JAKARTA, ITN – Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Irene Umar, membahas rencana penyelenggaraan Festival 28 Bahasa 2026 bersama organisasi Unlocking Nusantara. Wamenekraf menilai festival yang bakal diselenggarakan di SMK Bakti Karya Parigi, Pangandaran itu strategis dalam memperkuat toleransi, melestarikan keberagaman budaya, dan memupuk talenta kreatif muda Indonesia.
“Sekolah multikultural jadi ruang aman untuk semua anak-anak menjadi anak-anak tanpa melihat perbedaan ras, suku dan warna kulit. Ketika mereka merasa aman dan kebutuhan nya terpenuhi disitulah kreativitas seorang anak bisa bertumbuh karena pada akhirnya setelah mereka lulus, siswa-siswi ini yang akan jadi penggerak ekonomi masa depan,” ujar Irene Umar saat audiensi di Kantor Kementerian Ekraf, Jakarta, Selasa (15/9).

Irene menegaskan bahwa negara melihat pendampingan terhadap pengembangan sumber daya manusia (SDM) ekonomi kreatif sejak dini sangat penting. Dukungan dalam hal pemenuhan kebutuhan mendasar, fasilitas pendidikan berkualitas, hingga panggung ekspresi yang inklusif tanpa membedakan latar belakang akan penting untuk dilakukan.
Festival 28 Bahasa 2026 dirancang sebagai sarana edukasi kebangsaan dan toleransi bagi generasi muda melalui pendekatan ekonomi kreatif. Rangkaian acara akan menghadirkan kolaborasi lintas subsektor seperti seni pertunjukan, musik, kriya, dan kuliner melalui Pawai Budaya, Tari Kreasi, Tari Daerah, Musik Bahasa Daerah, Orasi Bahasa Daerah, Atraksi Bakar Batu, Pameran Rumah Adat, Bazar UMKM, Workshop, Diskusi Lintas Generasi, dan Stage Festival.
“Perayaan ini jadi ruang bagi anak-anak dengan latar belakang yang berbeda untuk saling belajar tentang penerimaan, keterbukaan, dan kebersamaan dalam perbedaan. Hal ini menumbuhkan rasa penasaran mereka terhadap budaya teman mereka yang lain, tapi juga mampu membuat mereka sendiri bangga terhadap budaya miliknya,” ungkap Penggagas Program Kelas Multikultural Ai Nurhidayat.
Selain menjadi sarana akulturasi budaya, festival ini terbukti menjadi penggerak ekonomi lokal dan pemberdayaan masyarakat di Kecamatan Parigi, Pangandaran. Rekam jejak penyelenggaraan telah melibatkan lebih dari 10.000 partisipan terhitung sejak 2018 hingga 2025, yang terdiri atas generasi muda, pelajar, wisatawan, hingga kelompok ibu rumah tangga. Untuk edisi tahun 2026, penyelenggara menargetkan partisipasi langsung dari 1.000 peserta.
Penyelenggaraan Festival 28 Bahasa 2026 diharapkan dapat terus menyediakan ruang inklusif bagi anak muda untuk mengekspresikan karya kreatifnya. Sinergi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan komunitas ini menjadi fondasi penting melahirkan SDM kreatif unggul demi mewujudkan visi Generasi Emas Indonesia.











































