JAKARTA, ITN– Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menyatakan hampir 63% masyarakat menyatakan akses untuk mendapatkan layanan kesehatan di Rumah Sakit masuk dalam kategori sulit dan sangat sulit. Angka lain menyebutkan masih ada 60,8% masyarakat di Indonesia yang kesulitan mengakses layanan kesehatan primer seperti Puskesmas atau Klinik.

Terbatasnya fasilitas kesehatan dan kurangnya tenaga medis yang bertugas membuat akses kesehatan masyarakat 3T (Terluar, Terdepan, dan Tertinggal) terhambat. Terkadang fasilitas kesehatan cukup memadai namun tenaga medisnya tidak tersedia, kondisi sebaliknya pun terjadi. Kendala geografis menjadi alasan utama tidak meratanya distribusi pendukung akses kesehatan.

dr Lie Dharmawan

Melihat hal tersebut, doctorSHARE menempatkan diri sebagai mitra pemerintah dalam upaya pemerataan akses kesehatan. doctorSHARE merupakan organisasi kemanusiaan non-profit yang memfokuskan diri pada pelayanan kesehatan dan bantuan kemanusiaan. Berdiri pada 19 November 2009.

doctorSHARE menyediakan akses bantuan medis secara holistik, independen, dan imparsial untuk masyarakat yang paling membutuhkan dan tidak memiliki jaminan sosial melalui Rumah Sakit Apung (RSA). RSA terus bergerak menjemput bola masyarakat di pelosok nusantara demi membantu masyarakat keluar dari masalah kesehatan tanpa keluar biaya.

Ruang Ibu melahirkan

Selama pelayanan bersama doctorSHARE, pendiri doctorSHARE dr Lie Dharmawan melihat beragam masalah berlapis saat masyarakat membutuhkan layanan kesehatan yang layak.

“Sudah selayaknya setiap masyarakat di Indonesia mendapatkan layanan kesehatan yang sama. Masyarakat di kota maupun di pedesaaan harus mendapat layanan kesehatan yang layak. Ini bukan hanya menjadi tugas pemerintah saja, melainkan tugas kita bersama untuk mewujudkannya,” ujar dr Lie saat talkshow bertema “10 Years Impact & Moving Forward for Bettering Indonesia’s Healthcare Outcomes” pada peringatan 10 Tahun doctorSHARE di Waterfront Amphitheatre Baywalk Mall Green Bay Pluit, Jakarta Utara, Sabtu (23/11/19).

Ruang Anak

Salah satu pengalaman yang diceritakan dr Lie saat turun langsung di wilayah 3T, yakni kurangnya edukasi dan informasi masyarakat mengenai bedah sesar. “Saya pernah bertugas di salah satu wilayah 3T. Saat itu ada lima calon ibu yang sudah saatnya melahirkan, dan saat diperiksa mereka harus melakukan bedah sesar. Tetapi karena kepercayan mereka yang keliru mengenai bedah, dan menganggap pembedahan akan mengakibatkan kematian, mereka kabur semua,” ujarnya.

Ini yang membuatnya kemudian bertekad memberikan edukasi mengenai informasi kesehatan. “Terpaksa saya dan tim mencari kelimanya dan syukurnya mereka mau kembali dan semuanya menjalani persalinan dengan selamat. Saya akhirnya memiliki lima cucu, empat perempuan dan satu laki-laki,” ungkapnya lebih lanjut.

Sederetan nama donatur yang terpasang di dinding sekat.

Sementara pada kesempatan yang sama Direktur Pelayanan Kesehatan Primer, Dirjen Pelayanan Kesehatan, Kementerian Kesehatan, drg. Saraswati mengatakan, “Pemerintah pusat melalui Dinas Kesehatan di daerah telah berusaha untuk mengurangi masalah kesehatan. Penguatan sisi promotif dan preventif di Puskesmas menjadi hal utama yang diupayakan pemerintah saat ini”.

Pemerintah menurutnya melakukan perumusan hingga mengevaluasi kebijakan di bidang pelayanan kesehatan untuk masyarakat di semua wilayah termasuk daerah terpencil, perbatasan, dan kepulauan.

Tenaga kesehatan di daerah dibimbing agar selaras dengan kebijakan pusat. Indonesia menjadi salah satu dari 193 negara yang berkomitmen untuk membawa perubahan dunia di tahun 2030.

