JAKARTA, ITN- PERKEMBANGAN dunia yang sangat dinamis menuntut kreativitas dan inovasi dari setiap orang. Dengan kreatif dan memiliki inovasi yang tinggi, seseorang akan mampu unggul di bidang yang ditekuninya.

Hal itu yang dilakukan Ny Ketut Maya Suwira dalam menjalankan usahanya. Dengan merk “Diyati Craft”, Kopi Bali “Pak Made”, dan Kedai “Diyati”; istri Kolonel Laut (Purn) Adi Suyoso itu mampu menggerakkan roda ekonomi keluarga sekaligus mentransfer ilmu pengetahuan di bidang seni  kerajinan (craft) kepada ibu-ibu yang lain.

Alhamdulillah, saya diberi banyak ilmu oleh Allah SWT sehingga bisa menjalankan usaha ini,” kata  Maya, panggilan akrabnya; ketika diwawancara Indonesiatripnews.com, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Wanita kelahiran Surabaya, Jawa Timur itu menceritakan perjalanan hidupnya menekuni bidang kerajinan, khususnya seni decoupage. Lebih dua tahun belakangan ini, kerajinan yang ditekuni membawanya melanglang dari satu pameran ke pameran. Kegiatan-kegiatan bazaar dan seminar diikutinya sembari memperkenalkan hasil karya decoupage-nya.

Decoupage merupakan kerajinan atau bentuk seni yang memerlukan potongan-potongan bahan –biasanya kertas tisu—  yang ditempel pada berbagai media dan kemudian dilapisi dengan pernis atau pelitur, sehingga melahirkan karya seni yang sangat cantik dan indah. Di negara-negara Eropa, seni tersebut sangat terkenal dan dicintai masyarakat. Benda-benda sederhana yang berada di lingkungan masyarakat menjadi benda berharga setelah memperoleh sentuhan seni Ny Ketut Maya Suwira.

Ibu tiga putri dan eyang dari seorang cucu itu menjelaskan, perjalanan usahanya itu berawal dari hobi yang ditekuninya, yaitu merangkai bunga, berlanjut ke dekor, dan merajut. Di Kantor Perwakilan Pemerintah Provinsi Jawa Timur di Jakarta, ia menimba ilmu kerajinan itu. “Saya aktif di Pak Warta dan banyak mendapat ilmu di tempat itu,” jelasnya.

Berbagai usaha telah dilakoni  Maya. Ia pernah berjualan kue bolu dengan motif batik dan membangun usaha bidang kuliner. “Saya itu pernah berjualan makanan menggunakan gerobak,” katanya mengenang.

Dari usaha yang ditekuni dan bakat yang dimilikinya, merk “Diyati Craft”, Kopi Bali “Pak Made”, dan “Kedai Diyati” kian mencorong dan semakin dikenal banyak orang. Di berbagai kegiatan, wanita supel itu banyak diminta untuk berbagi ilmu tentang seni decoupage. Tidak hanya berbagi ilmu, tapi usaha bidang kerajinan tangan itu mampu menghasilkan uang. Ia memberikan contoh, talenan kayu yang biasanya hanya digunakan oleh ibu-ibu hanya untuk alas memotong sayur-mayur atau daging, olehnya disulap menjadi hasil kerajinan tangan yang cantik nan menawan. Harga jualnya pun bisa meningkat hingga tiga kali lipat dari harga dasar.

Berkali-kali wanita berdarah “B”, yaitu ayah Bali dan ibu dari Banten itu mengucap hamdallah ketika diwawancara. Ia merasa karunia Allah SWT telah membimbingnya dalam berbagai usaha. Permintaan hasil kerajinannya pun mengalir dari pelbagai kalangan, termasuk dari instansi pemerintah dan produk kerajinan “Diyati Craft” dari waktu ke waktu kian dikenal masyarakat. Apalagi setelah Maya bergabung ke dalam Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia  (Asprindo).

Ia ingin produk-produk “Diyati Craft” semakin beragam. Jika selama ini media yang digunakan dominan berupa kayu, terutama jati Belanda;  kini Ny Maya melirik eceng gondok, gelas, dan botol. Ia menuturkan bahwa decoupage hasil produksinya  tidak kalah cantik dengan deoupage dari negara lain. Dari tangan terampil dan telatennya, berbagai media kayu dan anyaman disulapnya menjadi   kotak tempat tisu, tas anyaman, gantungan kunci di dinding, dan lain-lain. Harga jual produk “Diyati Craft” berkisar antara Rp50.000 hingga Rp1,5 juta.

Berkat tangan terampilnya itu, ada  kalangan dari Negara Belanda dan Kanada yang tertarik meminta dikirimi hasil karya Maya. Tapi karena prosedur perizinan, permintaan dari kedua negara itu belum bisa dipenuhi.

“Menekuni decoupage ini bisa menghilangkan stres. Karena itu saat sakitpun saya mengerjakan decoupage, alhamdulillah sakitnya hilang,” ujarnya.

Selain kerajinan tangan decoupage, Ny Ketut Maya Suwira juga berusaha di bidang kopi Bali. Berbeda dengan kopi-kopi yang lain, kopi jenis robusta yang diberi lebel “Pak Made” itu memiliki empat varian, yaitu kopi super, kopi honey, kopi perempuan, dan kopi laki. Saat ini, katanya akan memproduksi kopi rasa cokelat.

Tidak hanya menjual kopi berupa biji dan bubuk, Maya juga membuka kedai di tepi jalan Tol Cipali, Jawa Barat. Di Kedai “Diyati”, “Tiara Kafe”, dan “Expose”; masyarakat yang melalui jalan tol itu bisa menikmati kopi Bali “Pak Made”.  Untuk memberikan cita rasa yang pas, wanita mandiri yang kerap mengemudikan mobil sendiri Jakarta-Cirebon pergi-pulang  itu mendatangkan barista yang siap meracik kopi untuk para pembeli.

“Jadi sebenarnya banyak usaha yang bisa dilakukan oleh istri pensiunan. Dengan berusaha, kita tidak kaget ketika suami pensiun,” ucap wanita yang selalu memberi movivasi kepada putri-putrinya agar setelah lulus kuliah bisa menciptakan lapangan kerja buat diri sendiri maupun orang banyak. (ori)