- iklan -

JAKARTA, ITN- KUDUS selain terkenal sebagai kota Santri dan kota Walisongo, juga terkenal dengan kota Kretek. Hal ini pun diperkuat dengan dibangunnya Gerbang Kudus Kota Kretek (GKKK) sebagai ikon baru Kota Kretek.

GKKK yang dilengkapi dengan lampu warna-warni.
GKKK yang dilengkapi dengan lampu warna-warni.

GKKK merupakan monumen berupa gerbang masuk kota yang berada di kawasan Taman Tanggul Angin, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Monumen yang difasilitasi perusahaan rokok PT Djarum ini melambangkan kota asal dari rokok kretek yaitu, Kudus.

GKKK diklaim termegah di Indonesia bahkan di Asia Tenggara. Pekerjaan pembangunan GKKK yang dimulai 2 Januari 2014 ini menelan biaya sebesar Rp 16.125.000.000.

“Kretek adalah suatu warisan yang tidak bisa dipungkiri. Rokok kretek lahir di Kota Kudus, sehingga Kota Kudus sudah selayaknya disebut Kota Kretek. Untuk itu warisan yang sudah ada ini sudah sepantasnya kita hargai, banggakan, dan lestarikan dengan meresmikan Gerbang Kudus Kota Kretek,” ujar GM Corporate Development PT Djarum, FX Supanji dalam sambutannya pada acara peresmian GKKK di Kudus, Jawa Tengah, Rabu malam (27/4/16).

Disaksikan ribuan warga Kota Kudus, Bupati Kudus Mustofa (kanan) didampingi CEO PT Djarum, Victor Hartono menekan tombol tanda diresmikannya GKKK di Kudus, Jawa Tengah, Rabu malam (27/4/16).
Disaksikan ribuan warga Kota Kudus, Bupati Kudus Mustofa (kanan) didampingi CEO PT Djarum, Victor Hartono menekan tombol tanda diresmikannya GKKK di Kudus, Jawa Tengah, Rabu malam (27/4/16).

Panji mengatakan, “Unsur bangunan GKKK ini memiliki arti, antara lain bagian atas yang berbentuk daun tembakau dengan jumlah jari-jari sebanyak 59, memiliki makna tersirat angka 5 sebagai lambang Rukun Islam, dan angka 9 yang memaknai Walisongo”.

“Sedangkan pada bagian bawah, berbentuk pilar cengkeh berjumlah empat tiang cengkeh yang melambangkan empat pilar kebangsaan; Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI,” ungkapnya.

Perpaduan bahan stainless steel dan beton dengan bentuk simetris menurutnya menjadi simbol kekinian kota industri dan kekokohan religiusitas masyarakat dalam kehidupan yang harmonis.

“Kami mendapat bisikan bahwa hari ini tanggal 27 April 2016 bertepatan dengan tanggal 19 bulan Rajab 1437H, 481 Hijriah tahun yang lalu pada tanggal yang sama 19 Rajab merupakan hari berdirinya Masjid dan Menara Kudus. Dengan diresmikannya pada tanggal yang sama ini diharapkan Kota Kudus dan seluruh masyarakatnya mendapatkan berkah, serta GKKK dapat menjadi ikon kebanggaan masyarakat Kudus dan melambangkan Kretek lahir di Kota Kudus,” tegasnya.

Sementara pada kesempatan yang sama Bupati Kudus, H Musthofa mengatakan, “Nantinya tempat ini akan dibangun rest area dengan berbagai kuliner dari Kudus, dan seperti yang disampaikan Pak Victor supaya orang-orang bisa foto selfie”.

GKKK melambangkan empat pilar kebangsaan.
GKKK melambangkan empat pilar kebangsaan.

Terlebih pada malam hari, gerbang ini akan menampilkan lampu-lampu yang indah berwarna-warni hingga sangat menarik perhatian para pengendara untuk berfoto di pinggir hingga tengah gerbang dengan latar belakang  GKKK yang penuh warna.

“Kota Kudus akan menjadi lebih sempurna lagi bila sebelum tahun 2018 dibangun juga gerbang yang sama di perbatasan Kudus dengan Surabaya, karena yang dibangun sekarang ini perbatasan Kudus dengan Semarang. Siapapun yang masuk ke Kota Kudus menjadi tahu kalau Kudus adalah Kota Kretek, dan masyarakat Kudus menjadi semakin sejahtera,” ungkapnya.

Dengan dibangunan gerbang yang futuristik ini, Kudus diharapkan bisa mengokohkan diri sebagai Kota Kretek, karena selama ini jargon tersebut memicu perdebatan di sejumlah kota lain di Indonesia, yang memiliki industri rokok besar. Perdebatan tersebut terkait klaim beberapa kota lain selain Kudus, sebagai kota pertama munculnya rokok kretek.

Menurutnya dari total jumlah tenaga kerja di Kudus sekitar 120 ribu orang, sekitar 60 ribu orang terserap di sektor industri rokok, dan Djarum adalah perusahaan rokok lokal terbesar saat ini. Sekarang industri rokok sedang turun, tercatat pada tahun 2014 ada 1.300 perusahaan rokok di Kudus, tetapi hingga akhir 2015 pemainnya berguguran, hingga tersisa 300-an perusahaan saja.

GKKK dapat dijadikan sebagai tempat untuk foto selfie.
GKKK dapat dijadikan sebagai tempat untuk foto selfie.

Lebih lanjut Musthofa mengatakan, “Selain nantinya para generasi menjadi paham tentang Kota Kudus, diharapkan Kota Kudus semakin lama semakin produktif. Ada satu hal yang harus kita jaga yakni, kelestarian dari sisi budaya.  Yang harus dijaga Kretek ini jangan dilihat dari sisi Kudus tetapi dari nilai budayanya”.

Keberadaan GKKK di perbatasan Kota Demak dari arah Kota Semarang ini diharapkan juga menjadi magnet untuk menarik wisatawan datang ke Kabupaten Kudus.

- iklan -