- iklan -

JAKARTA, ITN- Indonesia dipersatukan oleh kesediaan untuk terus merawat perbedaan. Bakti Indonesia hadir bukan sekadar sebagai kegiatan sosial tahunan, melainkan ikhtiar menjaga janji kebangsaan bahwa penderitaan manusia selalu layak ditolong tanpa memandang latar belakang.

Memasuki hari ketiga sekaligus puncak perhelatan yang berlangsung pada Sabtu (8/8/2026), gerakan tahun keempat ini menyatukan ribuan warga di Kelenteng Agung Sam Poo Kong, Semarang, sebuah situs bersejarah yang melambangkan penghormatan atas keberagaman sejak era Laksamana Cheng Ho.

-iklan-

“Bagi kami, Kelenteng Agung Sam Poo Kong bukan hanya situs sejarah, melainkan metafora Indonesia. Di sini kita belajar bahwa manusia boleh berbeda keyakinan, tetapi tetap bertemu dalam kebaikan,” ujar Dra. Hj. Mulia Jayaputri, MPA, Psikolog, penggagas Bakti Indonesia dari gerakan Bakti Nusantara.

Baca juga: https://indonesiatripnews.com/gaya-hidup/kesehatan/tiga-edukasi-kesehatan-pada-puncak-kegiatan-bakti-indonesia/

Rangkaian acara hari ketiga ini melanjutkan antusiasme tinggi dari hari sebelumnya, di mana sekitar 5.000 warga setempat diperkirakan memperoleh manfaat langsung melalui berbagai layanan gratis. Di bidang kesehatan, ratusan tenaga medis mengerahkan pemeriksaan darah, rekam jantung, mata, gigi, tes laboratorium, deteksi kanker, hingga pembagian ribuan paket vitamin.

Sementara di bidang psikologi, pakar dari Universitas Jayabaya dan Universitas Padjadjaran memberikan konsultasi bagi keluarga maupun perorangan. Kegiatan ini turut dilengkapi dengan seminar kesehatan dan finansial keluarga, seminar edukatif, serta bazaar UMKM setempat. Di balik deretan pelayanan tersebut, lahir kisah-kisah menyentuh tentang para lansia yang merasa didengar hingga keluarga yang kembali menemukan harapan.

Puncak Bakti Indonesia di Sam Poo Kong, Menjadikan Semarang Kota Tujuan Wisata Medis Berbasis Kemanusiaan
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Kota Semarang, Dr. dr. Mochamad Abdul Hakam, Sp.PD, FINASIM. Foto. ist

Penyelenggaraan yang berkesinambungan hingga hari puncak ini menumbuhkan perkembangan makna, dari kolaborasi lintas agama menjadi sinergi seluruh elemen masyarakat. Menurut Ketua Pelaksana Bakti Indonesia ke-4, Jovita Navy Setyawati, maraknya dukungan lintas sektor menjadi pertanda gembira bahwa merawat keberagaman telah menjadi ikhtiar bersama.

Mulia Jayaputri, penerima anugerah Adhi Karya Wisata dan Women of the Year 2024 yang juga membawa restoran Bungarampai meraih Restaurant Culinary Excellence 2025/2026, menambahkan bahwa kepedulian yang lahir tanpa memandang identitas menunjukkan wajah terbaik Indonesia.

Keberhasilan gerakan ini terwujud berkat sinergi dari Siloam International (LIPPO Group), Pertamina Hulu Energi, Bank Mandiri, dan Yayasan Rafi dan Ramy sebagai pendukung utama. Dukungan tersebut diperkuat oleh mitra korporasi seperti Zantob, Dulux, dan Indofood; mitra pemerintah dan lembaga seperti BAZNAS dan Dinsos Pemprov Jateng; serta mitra kesehatan dan komunitas perempuan seperti Yayasan Kanker Indonesia, RSUP Dr. Kariadi, RS Telogorejo, PPLIPI, Sahabat Lestari, Sahabat Kartini, Perempuan Laju Perkasa, dan Amira.

Bagi penyelenggara, ukuran keberhasilan tertinggi bukanlah jumlah peserta, melainkan ketika masyarakat percaya bahwa ruang ibadah dapat menjadi ruang perjumpaan kemanoiaan di tengah perbedaan. “Ucapan terima kasih terdalam kepada seluruh donatur dan pendukung acara. Terima kasih khusus kepada Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, yang menjadi pendorong terciptanya gagasan Bakti Indonesia sejak awal mula derma ini diselenggarakan,” tutup Mulia Jayaputri.

