- iklan -

YOGYAKARTA, ITN –Kolektif musik Indonesia Timur, Eastern Indo Collective (EIC), bersiap membawa kekayaan budaya Maluku dan Papua ke panggung internasional di Incheon, Korea Selatan, pada Sabtu (7/11/2026).

Grup yang diinisiasi rapper JFlow atau Joshua Matulessy ini akan memperkenalkan perpaduan musik tradisional dan modern, sekaligus membawa cerita perjuangan talenta dari wilayah kepulauan Indonesia.

-iklan-

Gagasan tersebut berangkat dari keterlibatan JFlow sebagai anggota ASEAN Korean Music Committee (AKMC), komite yang mendorong pertukaran musik antara negara-negara ASEAN dan Korea Selatan. Indonesia pernah menjadi tuan rumah festival ini di Ancol pada 2023,

Baca juga:https://indonesiatripnews.com/akomodasi/artotel-group-perkuat-kehadiran-di-jawa-tengah-melalui-pengelolaan-ramada-by-wyndham-dan-wyndham-garden-yogyakarta-conference-hotel-action-park/

Sementara pada penyelenggaraan lainnya Indonesia mengirimkan Pamungkas ke Manila. Untuk kesempatan tahun ini, JFlow ingin menghadirkan sesuatu yang berbeda dengan membawa talenta dari Indonesia Timur yang dinilai masih membutuhkan lebih banyak kesempatan tampil di panggung internasional.

Salah satu bagian yang paling dinantikan adalah pertemuan empat vokalis di balik lagu viral “Tabola Bale”, yakni Silet Open Up, Juan Reza, Jacson Seran, dan Diva Aurel. Keempatnya dijadwalkan tampil bersama dalam satu panggung, sebuah format yang disebut belum pernah mereka lakukan secara bersamaan sebelumnya.

Lagu “Tabola Bale” sendiri telah ditonton lebih dari 580 juta kali di YouTube. Penampilan di Incheon menjadi kesempatan untuk membawa popularitas lagu tersebut sekaligus memperkenalkan karakter musik Indonesia Timur kepada penonton internasional.

ARTOTEL Group Dukung Eastern Indo Collective, Bawa Seni dan Budaya Indonesia Timur ke Korea Selatan
Salah satu bagian dari gerakan EIC yang ditampilkan di depan rombongan 40 media Sindikasi Media Network (SMN) di Wyndham Garden dan Ramada by Artotel pada Jumat (16/10.2026). Foto. Dok. Indonesiatipnews.com

EIC tidak hanya melibatkan para vokalis tersebut, tetapi juga kreator dan musisi dari Kepulauan Kei, Maluku. Kehadiran mereka menjadi bagian dari upaya menampilkan kekayaan seni dan budaya kawasan timur Indonesia dalam format pertunjukan yang lebih luas.

Menurut konsep yang dibawa JFlow, gagasan kolektif ini sempat menghadapi tantangan karena penyelenggara hanya menyediakan satu slot untuk setiap negara. Namun, konsep keberagaman talenta yang ditawarkan akhirnya mendapat persetujuan.

Di balik persiapan menuju Korea Selatan, perjalanan para personel dari Kepulauan Kei menjadi cerita tersendiri. Sebagian anggota harus menempuh perjalanan laut sekitar lima hari, dengan singgah di Banda Neira, Ambon, Makassar, dan Surabaya sebelum tiba di Yogyakarta untuk menjalani latihan

Keterbatasan transportasi membuat mereka harus berangkat jauh hari sebelum jadwal penampilan. Biaya perjalanan dari Kei menuju Jakarta saja dapat mencapai Rp10 juta hingga Rp11 juta per orang. Bagi sebagian personel, perjalanan ini juga menjadi pengalaman pertama naik pesawat, mengunjungi Jakarta, bahkan pergi ke luar negeri.

Perjalanan yang diberi tajuk From Kei to Korea tersebut menggambarkan tantangan yang dihadapi talenta dari wilayah kepulauan untuk memperoleh akses menuju panggung dunia. Jarak, waktu tempuh, dan biaya perjalanan menjadi bagian dari perjuangan yang harus mereka lalui demi mewujudkan kesempatan tampil di luar negeri

Dukungan ARTOTEL Group untuk EIC

ARTOTEL Group mendukung Eastern Indo Collective (EIC), kolektif musik yang mengangkat potensi seni dan budaya Indonesia Timur, untuk tampil dalam festival musik internasional di Incheon, Korea Selatan.

Dukungan tersebut diberikan sebagai bagian dari upaya membuka kesempatan bagi talenta lokal untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada masyarakat internasional.

Chief Operating Officer (COO) ARTOTEL Group, Eduard Rudolf Pangkarego yang ditemui saat Launching Wyndham Garden dan Ramada by Artotel pada Jumat (16/10.2026), mengatakan Indonesia memiliki kekayaan budaya dan sumber daya manusia yang perlu dimaksimalkan agar semakin dikenal di tingkat global. Menurutnya, seni tidak hanya terbatas pada musik dan kemampuan bernyanyi, tetapi juga mencakup tarian, ekspresi, serta cara masyarakat mengekspresikan kehidupan.

