JAKARTA, ITN — Gagasan bahwa Indonesia adalah lokasi sesungguhnya dari benua legendaris Atlantis kembali mengemuka dalam sebuah diskusi terbuka yang digelar di Jakarta, Jumat (11/7/2025).
Aruna Books Publishing dan Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Forwaparekraf) membedah ulang buku Atlantis: The Lost Continent Finally Found, karya Prof. Arysio Santos, ilmuwan asal Brasil yang mengklaim bahwa jejak peradaban Atlantis sesungguhnya berada di kawasan Nusantara.
Buku “Atlantis The Lost Continent Finaly Found” berisi tentang perjalanan 30 tahun penelitian Prof. Arysio Santos yang seorang fisikawan nuklir dan ahli geologi, yang memastikan kepada dunia bahwa situs Atlantis adalah Indonesia.

Melalui buku ini, penulis mengajak pembaca untuk berpikir kritis dan terbuka terhadap kemungkinan – kemungkinan baru dan pemahaman tentang sejarah manusia dan menegaskan peran penting Indonesia dalam perkembangan peradaban dunia.
Kisah Atlantis pertama kali muncul dalam dialog Plato, “Timaeus” dan “Critias”. Plato menggambarkan Atlantis sebagai sebuah pulau yang hilang di Samudra Atlantik, sebuah peradaban maju yang tenggelam akibat bencana alam.
“Dalam semua parameter yang disebut Plato, mulai dari sistem irigasi, kekayaan logam, hingga letusan besar yang menenggelamkan daratan, Indonesia selalu relevan,” ujar Frank Joseph Hoff, Presiden Atlantis Publications sekaligus asisten riset utama Prof. Santos, dalam forum tersebut.
Hoff tidak sekadar berbicara. Ia menampilkan peta topografi purba, citra satelit, kutipan teks-teks kuno, serta grafik elevasi Laut Jawa dan Selat Sunda yang mendukung hipotesis Santos. Ia juga menyebut jejak mitos banjir besar di berbagai budaya lokal, dari Nusa Tenggara hingga Kalimantan, sebagai sinyal bahwa wilayah Indonesia pernah mengalami peristiwa geologis besar yang paralel dengan narasi tenggelamnya Atlantis.

Buku Atlantis: The Lost Continent Finally Found merupakan hasil penelitian lintas disiplin selama lebih dari 30 tahun. Prof. Santos menggabungkan geologi, linguistik, sejarah kuno, arkeologi, hingga paleoklimatologi dalam menyusun teorinya.
Salah satu temuan kunci adalah analisis terhadap letusan gunung purba Krakatau, yang diyakini sebagai pemicu bencana besar yang menenggelamkan sebagian daratan Sunda, sebuah skenario yang disebutnya mirip dengan kisah kehancuran Atlantis menurut teks Plato, Timaeus dan Critias.
Lebih dari 30 variabel geografis dan geologis dianalisis dalam buku ini, termasuk data mengenai lapisan tanah, aktivitas tektonik, persebaran flora-fauna purba, hingga jejak budaya agraris kuno. Dari seluruh variabel yang diuji, Santos menyimpulkan bahwa wilayah Indonesia, khususnya dataran Sunda yang kini sebagian besar berada di bawah laut, memiliki tingkat kesesuaian paling tinggi dengan deskripsi Atlantis dalam sumber-sumber klasik.
Meski telah terbit sejak awal 2000-an, buku yang diterbitkan kembali oleh Aruna Books Publishing, kini dibaca ulang dalam konteks baru. Di tengah meningkatnya perhatian pada sejarah lokal dan identitas budaya, diskusi ini menyoroti bagaimana teori Santos bisa diolah menjadi narasi kreatif lintas format—dari dokumenter, novel grafis, hingga permainan edukatif.
“Bagi kami, buku ini masih sangat hidup. Kami ingin generasi muda membaca ulang warisan pengetahuan ini bukan sebagai mitos, tapi sebagai titik tolak untuk bertanya ulang: apa yang sebenarnya kita ketahui tentang peradaban kita sendiri?” ujarnya.
Atlantis dan Peluang Ekraf di Daerah
Pada kesempatan yang sama, Plt. Kepala Biro Komunikasi Ekonomi Kreatif Kiagoos Irva Faisal mengatakan, “Cerita tentang keberadaan Atlantid yang diyakini peneliti berada di Indonesia bisa menjadi peluang kreatif yang membangkitkan ekonomi daerah”.
Menurutnya selain punya cerita, Atlantis punya ikon-ikon yang bisa dijadikan kriya, merchandise, misalnya.
Potensi kreatif bisa datang dari penjualan merchandise di titik-titik lokasi pariwisata yang berhubungan dengan penemuan adanya peradaban Atlantis.
Selain merchandise, masyarakat lokal juga bisa memanfaatkan gambar ikon-ikon khas Atlantis yang di print melalui media baju atau aksesori lainnya. Penjualan merchandise bisa dengan memanfaatkan titik penjemputan wisatawan seperti pelabuhan.
Hal ini bisa menjadi daya tarik wisatawan yang datang berkunjung sekaligus memperkenalkan wisata Indonesia kepada penikmat sejarah dari dalam dan luar negeri.

“Karena sektornya ekraf kan banyak banget, ya. Jadi kayaknya ekraf sangat melengkapi pariwisata,” kata Irvan.
Irvan mengatakan, “Jika atraksi wisata Atlantis menarik perhatian publik, pariwisata daerah di Indonesia juga akan naik yang nantinya akan menjadi destinasi baru yang bisa dipromosikan oleh kementerian terkait. Selain itu, lokasi penemuan Atlantis juga bisa dijadikan film yang juga akan menjadi media promosi lebih luas kepada masyarakat”.
Seiring dengan penelitian yang terus berkembang tentang penemuan bukti peradaban Atlantis ada di Indonesia, Menurut Irva harus ada edukasi yang kuat kepada masyarakat lokal karena terkait dengan kepercayaan tentang sejarah peradaban Indonesia.
“Atlantis sebagai salah satu storytelling yang kuat, yang bikin orang nggak ada apa-apa, tapi karena di tempat itu adalah Atlantis, orang jadi ‘wah’, tapi saya pikir memang PR berat, untuk meyakinkan orang cerita tentang Atlantis ini dulu,” ungkapnya. (evi)











































