JAKARTA, ITN – Sosok Wanita multiperan masa kini sudah banyak ditemui, dimana ia memiliki kesuksesan dalam berkarier bahkan membangun bisnis yang sudah dimulai pada usia yang relative muda.

Memiliki banyak hal seakan dunia dalam genggamanya, bagi Wanita karier yang sudah berumah tangga tetap wajib memberi pupuk terbaik dalam merawat rumah tangganya.

Menurut Indra Noveldi salah satu Konsultan Pernikahan, saat ini tetap berhati–hati dengan fokus yang ingin dicapai seorang perempuan. Hal ini disebabkan bila orientasi seorang hanya membangun bisnis dan mengenyampingkan perasaan orang-orang di sekitarnya, maka kemungkinan di masa yang akan datang dia tidak akan menikmati sama sekali jerih parahnya di masa sekarang.

“Duit banyak, tapi hatinya kosong. Duit banyak, tapi keluarganya berantakan. Bahkan tak perlu menunggu lama,  pernikahan pun bubar jalan. Kenapa bubar? Karena istri yang bekerja ini merasa bahwa kariernya tidak didukung oleh suami, tidak didukung oleh anak-anaknya. Padahal dia merasa melakukan semua ini demi keluarga. Demi membantu perekonomian keluarga,” ujar Indra Noveldy.

Dimasa pandemi seperti saat ini, angka perceraian  mengalami peningkatan signifikan bahkan pemberlakuan WFO dikambing hitamkan sebagai salah satu penyebab utama terjadinya perceraian pada pasangan. Ironisnya perceraian terjadi tidak saja dari kalangan muda namun juga pasangan yang sudah lama menikah.

Selain faktor ekonomi yang memicu perceraian, kondisi ketidak harmonisan antar pasangan juga menjadi penyebab perceraian. Dalam talkshow yang menjadi salah satu rangkaian event Professional Women’s Week 2021 ini, Indra secara langsung mengajak audience secara aktif menyampaikan keluh-kesahnya.

“Seorang  klien yang usia pernikahannya 27 tahun datang ke saya, dengan mata nanar. ‘Mas Indra saya udah sukses. Tapi saya menghabiskan masa pensiun dengan siapa ya? Padahal dia masih ada istri, tapi dia merasa tidak mengenal istrinya,” tambah Indra.

Satu hal yang belakangan terjadi dimana banyak wanita sukses di pekerjaan atau membangun bisnis, namun kehidupan rumah tangganya rapuh. Kembali Indra mengingatkan agar para wanita yang memiliki multi peran untuk selalu menempatkan dirinya sebaik mungkin, sebagai istri, ibu, dan anak bagi orang tuanya.

“Jangan sampai kita hanya sibuk membangun usaha. Tapi lupa menguatkan keluarga di rumah. Bahkan sampai lupa pada pasangan , lupa masih punya suami yang perlu diperhatikan. Sehingga tidak jarang banyak suami yang cemburu pada anak-anaknya. Karena sebagai istri hanya sibuk memperhatikan anak-anak. Dalam hal ini suami mungkin  gangsi mengakui bahwa dia butuh diperhatikan istrinya,” jelas Indra.

Sementara itu pada talkshow sesi kedua, Dr. Muhammad Faisal, Executive Director &Youth Researcher, Youth Laboratory Indonesia, PT Kreasi Pemuda Indonesia), mengatakan wanita memiliki peran penting dalam menyiapkan anak-anaknya sebagai generasi pejuang.

Hal ini penting dilakukan lantaran dengan segala dinamika persaingan di dunia luar, anak-anak harus memiliki kecakapan  untuk menghadapi kehidupan yang penuh tantangan di masa sekarang dan akan datang.

“Anak-anak kita saat ini mudah galau, mudah gelisah. Jadi sangat rental mempunyai  masalah  dengan mental health. Kenapa mental health karena anak-anak ini hidup di tengah kehidupan yang  penuh persaingan. Setiap orang selalu membanding-bandingkan dirinya dengan diri orang lain,” ujarnya.

Menutup pemaparanya, Dr. Muhammad mengingatkan Kembali bagi para orangtua khususnya para ibu agar tidak ikut untuk menjebak anak terjerumus kedalam jurang, melainkan berusaha untuk tidak mengapresiasi anak dengan pencapaian yang diperolehnya.

“Jangan terpengaruh dengan komparasi, karena anak kita tidak perlu diperbandingkan dengan orang lain. Tidak salah kalau orang tua memfasilitasi anaknya dengan berbagai les ini itu, tapi jangan  melupakan mengasah  dengan watak yang baik. Kalau ini kan nggak ada tempat lesnya? Adanya didalam keluarganya sendiri, bagaimana keluarga membentuk watak si anak,” tutup Dr Muhammad Faisal.

Selain membentuk watak yang baik, para orang tua juga jangan lupa untuk selalu mengajarkan anak–anak tumbuh menjadi pribadi yang pandai bersyukur. (sha)