajakan menerapkan ‘Drink.Move.BeStrong’ yang menekankan pentingnya perilaku asupan gizi yang positif dan minum susu rutin serta bergerak aktif pada anak-anak untuk membentuk generasi kuat dan sehat,” ujar ujar Corporate Affairs Director Frisian Flag Indonesia Andrew F Saputro pada acara pemaparan pencapaian serta  hasil survei progran Gerakan Nusantara 2017 di Jakarta, Kamis (1/2/18).

Dalam pelaksanaan program Gerakan Nusantara, Frisian Flag Indonesia bekerjasama dengan Pusat Kajian Gizi dan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia dan didukung oleh Kementerian Pendidikan dan Budaya Republik Indonesia serta Dinas Pendidikan setempat.

Sebagai penyempurnaan penyelenggaraan program Gerakan Nusantara di tahun-tahun sebelumnya, tahun 2017 Frisian Flag Indonesia menambahkan kegiatan Traning of Trainer (TOT) untuk para guru.

Sebanyak 2,134 guru yang terbagi dalam tiga kelompok yakni kepala sekolah, guru kelas IV dan guru kelas V telah mendapatkan pelatihan dalam program Training of Trainer (TOT) yang berlangsung di 740 sekolah di delapan propinsi. Gerakan Nusantara juga berhasil menjangkau 520,815 siswa yang mengikuti edukasi tentang pengetahuan, sikap dan perilaku gizi positif.

Program Gerakan Nusantara 2017 menunjukkan hasil yang positif sebagaimana disampaikan oleh Ketua Pusat Kajian Gizi dan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Ir. Ahmad Syafiq, MSc, PhD, “Keterlibatan guru dalam kegiatan edukasi gizi kepada anak-anak memberikan hasil yang positif. Jika tahun-tahun sebelumnya edukasi hanya ditujukan kepada anak-anak disekolah, tahun lalu kami mengubah pendekatan itu”.

“Kami melibatkan guru-orang tua-siswa dan menciptakan sebuah ekosistem belajar yang lebih kondusif dan berkelanjutan, guru memiliki pengetahuan gizi yang lebih baik dan dapat menginspirasi anak-anak untuk menerapkan perilaku gizi yang lebih baik,” ungkapnya.

Orang tua pun menurutnya mendapatkan edukasi gizi melalui seminar yang disampaikan oleh guru-guru yang telah diberikan pembekalan melalui program Training of Trainer (TOT) dan menjadi pendukung yang penting dalam menyiapkan makanan bergizi bagi keluarga di rumah.

Tahun lalu Gerakan Nusantara mengunjungi 24 kota di delapan propinsi di Indonesia untuk meningkatkan pengetahuan tentang gizi dan kesehatan termasuk di dalamnya penjelasan mengenai Pedoman Gizi Seimbang (PGS) sederhana, konsumsi susu, sarapan sehat, aktivitas gerak luar ruang, dan jajanan sehat.

Pendidikan gizi kepada anak adalah langkah yang efektif mengingat anak yang berada pada fase perkembangan kecerdasan, motorik, dan psikososial sangat mudah untuk menerima, menyerap dan mengaplikasikan materi pendidikan untuk diri sendiri ataupun untuk disampaikan kepada orang tua atau keluarga di rumah.

Untuk mengukur keberhasilan program Gerakan Nusantara 2017, Pusat Kajian Gizi dan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia melaksanakan survei indikator pengetahuan, sikap dan perilaku guru serta siswa yang mengikuti program pelatihan dan edukasi gizi Gerakan Nusantara 2017 di tiga kota, yaitu Pekanbaru, Padang, dan Jambi.

Hasil survei menunjukkan; komponen pengetahuan dari guru dan siswa mengenai gizi positif meningkat 11,1% dengan pesan tentang Pedoman Gizi Seimbang menunjukkan peningkatan pemahaman terbesar, komponen sikap terhadap perilaku gizi positif dan aktif bergerak di luar ruang, baik sebelum dan sesudah tes, juga meningkat meskipun secara umum sikap gizi ini sudah dipahami oleh para guru dan siswa, dan perilaku gizi menunjukkan peningkatan, perilaku siswa dan guru dalam mengonsumsi makanan yang bergizi meningkat secara signifikan sebesar 9,7%.

Perubahan-perubahan ini merupakan temuan positif bagi Frisian Flag Indonesia untuk terus menyebarkan pesan tentang kebaikan gizi dan mendorong agar anak aktif bergerak di luar ruang.

Guru sebagai sosok pengganti orang tua di sekolah yang lebih sering bertemu dengan anak-anak merupakan komponen dalam ekosistem pendidikan yang penting untuk menjaga penyebaran pesan yang berkelanjutan kepada generasi selanjutnya.

“Kami semakin bersemangat untuk terus mengedukasi perilaku gizi positif kepada anak, guru dan orang tua di Indonesia, melalui ekosistem belajar yang sangat kondusif di sekolah,” tambah Andrew.

Ia mengatakan, “Ke depannya Frisian Flag Indonesia bersama Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia akan terus menyempurnakan program Gerakan Nusantara dan memfokuskan pada efisiensi dan kemandirian program pendidikan gizi di sekolah dasar, dengan harapan dapat mendukung dan berkontribusi terhadap pencapaian status kesehatan dan gizi anak Indonesia”.

“Hal ini sejalan dengan komitmen Frisian Flag Indonesia untuk membangun Keluarga Indonesia yang sehat dan kuat dimanapun kami berada,” tutup Andrew.

Hingga pelaksanaan tahun 2017, program Gerakan Nusantara berhasil menjangkau 2,510 sekolah, 1,376,335 siswa, dan 19,161 guru (2,134 guru menerima ToT secara langsung). (*/evi)