JAKARTA, ITN – Perangkat dapur pintar mulai bergeser dari sekadar pelengkap rumah tangga menjadi bagian dari cara masyarakat modern mengelola aktivitas harian di tengah meningkatnya kesibukan. Laporan Grand View Research memproyeksikan pasar peralatan rumah tangga Indonesia tumbuh 6,5 persen per tahun hingga 2030, seiring meningkatnya adopsi perangkat rumah tangga terhubung di kawasan perkotaan.
Namun, di tengah pertumbuhan tersebut, perangkat dapur pintar masih kerap dipersepsikan rumit, mahal, atau hanya relevan bagi pengguna profesional. Padahal, aktivitas memasak seperti mengatur suhu, menjaga kematangan makanan agar merata, hingga menyiapkan bahan masakan kerap menjadi bagian yang paling menyita waktu dan tenaga di dapur.
“Nilai peralatan dapur tidak hanya ditentukan oleh harga awal, tetapi juga kualitas, ketahanan, dan kemudahan penggunaan sehari-hari. Karena itu, konsumen perlu cermat menilai bukan sekadar fitur baru, melainkan inovasi yang mampu menghemat waktu, mengurangi kerepotan, dan memberikan kenyamanan jangka panjang,” ujar Head of Marketing Bosch Home Indonesia, Theressa Victoria
Pandangan tersebut kemudian mengarah pada satu hal yang kerap muncul dalam penggunaan sehari-hari: bahwa teknologi dapur idealnya tidak menambah kompleksitas, melainkan membantu menyederhanakan proses memasak.
Pendekatan ini sejalan dengan kampanye âBeres, Bosch.â yang memaknai teknologi sebagai bagian dari solusi yang lebih luas dalam kehidupan sehari-hari. Inovasi teknologi yang dikembangkan Bosch, termasuk segmen home appliances, merangkul suara konsumen sehingga menjadi lebih percaya diri, nyaman, dan tentunya menciptakan peace of mind.
âInovasi teknologi Bosch hadir di Indonesia mulai dari rumah, jalanan (kendaraan) hingga berperan di industri. Di tengah aktivitas masyarakat yang semakin dinamis, intervensi teknologi tidak hanya canggih, tetapi juga mampu membantu menyederhanakan berbagai pekerjaan sehari-hari. Semangat inilah yang menjadi dasar kampanye #BeresBosch, yaitu menghadirkan solusi yang membantu berbagai urusan di rumah menjadi lebih beres, terlebih di dapur,” ujar Country Head of Corporate Communications and Government Relations Bosch Indonesia, Fenny Sofyan.

Tak Perlu Jadi Chef untuk Menggunakan Teknologi Dapur Pintar
Chef justru sudah terbiasa mengatur suhu dan kematangan secara manual berdasarkan pengalaman. Berbeda dengan itu, pengguna rumahan sering kali menghadapi tantangan dalam menentukan level panas yang tepat untuk setiap jenis hidangan.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, fitur Assist Function pada kompor induksi Bosch, dapat berfungsi sebagai asisten memasak pintar. Fitur ini membantu menyarankan mode masak, waktu yang tepat, hingga pengaturan suhu yang ideal sesuai dengan menu dan hidangan yang ingin disajikan. ma
Memasak Jadi Lebih Fleksibel untuk Aktivitas Harian
Banyak orang masih merasa harus terus mengawasi proses memasak agar hasilnya baik. Padahal, sistem sensor kini memantau suhu dan kematangan secara otomatis, sehingga proses memasak tetap stabil tanpa pengguna harus terus berada di dapur.
Setiap orang punya preferensi berbeda soal tingkat kematangan makanan, dan untuk itu oven Bosch menghadirkan teknologi AI serta kamera terintegrasi yang memberi kontrol lebih presisi dalam proses memasak. Tidak hanya mengandalkan sensor suhu untuk memastikan kematangan merata hingga ke bagian dalam, pengguna juga dapat memantau proses secara real-time melalui aplikasi tanpa perlu membuka pintu oven.
Penggunaan yang tidak selalu rumit
Semakin banyak teknologi, semakin rumit penggunaannya. Anggapan ini membuat sebagian orang ragu beralih ke peralatan dapur pintar karena khawatir harus mempelajari banyak pengaturan baru. Kulkas Bosch, misalnya, dilengkapi dengan VitaFresh yang membantu menjaga kesegaran bahan makanan lebih lama serta teknologi No Frost yang mencegah pembentukan bunga es, sehingga pengguna tidak perlu repot melakukan pencairan es secara berkala.
Perawatan Tidak Selalu Lebih Mahal
Semakin canggih sebuah perangkat, semakin mahal biaya perawatannya. Anggapan ini cukup sering muncul ketika membahas peralatan dapur pintar. Padahal, biaya kepemilikan juga ditentukan oleh daya tahan produk dan kemudahan perawatannya. Salah satu pendekatan yang mulai diterapkan produsen adalah menyediakan ketersediaan suku cadang dalam jangka panjang hingga 15 tahun, seperti yang dilakukan Bosch Home Appliances.
âHal ini menjadi arah inovasi Bosch Home Appliances bagi pengguna yang rutin memasak maupun yang baru menjadikan aktivitas memasak sebagai bagian dari keseharian. Fokusnya adalah menghadirkan pengalaman memasak yang lebih sederhana dan konsisten, sekaligus memungkinkan pengguna melakukan lebih banyak hal dalam waktu yang sama,â jelas Theressa.
Konteks penggunaan tersebut juga terlihat dalam Bosch Culinary Masters 2026 yang diadakan oleh Bosch Home Appliances tahun ini. Kegiatan ini menempatkan perangkat dapur dalam konteks penggunaan nyata dengan peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari pengguna rumahan hingga profesional, yang menggunakan perangkat yang sama selama kompetisi berlangsung.
“Teknologi sangat memengaruhi hasil masakan. Oven modern, seperti Bosch Series 8, menawarkan fitur canggih yang membuat proses memasak lebih efisien dan hasilnya lebih konsisten. Kombinasi keterampilan dan teknologi akan menghasilkan kualitas yang superior,â ujar Chef Bryan, lulusan MasterChef Indonesia Season 8 yang bertindak sebagai Dewan Juri Bosch Culinary Masters 2026.
Para pemenang memperoleh hadiah berupa produk Bosch Home Appliances dengan total nilai Rp55 juta serta voucher Sayurbox senilai total Rp10,8 juta. Ananta Aristian yang keluar sebagai juara pertama mengaku telah akrab dengan dunia memasak sejak kecil. Wirausahawan tersebut memandang memasak sebagai sarana menyalurkan kreativitas di tengah kesibukan sehari-hari. Karena itu, ia menilai kualitas dan daya tahan menjadi pertimbangan utama dalam memilih peralatan memasak agar dapat digunakan secara optimal dalam jangka panjang.
Dalam konteks kebutuhan dapur modern yang semakin beragam, Bosch Home Appliances menekankan pentingnya solusi yang tidak hanya berfokus pada kecanggihan teknologi, tetapi juga pada kemudahan penggunaan bagi berbagai kalangan pengguna.











































