- iklan -

JAKARTA, ITN- Jawa Tengah saat ini memiliki total sebanyak 427 objek wisata yang telah dibuka di masa pandemi Covid-19 ini. Keseluruhan objek wisata ini telah dibuka setelah mendapatkan rekomendasi dari Gugus Tugas Covid-19 Provinsi Jawa Tengah (Jateng).

Ternyata sekalipun sudah membuka ratusan objek wisata, Pemerintah Provinsi Jateng mengakui bahwa akan tetap sangat sulit membangkitkan kembali sektor pariwisata yang terdampak pandemi Covid-19.

Setyo Irawan selaku Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah, mengakui bahwa kesulitan yang dihadapi dalam membangkitkan sektor pariwisata di Jawa Tengah terbagi dalam tiga tantangan penting.

Tiga Tantangan Pariwisata Jateng di Era Adaptasi Kebiasaan Baru
Forwaparekraf bersama Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah,Setyo Irawan.

Tiga tantangan penting pariwisata seperti  yang disampaikan Setyo Irawan pada kegiatan “Press Tour Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Forwaparekraf) ke Jawa Tengah”, yakni:

  1. Kedisiplinan Masyarakat

Harus diakui masalah kedisiplinan selalu menjadi momok saat berhadapan dengan mayoritas masytarakat Indonesia termasuk Jateng. Kedisiplinan ini seakan menjadi barang yang mahal dalam mencegah penyebaran Covid-19. “Masih banyak Kabupaten/Kota, mungkin agak berpikir seribu kali terkait kedisiplinan masyarakat terkait dengan protokol kesehatan di tempat wisata yang ada di Jawa Tengah,” ungkapnya.

2. Sarana dan Prasarana

Masalah berikutnya adalah terkait pemenuhan sarana serta prasarana protokol kesehatan di Jateng. Karena pasti serta merta saat dibukanya destinasi wisata, pengelola pun harus dapat menyiapkan sarana dan prasarana protokol kesehatan, seperti misalnya; tempat cuci tangan, masker, hand sanitizer dan bahkan desinfektan untuk sterilisasi destinasi wisata.

3. Pengawasan

Dan yang terakhir adalah terkait pengawasan dari para pengelola objek wisata. Kesadaran para pengelola destinasi wisata untuk menegur wisatawan yang tidak patuh protokol kesehatan juga tampaknya masih kurang. Diakui Setyo, kadang pengelola masih suka merasa sungkan dan takut untuk menegur wisatawan.

Protokol kesehatan tampak sudah mulai disosialisasikan. Salah satunya, yakni Kampoeng Pelangi Semarang. Hal ini terlihat bagaimana masyarakat setempat memakai masker dan beberapa rumah warga tampak menyediakan sarana air bersih untuk cuci tangan.

Kampoeng Pelangi Semarang

Sementara dalam kunjungan wisata Forwaparekraf ke Semarang, Jawa Tengah pada 28 September 2020 lalu menyempatkan berkunjung ke Kampoeng Pelangi dan bertemu langsung denan pelopor Kampoeng Pelangi Semarang, yakni Ndan Slawi.

Ndan Slawi menceritakan terkait sejarah pertama kali ia berusaha membangun serta mengembangkan pemukiman masyarakat sekitar menjadi Kampoeng Pelangi seperti yang tersohor saat ini.

Banyak pihak yang terlibat langsung dalam proses “mewarnai” Kampoeng Pelangi ini, selain tentu saja pemerintah daerah yang membangun lewat APBD, pihak swasta yang memberi CSR serta para wisatawan dan mahasiswa yang turun tangan langsung mengukir karya menariknya di tembok-tembok rumah warga.

Pada 2021 akan ada pengembangan penting yang siap di bangun di Kampoeng Pelangi Semarang ini, yaitu Tangga 999. Sejumlah 999 anak tangga yang akan dibuat menarik, unik akan tetapi aman yang menghubungkan wilayah paling bawah menuju wilayah teratas kampung ini. (*/evi)

 

- iklan -