Menjadikan Semarang Kota Tujuan Wisata Medis Berbasis Kemanusiaan

Sinergi pelayanan kesehatan masyarakat yang meluap pada hari ketiga di Sam Poo Kong tersebut selaras dengan pilar besar yang tengah dibangun oleh Pemerintah dan praktisi medis setempat, mewujudkan Kota Semarang sebagai destinasi medical tourism utama. Melalui konsep ini, masyarakat diharapkan tidak hanya datang untuk berobat, tetapi juga bisa menikmati liburan, kuliner, dan suasana kota tanpa rasa jenuh.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Kota Semarang, Dr. dr. Mochamad Abdul Hakam, Sp.PD, FINASIM, menyampaikan bahwa Kota Semarang telah lama dikenal sebagai pusat rujukan utama untuk berbagai kompetensi di bidang kesehatan, mulai dari penanganan kasus onkologi (kanker/keganasan) hingga layanan estetika dan wellness.

“Kehadiran medical tourism di Kota Semarang ini harapannya membuat masyarakat bisa menikmati liburan (healing) sekaligus memeriksakan kesehatannya,” ujar Dr. Hakam dalam keterangannya.

Layanan kesehatan modern masa kini tidak lagi sekadar menangani penyakit kronis, melainkan meluas hingga aspek kualitas hidup dan perawatan diri (wellness). Salah satu hal menarik yang disoroti oleh Dr. Hakam adalah pergeseran tren di industri kecantikan dan perawatan diri. Jika dahulu klinik estetika didominasi oleh kaum wanita, saat ini layanan kesehatan pria, khususnya penanganan kebotakan dan kerontokan rambut, menjadi peluang yang sangat potensial.

Puncak Bakti Indonesia di Sam Poo Kong, Menjadikan Semarang Kota Tujuan Wisata Medis Berbasis Kemanusiaan
Puncak perhelatan Bakti Indonesia berlangsung pada Sabtu (8/8/2026), gerakan tahun keempat ini menyatukan ribuan warga di Kelenteng Agung Sam Poo Kong, Semarang.

Menurutnya, banyak pria yang membutuhkan penanganan medis spesialis untuk menjaga penampilan dan kesehatannya, namun terkadang bingung harus berkonsultasi ke mana.

“Layanan kecantikan sekarang tidak hanya didominasi wanita, tetapi juga sangat dibutuhkan oleh laki-laki. Banyak pria memiliki keluhan seperti masalah kebotakan atau kerontokan rambut. Padahal dari sisi finansial mereka siap, tinggal bagaimana kita menyediakan layanan medis spesialis yang tepat,” jelasnya.

Oleh karena itu, ia mendorong para dokter spesialis kulit dan pengelola klinik estetika untuk terus memperluas jangkauan layanan wellness holistik yang mencakup kebutuhan pria maupun wanita.

Selain variasi layanan yang semakin beragam, kesiapan infrastruktur kesehatan Kota Semarang juga menjadi alasan utama kota ini layak menjadi tujuan medical tourism. Kota Semarang saat ini telah didukung oleh 40 rumah sakit yang tersebar merata di seluruh wilayah kecamatan. “Sekarang tidak ada lagi kecamatan di Kota Semarang yang tidak memiliki akses atau fasilitas rumah sakit penunjang yang dekat,” tambah Dr. Hakam.

Pendekatan wisata medis ini diharapkan dapat memberikan pengalaman berobat yang berbeda dan lebih menyenangkan bagi para pasien. “Kalau pasien hanya datang dan menunggu di rumah sakit, klinik, atau puskesmas saja, tentu akan terasa jenuh. Supaya tidak jenuh, perawatan kesehatan tersebut diselingi dengan berwisata ke destinasi lokal dan menikmati kuliner khas Semarang. Keunggulannya lengkap; lokasinya strategis, layanannya bervariasi, dan harganya sangat ekonomis serta ramah di kantong,” ungkapnya.

Guna menjawab kebutuhan wellness dan estetika yang kian bertumbuh dalam ekosistem wisata medis kota tersebut, beragam pemaparan edukasi kesehatan spesifik turut dihadirkan dalam rangkaian kegiatan Bakti Indonesia hari ini, diantaranya membahas bahwa kerontokan rambut dan kebotakan, membahas pencegahan dan deteksi dini penyakit kritis (kanker), kesehatan paru-paru

Penutupan rangkaian Bakti Indonesia pada hari ketiga di Sam Poo Kong ini menegaskan pesan utuh, yakni kepedulian sosial, kebersamaan dalam keberagaman, serta kesadaran menjaga kesehatan diri adalah pilar utama masyarakat yang berdaya.

Napas yang lega dan tubuh yang sehat adalah nikmat yang tak ternilai, serta kunci utama menuju kualitas hidup bangsa yang lebih baik. (*)

- iklan -