YOGYAKARTA, ITN- LIBURAN ke Yogyakarta bukan yang pertama kali untuk Indonesiatripnews.com, namun Yogyakarta yang terus mempercantik diri dengan berbagai macam destinasi wisata barunya disertai kulinerannya membuat kota ini terus menjadi magnet bagi wisatawan untuk selalu kembali datang.

Yogyakarta yang penuh dengan wisatawan baik wisatawan mancanegara (wisman)  dan wisatawan nusantara (wisnus) membuat hotel-hotel di sepanjang jalan utama, seperti Jalan Malioboro penuh.

Dermaga Hotel Keluarga yang terletak di Jalan RE Martadinata No 69  Wirobrajan, Yogyakarta menjadi pilihan untuk bermalam selama dua hari di Kota Gudeg ini. Ada sensasi yang berbeda menginap di hotel ini.

Unik dan menarik melihat konsep hotel yang bangunannya didesain menyerupai anjungan atau ruang kemudi kapal tempat kemudi kapal berada. Mengesankan suasana kelautan mulai dari lobby hotel, kamar, ruang makan, bahkan persis di depan lobi hotel terdapat sebuah Museum Bahari. Menyenangkan sambil menginap bisa gratis masuk ke Museum Bahari.

Replika kapal laut yang berada di depan pintu masuk hotel diibaratkan sebagai garda terdepan mempertahankan wilayah perairan Nusantara yang melambangkan bahwa hotel ini akan melayani tamu dengan sepenuh hati bagaikan menjaga ibu pertiwi. “Dermaga Hotel Keluarga ini ada dua, yang satu lagi namanya Dermaga Hotel Keluarga Sonosewu yang berada di barat Kota Yogyakarta,” ujar edukator Museum Bahari, Ika kepada Indonesiatripnews.com.

Namun menurutnya,  yang ada museumnya hanya di Dermaga Hotel Keluarga Wirobrajan. Museum Bahari Yogyakarta ini resmi didirikan pada 25 April 2009 atas prakarsa Pembina Paguyuban Tri Sekar lestari yang juga pemilik hotel Dermaga, Laksamana Madya TNI (Purn) Y Didik Heru Purnomo.

Tujuan dari didirikannya museum ini untuk membuka wawasan dan pengetahuan tentang kelautan dalam arti yang seluas-luasnya bagi bangsa Indonesia, khususnya generasi muda.

Laksamana Madya (Purn) TNI Y Didik Heru Purnomo yang menghibahkan tanah beserta bangunan miliknya untuk kepentingan Museum Bahari Yogyakarta ini memiliki sejumlah koleksi barang yang berhubungan dengan dunia kelautan. Barang-barang koleksi tersebut diperoleh dari cindera mata yang dibawa dari luar negeri, koleksi pribadi pemilik museum, juga pemberian dari rekan-rekan kerja di TNI AL.

Di depan pintu masuk museum tampak terlihat prasasti yang ditandatangi sejumlah pejabat kelautan dengan tulisan “DIY Procinsi Agraris, miskin wawasan bahari padahal DIY bagian dari negara kepualauan yang terbesar di dunia. Peresmian Museum Bari menjawab tantangan tersebut. Sekali layar terkembang pantang surut”.

Ada sekitar 800-an koleksi di museum ini. Beberapa koleksi museum yang menarik pengunjung, diantara meriam, bom dan ranjau laut, torpedo, radar dan sonar, kompas magnet, kemudi kapal, miniatur berbagai jenis kapal perang, miniatur pesawat terbang, kelengkapan TNI, radio komunikasi, dll.

Museum yang buka mulai pukul 08.30-16.00 WIB ini juga dilengkapi dengan ruang audiovisual, pengunjung dapat menyaksikan pemutaran film dokumenter tentang dunia kemaritiman Indonesia mulai zaman Soekarno hingga saat ini. (aka)