JAKARTA, ITN- Bertambah lagi oleh-oleh baru yang wajib dibeli untuk dibawa pulang dari Jakarta ke kota atau kampung halaman. Namanya, Chickocang, oleh-oleh ayam panggang utuh tanpa tulang dengan nasi gurih dan telur asin tersembunyi di dalamnya.

Oleh-oleh yang bisa dinikmati bersama-sama ini, akan menjadi kegembiraan bagi siapapun yang beruntung dibawakan dari Jakarta. Dengan pengemasannya yang menarik, mewah, dan bernuansa tradisi Indonesia. Chickocang hanya perlu dipanaskan di oven sekitar 20 menit atau kukusan sekitar 40 menit, dan siap disantap bersama-sama.

Kalau mau lebih pedas atau asam, sudah disiapkan sambal, potongan timun, kecap, dan jeruk limau yang sudah komplet di dalam kemasan.

Oleh-oleh baru ini kini mulai dibanjiri pesanan. Menurut pemilik bisnis Chickocang, Ruth Gabriel, setiap hari banyak sekali pesanan Chickocang mampir ke dapurnya melalui pesanan online. Apalagi menjelang hari–hari besar seperti Imlek yang akan datang sudah pasti pesanan akan mengantri. Umumnya memang mau dibawa ke kampung halaman atau oleh-oleh untuk teman kantor di kota lain, selain untuk dimakan bersama-sama untuk acara tertentu di Jakarta seperti ulang tahun, hari raya, atau sekadar untuk dimakan di kantor bersama teman kantor.

“Chickocang memang dapat dipesan melalui online atau telepon 08111286878 dan bisa dilihat secara lengkap di Instagram Chickocang. Biasanya dipesannya sehari sebelum mereka berangkat,” ujar Ruth.

Menurut Ruth, oleh–oleh ini bisa bertahan hingga beberapa hari apabila disimpan dikulkas dan cukup dihangatkan sesuai petunjuk yang ada. Untuk menjaga kualitasnya, Ruth, sang penemu Chickocang yang menempuh jurusan Culinary Art di Singapura ini, memberikan panduan di setiap pesanan bagaimana cara penyajian yang terbaik. Apalagi ayam utuh tanpa tulang ini memiliki teknis dan kesulitannya sendiri sebab tidak semua orang paham bagaimana melucuti tulang ayam dengan benar tanpa merusak kulit dan dagingnya.

Chickocang juga punya kemasan sangat menarik yang membuat orang yang “menenteng” kemasan Chickocang punya kebanggaan tersendiri. Kemasan yang sangat tradisional berupa besek bambu dan tas rajut pasar yang diproduksi oleh perajin-perajin lokal di daerah Yogyakarta dan Jawa Timur. Dengan niat untuk membantu dan mengangkat usaha lokal dan sekaligus memperkenalkan budaya dan makanan Indonesia.

“Sehingga melalui kemasan pelanggan sudah dapat melihat identitas makanan tersebut, seperti dari mana makanan itu berasal,” ungkap Ruth.

Chickocang ini dibandrol dengan harga Rp250.000 per ekor diluar ongkos pengiriman.

Makanan yang halal ini, tersedia juga varian rasa yang bisa dipilih sesuai dengan lidah pelanggan yang memakannya, dan sangat cocok untuk mereka yang merayakan ulang tahun, acara hari raya, kumpul-kumpul dan kegiatan bersama lainnya serta menjadi tren sebagai pengganti parcel/hantaran disaat sekarang.

Ruth punya impian untuk terus mendorong berkembangnya makanan Indonesia yang memiliki ciri khas Indonesia. “Sebagai anak muda Indonesia saya memiliki keinginan untuk membuat sesuatu yang bisa menjadi authentic Indonesia, bukan sekedar melihat dan meniru apa yang di buat oleh negara lain,” tuturnya. (evi)