“Indonesia sangat kaya. Sebenarnya sayang kalau kekayaan yang kita miliki tidak dimaksimalkan untuk memperkenalkan Indonesia kepada dunia,” ujar Eduard saat diwawancarai dalam sesi doorstop.

ARTOTEL Group Dukung Eastern Indo Collective, Bawa Seni dan Budaya Indonesia Timur ke Korea Selatan
Grup yang diinisiasi rapper JFlow (kiri atas) atau Joshua Matulessy ini akan memperkenalkan perpaduan musik tradisional dan modern, sekaligus membawa cerita perjuangan talenta dari wilayah kepulauan Indonesia. (Foto. Dok. Indonesiatripnews.com)

Ia menilai, potensi seni dan budaya Indonesia Timur memiliki peluang untuk menjadi bagian dari diplomasi budaya. Melalui penampilan di panggung internasional, talenta daerah dapat memperkenalkan identitas dan kekayaan budaya yang selama ini belum banyak mendapatkan kesempatan untuk tampil di hadapan audiens global.

Eduard juga menekankan pentingnya menghadirkan kabar positif melalui kegiatan seni dan budaya. Di tengah berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat, menurutnya, karya kreatif dapat menjadi sumber inspirasi sekaligus menghadirkan energi positif.

“Kita membutuhkan good news, kita membutuhkan berita-berita positif. Karena itu, kita ingin mendukung lebih banyak hal yang bisa membawa kabar baik bagi masyarakat,” katanya.

Sebagai perusahaan lokal, ARTOTEL Group memandang dukungan terhadap talenta dalam negeri sebagai langkah penting untuk memperkuat potensi Indonesia. Eduard mengatakan, pengembangan potensi lokal perlu dilakukan agar karya anak bangsa tidak hanya berkembang di dalam negeri, tetapi juga dapat diperkenalkan kepada masyarakat internasional.

Menurutnya, perjuangan anggota EIC menjadi salah satu alasan ARTOTEL Group memberikan dukungan. Sejumlah anggota kolektif berasal dari Kepulauan Kei, Maluku, dan harus menempuh perjalanan panjang untuk mengikuti persiapan pertunjukan.

Perjalanan dari wilayah kepulauan tersebut membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Para anggota juga menghadapi tantangan dalam mencari dukungan agar dapat mewujudkan kesempatan tampil di Korea Selatan.
Eduard mengaku tersentuh melihat semangat para anggota EIC yang tetap berusaha di tengah keterbatasan. Bagi sebagian anggota, rangkaian perjalanan ini menjadi pengalaman pertama naik pesawat dan mengunjungi Jakarta.“Ketika bertemu mereka, kita bisa melihat senyum dan semangat mereka. Saya merasa tersentuh melihat perjuangan seperti itu,” ungkapnya.

Ia menilai, semangat tersebut menunjukkan bahwa talenta dari daerah memiliki potensi untuk berkembang apabila memperoleh kesempatan dan dukungan yang memadai.

Komitmen Dukungan Terjalin dalam Waktu Singkat
Eduard menjelaskan, keterlibatan ARTOTEL Group bermula dari pertemuan yang difasilitasi oleh Ni Made Ayu Marthini dari Deputi Pemasaran Kementerian Pariwisata. Pertemuan tersebut membuka komunikasi mengenai kebutuhan dan peluang dukungan bagi EIC.

Proses pengambilan keputusan berlangsung relatif cepat. Menurut Eduard, komitmen untuk mendukung kolektif tersebut telah terbangun sejak pertemuan pertama, dengan keseluruhan proses berlangsung kurang dari satu minggu.

Keputusan itu didasarkan pada semangat para anggota serta potensi seni dan budaya yang mereka bawa. ARTOTEL Group melihat bahwa kesempatan tampil di panggung internasional dapat menjadi ruang bagi talenta Indonesia Timur untuk memperkenalkan karya dan identitas budaya mereka kepada audiens yang lebih luas.

Dukungan tersebut sekaligus memperlihatkan peran sektor swasta dalam membuka akses bagi pelaku seni dari daerah. Kesempatan tampil di luar negeri tidak hanya berkaitan dengan kemampuan artistik, tetapi juga membutuhkan kesiapan perjalanan, pendanaan, dan dukungan berbagai pihak.

Seni sebagai Sarana Diplomasi Budaya
EIC dijadwalkan tampil di Incheon, Korea Selatan, pada 7 November 2026, dengan membawa perpaduan musik modern, tarian, dan unsur tradisional Indonesia Timur. Penampilan tersebut diharapkan dapat memperkenalkan keragaman seni Nusantara melalui kolaborasi para talenta dari berbagai latar belakang.

Bagi ARTOTEL Group, dukungan terhadap EIC menjadi bagian dari upaya memperkenalkan potensi lokal ke tingkat internasional. Eduard berharap kesempatan tersebut dapat membantu para anggota mewujudkan impian mereka sekaligus membawa cerita positif tentang Indonesia.

Melalui kolaborasi antara pelaku seni dan sektor swasta, potensi budaya daerah diharapkan memperoleh ruang lebih luas untuk berkembang. Upaya tersebut juga menegaskan bahwa kekayaan Indonesia tidak hanya terletak pada warisan budayanya, tetapi juga pada kreativitas dan semangat generasi yang berupaya memperkenalkannya kepada dunia.

- iklan -