JAKARTA, ITN– SELAIN permasalahan sampah plastik sekali pakai saat traveling, ternyata masih ada juga permasalahan sampah lainnya yang dekat dengan kehidupan kita, yakni tumpukan baju yang sudah tidak terpakai. Baju baru tanpa sadar bahwa banyak baju yang sudah tidak terpakai yang kemudian menjadi limbah sampah pakaian.

Sabtu pagi (27/7/19) Indonesiatripnews.com tiba di DBS Tower lantai 34, Jakarta. Tampak terlihat puluhan peserta yang mengikuti kegiatan #TukaBaju berbaris memanjang.

Kegiatan #TukarBaju dapat menjadi alternatif bagi yang aktif mengikuti tren fesyen kekinian tanpa harus mengonsumsi hal baru. Melalui kegiatan #TukarBaju, orang-orang dapat membawa pakaian bekas layak pakainya yang kemudian akan ditukarkan dengan pakaian milik orang lain. Sebelum ditukarkan, baju yang dibawa akan dikurasi kelayakannya terlebih dahulu.

Setelah melakukan registrasi dan mengisi dukungan di media sosial untuk Gerakan Recycle more, Waste less dua pakaian yang sudah tidak terpakai yang dibawa Sishi, salah satu peserta yang tampak terlihat antri tersebut di kurasi terlebih dahulu. Kategori baju yang bisa ditukarkan untuk atasan, seperti kemeja, blus, outer, dan jaket. Bawahan jeans, rok, short, celana panjang. Sedangkan untuk terusan, seperti dress dan jumpsuit.

Baju yang diterima hanya baju dewasa dengan ukuran apa saja, dan semua gender. Pada kegiatan tersebut tidak menerima baju anak-anak, kaos, baju renang, baju tidur, pakaian dalam, legging, dan baju olahraga. Masing-masing peserta hanya membawa maksimal lima baju.

Peserta yang lulus kurasi, artinya baju yang dibawa masih kondisi baik akan mendapatkan satu tutup botol untuk satu baju.

Setelah mendapatkan tutup botol, baju yang baru  dapat dipilih untuk selanjutnya kembali ke kasir dan melipat serta memasukkan sendiri baju ke dalam kantong belanja yang telah dibawa dari rumah.

“Kalau saya tak ingin menggantinya dengan yang baru. Saya hanya ingin membawa baju lama saya yang masih bagus dan memenuhi lemari saya. Kalau saya menggantinya dengan yang baru maka tak berkurang isi lemari pakaian saya,” ujar Andim, salah seorang peserta yang tak ingin menukarkan bajunya.

Setelah menukarkan pakaian yang tidak terpakai, peserta dapat mengikuti workshop “Fashion and Sustainable Traveling” yang digelar Bank DBS Indonesia bersama  Zero Waste Indonesia pada sesi pertama dan workshop cara membuat travel kit dari bahan daur ulang seperti kaos pada sesi kedua bersama Weekend Workshop (WEWO).

“Hidup zero waste tidak hanya berhenti pada pengurangan sampah plastik sekali pakai saja. Tanpa kita sadari, pakaian yang kita pakai setiap harinya juga bisa menjadi sumber sampah yang berbahaya bagi bumi tercinta,” ujar Public Relations and Project Manager #TukarBaju, Amanda Zahra Marsono.

Amanda mengatakan, “Industri fesyen adalah salah satu industri yang paling berpolusi di dunia. Oleh karena itu kami menggagas #TukarBaju, sebuah kampanye untuk menciptakan kesadaran bagi masyarakat dan sebagai salah satu solusi akan sampah fesyen dan limbah tekstil di Indonesia”.

Untuk membuat satu lembar baju berbahan katun menurutnya membutuhkan 2.700 liter air setara dengan jumlah air minum manusia selama tiga tahun.

“Baju bahan katun ini terbuat dari kapas, tumbuhan kapas menyerap air hingga kemudian bisa dipanen dan diolah menjadi pakaian. Air yang diserap tumbuhan kapas itu setara dengan air minum kita selama 3 tahun,” jelasnya.

Bank DBS Indonesia juga mendorong pengunjung yang hadir untuk dapat memulai gaya hidup yang berkelanjutan dengan menyediakan bazaar sehingga pengunjung bisa melihat dan membeli berbagai sustainability kit dari Cleanomic.

“Kegiatan Travel more, Waste less merupakan rangkaian kegiatan dari gerakan Recycle more, Waste less di mana kami sebagai perbankan ingin mendukung program pemerintah Indonesia Bersih Sampah 2025. Kami melihat bahwa milenial Indonesia memiliki suara dan peranan yang besar dalam mewujudkan perubahan,” Executive Director, Head of Marketing Communications PT Bank DBS Indonesia, Mona Monika.

Mona menambahkan, “Oleh karena itu, kami mengadakan suatu kegiatan yang sangat berhubungan dengan milenial untuk dapat mendorong mereka turut serta secara aktif dalam gerakan ini”. (evi)