JAKARTA, ITN – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno, menjelaskan bahwa pemerintah di seluruh dunia harus mampu berinvestasi dalam usaha literasi digital dan finansial, serta mampu memberikan akses dan bantuan terhadap pangsa pasar dan ekonomi baru untuk menyikapi berbagai tantangan modern yang terjadi.

Hal ini disampaikan Menparekraf Sandiaga saat menghadiri dan menjadi pembicara pembuka “Creative Industries and Trade Digitization Forum” yang merupakan bagian dari Konferensi Kuadrenial Badan PBB untuk Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) ke-15 atau UNCTAD15, yang dilaksanakan secara daring dari Barbados.

“Pemerintah di seluruh dunia harus berinvestasi dalam literasi digital dan finansial, serta menyediakan akses dan bantuan ke pangsa pasar dan ekonomi baru,” ujar Sandiaga, Rabu (29/9/2021).

Konferensi Kuadrenial UNCTAD15 merupakan konferensi rutin UNCTAD yang mengumpulkan berbagai lapisan pemangku kepentingan dunia dalam bidang perdagangan dan pembangunan. Setelah ditunda setahun akibat pandemi Covid-19, pelaksanaan UNCTAD15 tahun ini juga bertepatan dengan momentum Tahun Internasional Ekonomi Kreatif untuk Pembangunan Berkelanjutan 2021, yang diinisiasi oleh Indonesia dan didukung oleh UNCTAD dan 81 negara co-sponsor.

Lebih lanjut dalam pemaparanya Menparekraf menjelaskan, kini terdapat beberapa tantangan modern yang terjadi. Seperti semakin luasnya kesenjangan digital di dunia dan perubahan moda kerja ke arah digitisasi yang membuka peluang eksploitasi lebih lanjut.

Karenanya, selain investasi dalam bidang literasi digital dan finansial, perlindungan privasi, kesehatan, dan jaring pengaman sosial bagi pekerja kreatif dan digital juga diperlukan.

“Moda kerja digital membuka peluang eksploitasi. Batasan antara ‘rumah’ dan ‘kantor’ semakin buram, dengan jam kerja yang tidak masuk akal. Ini merusak kesehatan fisik dan mental kita. Selain itu, pekerja kreatif juga berpeluang untuk dibayar dengan tidak layak di banyak kesempatan, dengan kondisi yang semakin tidak menentu, pemerintah harus dan butuh berada di sisi para pekerja ini,” jelas Sandiaga.

Dalam isu industri kreatif dan digitisasi perdagangan, Sandiaga menambahkan bahwa perdagangan digital memberikan kesempatan bagi para pekerja kreatif dan pemerintah secara luas. Di mana seniman dapat menunjukkan karya dan melindungi keasliannya melalui Non-fungible Tokens (NFT). Pemerintah juga dapat mulai merangkul blockchain untuk mempraktikkan tata kelola dan akuntabilitas yang adil dan transparan.

“Kata-kata ini mungkin tampak futuristik, tapi inilah masalahnya, masa depan kita sudah di depan kita. Suka atau tidak,” tambahnya.

Pada akhir sambutannya, Menparekraf Sandiaga mengutip salah satu peribahasa Barbados, yakni ‘One Hand Can’t Clap’, yang berarti kerja sama dan kolaborasi yang aktif dibutuhkan untuk menyelesaikan semua permasalahan. Oleh karenanya, Menparekraf menegaskan dengan mengajak semua pihak untuk berkolaborasi agar dunia sejahtera.

“Inilah waktunya kita semua untuk kerja bersama, maju bersama, bertahan bersama, untuk dunia yang sejahtera, bersama,” tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Jenderal UNCTAD, Rebeca Grynspan, menyampaikan pentingnya investasi digital secara inklusif dan luas.

“Perubahan sosial yang cepat seringkali berpengaruh pada industri kreatif. Kita harus berinvestasi pada infrastruktur digital dan harus dilaksanakan secara inklusif. Sangatlah krusial bagi dunia untuk menuju kenormalan yang baru, dan negara-negara harus mengadopsinya sesuai dengan kelayakan pembangunan mereka,” ujar Rebeca.

Sementara itu, Perdana Menteri Barbados, Mia Mottley, sebagai tuan rumah UNCTAD15 menegaskan jika teknologi dan digitisasi merupakan alat bagi dunia untuk menjaga keberlangsungan budaya dan kreativitas.

“Industri Kreatif dan Budaya adalah suatu hal yang membuat umat manusia menjadi manusia yang seutuhnya. Jika kita ingin mentransformasi sebuah bangsa, kita harus mulai dan akhiri dengan kreativitas, kebudayaan, dan pendidikan,” ungkap Mia.