Suasana di kapal RSA Nusa Waluya II.

Perayaan satu dekade doctorSHARE tidak hanya menghadirkan talkshow saja, para peserta dan pihak media mendapat kesempatan untuk melakukan kunjungan ke atas Rumah Sakit Apung Nusa Waluya II yang berlabuh di Teluk Jakarta. RSA yang berdiri di atas tongkang ini merupakan salah satu bentuk layanan doctorSHARE (Dokter Peduli) yang didirikan dr Lie Dharmawan sejak 10 tahun lalu.

RSA Nusa Waluya II menjadi program layanan kesehatan terbaru dari doctorSHARE. Rumah sakit yang berdiri di atas sebuah tongkang (barge) ini dirilis pada November 2018. Pelayanan yang diberikan setara rumah sakit tipe C di darat dan memiliki jangka waktu pelayanan yang lebih lama di wilayah kepulauan.

RSA melayani masyarakat daerah terpencil secara gratis. Sebelumnya RSA telah melayani 11.000 pasien pemulihan pasca bencana yang melanda Palu, Sulawesi Tengah pada 16 November 2016 – 15 Februari 2019.

Lie dijuluki dokter gila karena keberaniannya memakai kapal kayu mengarungi pelosok negeri untuk membantu mereka yang kurang mampu tetapi memerlukan kesehatan segera.

RSA Nusa Waluya II memiliki 30 – 40 tenaga medis dan perawat. Saat menaiki kapal RSA tersebut terlihat beberapa sekat. Dengan di pandu dua orang pemandu RSA Nusa Waluya II bernama Aloi (yang merupakan volunteer dari bidang apoteker) dan Niel (volunteer dari bidang keperawatan) memberikan arahan kepada peserta untuk menyaksikan fasilitas layanan kesehatan yang tersedia.

Beberapa fasilitas yang dilihat Indonesiatripnews.com dari RSA tersebut diantaranya fasilitas Ruang Tunggu/Pendaftaran pasien dengan jumlah 10 -15 pasien, lalu dilanjutkan ke Ruang Poli Umum, Poli Bedah, Poli Anak, Poli Interna, Poli Obgyn, Poli Gigi, IGD, Labolatarium, Apotek, Ruang Kelahiran Normal, dan  Ruang Rawat Inap.

Terlihat pula beberapa nama atau donatur yang telah memberikan bantuan  dan dukungannya kepada doctorSHARE dibeberapa sekat ruangan.

“Untuk mengetahui lebih lanjut sepak terjang tim doctorSHARE, dapat dilihat di www.doctorshare.org atau lewat sosial media kami di @doctorshare,” ujar Aloi.
dr Lie Dharmaan foto bersama sebelum melakukan tur RSA Nusa Waluya II pada acara perayaan 10 Tahun doktorShare di Waterfront Amphitheatre, Baywalk Mall, Green Bay Pluit, Jakarta Utara, Sabtu (23/11/19).

Menurut dr Lie, bantuan yang digalangnya ini lewat doctorSHARE lebih kepada rasa empati dan persaudaraan. “Apalagi jika melihat saudara-saudara kita di tempat-tempat terpencil yang masih belum merdeka dari penderitaan penyakit. Saya juga berharap banyak yang terketuk hatinya untuk ikut bersama-sama menanggulangi hal ini,” ungkapnya.

Memasuki satu dekade ini, dr Lie berharap diberikan kemudahan perizinan perkapalan, karena ada beberapa wilayah yang masih ‘ribet’ dengan Kementerian terkait agar urusan kemanusiaan bisa dimudahkan

Tak hanya perizinan salah satu pos pengeluaran yang terbesar adalah pemakaian BBM. Memang tidaklah mungkin mendapatkan subsidi, karena terkait bobot kapal yang melebih 8 ton. Subsidi hanya diberikan untuk kapal nelayan yang berbobot 8 ton

“Kapal ini jelas lebih dari 8 ton, namun kalau ingin perpegang teguh karena tidak ada yang membantu, kami tetap berjalan, karena kami cinta Indonesia dan punya hak untuk membangun bangsa ini, tolong jangan kaku untuk memberikan bantuan,” tutup dr Lie berharap. (evi)