JAKARTA, ITN- Hampir semua sektor bisnis di dunia dan indonesia mengalami dampak langsung maupun tidak langsung dari wabah COVID-19. Pelaku- pelaku usaha di Provinsi Aceh juga tidak sedikit yang merumahkan karyawannya bahkan ada juga yang harus menutup total bisnisnya.

Ija Kroeng yg merupakan brand lokal yang memproduksi kain sarung etnik Aceh dan pakaian muslim pria milenial juga merasakan efek dari lockdown yang diberlalukan hampir diseluruh dunia.

Sarung brand Ija Kroeng by desainer Khairul Fajri. foto dok/Ija Kroeng.

Pada saat awal diberlakukannya jam malam oleh Pemerintah Aceh pertengahan Maret 2020, workshop ija kroeng terpaksa menghentikan aktivitas produksi selama seminggu karna tenaga kerja tidak diperbolehkan keluar dari kampung tempat tinggal mereka. Disaat itu pula penjualan mengalami penurunan hampir 99 persen.

Setelah ada anjuran dari WHO supaya masyarakat memakai masker kain sebagai salah satu upaya untuk mencegah penyebaran virus corona, permintaan akan masker kainpun meningkat tajam sehingga mengakibatkan kelangkaan masker dan harga yang tidak normal dipasar.

Demand yang besar ini dimanfaatkan oleh masyarakat umum untuk memproduksi masker kain standar untuk dipakai sendiri maupun dijual. Tidak sedikit pebisnis dari sektor lain seperti kulineri “membanting stir” mengambil peluang untuk memproduksi masker kain juga.

Sektor bisnis fashion khususnya yang memproduksi sendiri produknya atau minimal memiliki mesin jahit menurut owner Ija Kroeng, Khairul Fajri Yahya pada acara Indonesian Fashion Chamber (IFC) dalam Sharing Session bertajuk “Dampak Positif Pandemi” (22/6/20) merupakan salah satu sektor bisnis yang paling mampu untuk bertahan karna masih bisa memproduksi produk- produk yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat dan team medis seperti masker dan APD.

Di Aceh, tidak semua rumah produksi memiliki mesin jahit sekaligus perlengkapan printing kain. Workshop Ija Kroeng yang memiliki mesin jahit dan peralatan manual printing mengambil kesempatan ini untuk memproduksi masker berlogo brand Ija Kroeng.

“Pada saat itu permintaan  masker Ija Kroeng sangat tinggi sehingga kami batasi perorang bisa membeli 10 pcs,” ujar Khairul.

Selain menjual langsung masker berlogo brand Ija Kroeng di media sosial dan di workshop, strategi marketing lainya dilakukan dengan memproduksi sample masker berlogo instansi atau perusahaan seperti Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan Aceh, Museum Aceh, Aceh Business Club dan lainya yang dianggap memiliki kemungkinan besar untuk memesan masker dalam jumlah besar untuk dibagikan kepada masyarakat.

Kemudian foto sample maskernya dipromosikan langsung ke relasi yang ada di instansi dan perusahaan tersebut. Tidak menunggu lama, orderan masker kain berlogo custompun datang sehingga harus menambah karyawan untuk mempercepat kapasitas produksi.

Masker Ija Kroeng by desainer Khairul Fajri. foto. dok, Ija Kroeng)

“Secara tidak langsung momen ini sangat membantu untuk menyebarkan informasi tentang brand kita kepada konsumen baru yang selama ini tidak bisa dijangkau, menjaga eksistensi dan menguatkan posisi brand dimata konsumen,” ungkapnya.

Hal ini bisa dilihat dari bertambahnya follower di media sosial yang siknifikan sehingga berefek kepada penjualan bulanan khususnya selama bulan Ramadhan terhadap produk utama seperti kain sarung, celana sarung, dan baju  muslim pria.

Setelah dimulainya new normal dimana masyarakat sudah bisa beraktivitas seperti biasa walaupun ada pembatasan-pembatasan untuk mencegah kembali penyebaran COVID-19. Acara- acara pernikahan di mesjid juga sudah mulai diselenggarakan kembali dengan salah satu syaratnya ialah semua orang wajib memakai masker.

Tak hanya itu, Ija kroeng juga melihat ada peluang dan segera berinovasi lagi memproduksi masker kain bertuliskan nama pasangan pengantin sebagai souvenir, kemudian masker ini dibagikan kepada seluruh orang yang datang ke acara pernikahan tersebut

Menurutnya berkat doa dan saling menyemangati sesama team work dan juga organisasi, alhamdulillah tidak ada karyawan Workshop Ija Kroeng yang di PHK.

“Disetiap ada kesusahan pasti ada peluang peluang baru kalau kita masih berfikir positif dan selalu berinovasi sehingga dimasa pandemik seperti sekarang ini kita masih bisa mempertahankan bahkan bisa lebih membesarkan bisnis kita. Semoga wabah virus corona ini segera berlalu, sukses selalu untuk kita semua,” tutup Khairul. (evi)