JAKARTA, ITN– SATUAN Tugas (Satgas) Pelayaran Lingkar Nusantara (Pelantara) IX Saka Bahari, Bela Negara, dan Kapal Pemuda Nusantara yang dipimpin oleh Komandan Satuan Tugas (Dansatgas) Pelantara  IX ail Nias 2019 Kolonel Marinir I Dewa Gede Wirawan, SE mengadakan wisata budaya di Desa Bawomataluo, Nias Selatan, Sumatera Utara, Kamis (12/9/19).

Desa Bawomataluo terletak di daerah perbukitan yang berjarak 12 kilometer dari Kota Teluk Dalam, Ibukota Kabupaten Nias Selatan. Keunikan Desa Bawomataluo dapat dirasakan langsung oleh wisatawan ketika masuk ke desa ini. Sebanyak 88 tingkat anak tangga yang terbuat dari batu harus dilalui untuk memasuki desa ini.

Tujuan diadakannya wisata budaya ini adalah untuk membina generasi muda agar dapat lebih mengenal dan memahami kebudayaan yang dimiliki Negara Indonesia; tulis Dispenal dalam siaran persnya.

Banyak daya tarik yang dimiliki desa itu, mulai dari rumah adat tradisional yang berderet dan tersusun rapi dan di tengah perkampungan terdapat “Omo Sebua” atau Rumah Adat Besar yang sudah berdiri sejak ratusan tahun lalu.

Omo Sebua” adalah jenis rumah adat atau rumah tradisional dari Pulau Nias, Sumatera Utara. “Omo Sebua” adalah rumah yang khusus dibangun untuk kepala adat desa dengan tiang-tiang besar dari kayu besi dan atap yang tinggi.

Rumah tersebut didesain secara khusus untuk melindungi penghuninya dari serangan pada saat terjadinya perang suku pada zaman dahulu. Akses masuk ke rumah hanyalah tangga kecil yang dilengkapi pintu jebakan. Bentuk atap rumah yang sangat curam dapat mencapai tinggi 16 meter. Selain digunakan untuk berlindung dari serangan musuh, “Omo Sebua” diketahui tahan terhadap goncangan gempa bumi.

Desa ini juga memiliki atraksi unik antara lain atraksi Lompat Batu dan Tari Perang. Pada masa lampau, pemuda Nias akan mencoba untuk melompati batu setinggi lebih dari 2 meter, dan jika mereka berhasil mereka akan menjadi lelaki dewasa dan dapat bergabung sebagai prajurit untuk berperang dan menikah.

Sejak usia 10 tahun, anak lelaki di Pulau Nias akan bersiap untuk melakukan giliran “fahombo” mereka. Sebagai ritual, fahombo dianggap sangat serius dalam adat Nas. Anak lelaki akan melompati batu tersebut untuk mendapat status kedewasaan mereka, dengan mengenakan pakaian pejuang Nias, menandakan bahwa mereka telah siap bertempur dan memikul tanggung jawab laki-laki dewasa.

Fahombo, Hombo Batu atau dalam Bahasa Indonesia Lompat Batu adalah olahraga tradisional Suku Nias. Olahraga yang sebelumnya merupakan ritual pendewaan Suku Nias ini banyak dilakukan di Pulau Nias dan menjadi objek wisata tradisional unik yang teraneh hingga ke seluruh dunia.

Batu yang harus dilompati dalam fahombo berbentuk seperti sebuah monumen piramida dengan permukaan atas datar. Tingginya tidak kurang dari 2 meter, dengan lebar 90 Cm, dan panjang 60 Cm. Pelompat tidak hanya harus melompati tumpukan batu tersebut, tetapi ia juga harus memiliki teknik untuk mendarat, karena jika dia mendarat dengan posisi yang salah, dapat menyebabkan cedera otot atau patah tulang.

Pada masa lampau, di atas papan batu bahkan ditutupi dengan paku dan bamboo runcing yang menunjukkan betapa seriusnya ritual ini di mata Suku Nias.

Secara taktis dalam peperangan, tradisi fahombo ini juga berarti melatih prajurit muda untuk tangkas dan gesit dalam melompati dinding pertahanan musuh mereka, dengan obor di satu tangan dan pedang, pada malam hari.

Pada kesempatan itu hadir Pangdam I Bukit Barisan Mayor Jenderal TNI MS Fadhilah didampingi Danlanal Nias Selatan Letkol Laut (P) Jan Lucky Boy Siburian dan memberikan semangat moril kepada para peserta Satgas Pelantara IX Sail Nias 2019.

“Kita bisa melihat kekayaan budaya di Negeri Indonesia seperti yang ada di Desa Bawomataluo. Oleh karena itu untuk kedepannya para peserta Pelantara IX Sail Nias 2019 inilah yang akan membangun negeri ini dengan diawali kecintaan terhadap negeri ini,” kata Pangdam I Bukit Barisan. (ori)