SOLO, ITN- HUJAN menyambut kedatangan Indonesiatripnews.com bersama peserta Famtrip Forum Wartawan Pariwisata (Forwapar) ke Destinasi Joglosemar saat tiba di Kota Solo, Senin sore (18/11/19).

Wedangan Lawang Djoendjing menjadi persinggahan pertama untuk melepas penat yang dilanjutkan bertatap muka serta berdiskusi dengan Gubernur Jawa Tengah (Jateng), Ganjar Pranowo. Gubernur yang mengenakan batik berwarna biru datang dan langsung memesan minuman kegemarannya, yakni teh Lawang Djoendjing. Teh panas dengan campuran jahe dan sereh serta gula batu.

Suasana ruang makan di Lawang Djoendjing dengan bangku recycle.

Lawang Djoendjing memiliki interior yang kental dengan seni, bangunan ini memadukan interior khas Jawa, Bali, dan Kalimantan. Saat memasuki Lawang Djoendjing pengunjung akan melihat pintu berukuran 7×5 meter yang tinggi sebelah, sesuai namanya Lawang Djoendjing, Lawang yang berarti pintu dan junjing, berarti tinggi sebelah atau miring. Dalam bahasa Jawa, yang diartikan pintu menuju kesuksesan.

Setelah masuk ke dalam terlihat sebuah bangunan besar berbentuk joglo campuran motif Jawa dan Bali dengan di sayap kanannya terlihat ratusan menu angkringan yang menggoda untuk segera dipilih.

Marketing Lawang Djoendjing Nini Hendratmi saat menjelaskan menu angkringan kepada peserta famtrip.

Menu yang ditawarkan mulai dari berbagai jenis sate, ada 90 jenis sate setiap harinya yakni sate kere, sate usus, sate paru, sate ayam, sate tahu, sate sosis, sate bakso, sate kolang-kaling, dan lain-lain. Ada juga pilihan nasi, seperti nasi kucing, nasi bandeng, nasi penyet tempe, nasi lada hitam, nasi teri, dan masih banyak lainnya. Jika tak ingin makan, pengunjung juga bisa memilih menu jajanan pasar.  Harga yang ditawarkan relatif sangat murah, yakni mulai dari Rp3.000 hingga Rp10.000.

“Menu nasi yang digemari pengunjung ada nasi bandeng dengan sambal bawang dan sedikit campuran terasi, lalu ada nasi macan yang di beberapa wedangan tidak pernah ada. Nasi macan isinya nasi dengan daging sapi dengan sambal bawang. Yang rekomen ada juga nasi gedeg, karena nasi ini pedas dengan isi krecek dan sambal bawang,” ujar Marketing Lawang Djoendjing, Nini Hendratmi.

Sedangkan untuk minuman, restoran yang berdiri pada 2016 ini menawarkan minuman istimewanya, yakni teh djoendjing dan jahe djoendjing. Jahe djoendjing minuman seperti wedang uwuh, yang terdiri dari campuran rempa-rempah seperti jahe, kapulaga, lengkuas, sereh dengan gula jawa, gula pasir, dan gula batu. Untuk harga minuman berkisar Rp3.500 – Rp9.500.

Menu jajanan pasar.

Wedangan Lawang Djoendjing yang berlokasi di bilangan Kadipiro, Solo ini menamakan diri sebagai wedangan urban. Lawang Djoendjing berbeda dengan wedangan tradisional yang kerap ditemui di pinggir jalan. Konsep berjualan wedangan, yang kerap dikenal dengan nama Hidangan Istimewa Kampung (HIK), biasanya digelar dengan gerobak, diterangi lampu teplok temaram, serta bangku-bangku mengelilingi. Mengingat gerobak menjadi tempat diletakkannya sajian makanan, maka jenis santapan HIK ini menjadi terbatas. Mereka biasanya hanya menjual nasi kucing, tak lebih dari 10 jenis sate dan gorengan.

Pengunjung yang datang ke Lawang Djoendjing yang buka mulai pukul 16.00 – 23.30 WIB ini menurut Nini lebih kepada family, pasangan muda mudi, dan mahasiswa yang ingin menggelar berbagai acara.

Teh Djoendjing minuman yang digemari Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo.

Sementara Hardi Deras, pemilik Lawang Djoendjing, saat ditemui Indonesiatripnews.com, mengatakan, “Bangunan yang saat ini difungsikan sebagai wedangan awalnya merupakan galeri seni yang mempertontonkan karya 18 tahun saya bekerja dalam bidang advertising outdoor. Dengan berbekal material bahan bekas dari usaha bisnis outdoor ini saya mendesain ruangan ini sendiri”.

Galeri ini menurutnya menjadi saksi jatuh bangun dirinya merintis bisnis iklan outdoor. Bangunan ini sendiri dibangun selama 11 tahun dengan menggunakan dana dari laba bisnis tersebut. Bangunan kerap bongkar pasang agar bisa seiring dengan angan-angan Hardi. Seiring waktu, galeri ini biasa dijadikan anak-anak muda untuk nongkrong atau bertemu. Akhirnya, muncul ide untuk memfungsikan galeri ini sebagai tempat usaha wedangan.

Hall Lawang Djoendjing yang bangunan luarnya tampak seperti bangunan depan Mahkamah Konstitusi.

Hardi yang merupakan lulusan Seni Rupa ISI Solo ini, mengatakan, “tempat yang luas menjadi keuntungan Lawang Djoendjing. Kami memiliki ballroom berkapasitas 100 hingga 200, juga hall berkapasitas 1.000 orang dengan bangunan mirip Mahkamah Konstitusi”.

“Saya sedang membangun homestay atau hotel unik. Dibilang unik karena dinding kamar dan tempat tidurnya menggunakan kayu-kayu (recycle) yang biasanya ada di kandang sapi,” ujarnya lebih lanjut.

Menurutnya konsep penginapan yang menggambarkan suasana pedesaan baru akan dibuat sebanyak 18 kamar. “Saya akan membuat taman, sehingga ketika pengunjung masuk ke hotel akan dihadapkan pada sebuah taman yang indah. Kira-kira setahun lagi pembangunannya selesai,” ujar Hardi mengakhiri percakapan. (evi)