JAKARTA, ITN– INDONESIA dikenal memilki ratusan motif tenun nusantara yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Tenun-tenun ini dibuat oleh tangan-tangan terampil perajin lokal. Sayangnya, tidak semua dari perajin ini mendapatkan akses pasar dan pemodalan memadai guna terus berkarya.

Hadirnya teknologi finansial di Indonesia, dapat menjadi salah satu terobosan baru dalam mengembangkan perekonomian Indonesia. Dalam rangka mewujudkan kesadaran akan pentingnya berkontribusi dalam perkembangan perekonomian di Indonesia, Modal Rakyat bersama Copa de Flores menyelenggarakan suatu talkshow yang didukung oleh Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) dan Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI).

Mengangkat tema ”Peran Teknologi Finansial untuk Menjunjung Transfigurasi Budaya Lokal”, acara dihadiri CEO Modal Rakyat Stanislaus M.C. Tandelilin, CEO Copa de Flores Maria G. Isabella, Ketua Harian Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia dan Kepala Sub Direktorat Metodologi Analisis Riset BEKRAF Dian Permatasari.

Copa de Flores adalah social entreprise yang  bergerak di industri kreatif sejak 2015 bekerjasama dengan lebih 10 komunitas penenun di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur untuk memberdayakan perempuan melalui kegiatan menenun sebagai medium pemulihan (mindfulness growing) berbasis meditasi visual.

Usaha rintisan ini dibangun delapan orang perempuan muda (millenial) yang akrab dengan sebutan “Nona” telah membuat delapan koleksi tematik yang penuh dengan cerita tentang women empowerment, nature, dan culture.

CEO Copa de Florest Maria G. Isabelal mengatakan, “Mera Bura tidak hanya sekedar ceremony, tetapi Mera Bura ini menjadi titik awal perjuangan Copa de Flores bersama Modal Rakyat untuk meningkatkan kualitas Ibu-Ibu Penenun di Nusa Tenggara Timur”.

Akses pasar dan permodalan dapat memberikan UMKM kesempatan untuk terus mengembangkan usahanya. Selain itu, bisa memberikan kesempatan bagi penenun lokal guna mendapatkan penghasilan yang lebih layak. Copa de Florest mencatat, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah kemiskinan di NTT mencapai 1,15 juta orang atau mencapai 21,85 persen dari total populasi. Di mana mayoritas perempuan di sana beranggapan lebih baik bekerja di rumah dan mengurus anaknya.

Menenun menjadi salah satu aktivitas yang bisa menggerakkan perekonomian perempuan di NTT untuk mendapatkan penghasilan sambil menjaga anak. Sehingga, kehadiran UMKM guna menjadi wadah bagi mereka mendapatkan pasar yang lebih luas dapat membantu memperbaiki penghasilan. Tetapi, tidak semua UMKM dapat memenuhi persyaratan perbankan guna mendapatkan pendanaan.

Berdasarkan data dari Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah terdapat 62,9 juta pelaku usaha UMKM di Indonesia. Sayangnya, baru 20 persen yang bankable. Sebanyak 80 persen sisanya ini lah yang harus mencari pendanaan dari lembaga keuangan selain perbankan. Salah satu alternatif lembaga keuangan yang saat ini terus berkembang adalah fintech peer to peer lending (P2P lending).

Modal Rakyat sebagai peer to peer lending yang fokus pada pendanaan produktif, khususnya UMKM memiliki visi yakni menjadi peer to peer lending yang berkontribusi pada inklusi keuangan dengan menawarkan pembiayaan alternatif untuk semua sektor UMKM di seluruh Indonesia.

CEO Modal Rakyat Stanislaus M.C. Tandelilin kepada Indonesiatripnews.com belum lama ini mengatakan,” Modal Rakyat juga menyalurkan pendanaan sebesar Rp74 juta kepada Copa de Florest guna mendukung pengembangan usahanya. Modal Rakyat dan Copa de Flores bertemu di jaringan ekosistem Digitaraya yang diampu oleh Google Indonesia.

Modal Rakyat pun mencatat selama ini pendanaan untuk sektor produktif terus mengalami kenaikan. Hingga saat ini Modal Rakyat telah menyalurkan 2.000 unit pinjaman produktif yang tersebar di 16 provinsi di Indonesia.

Sementara Stanislaus MC Tandelilin, mengungkapkan bahwa melalui program Mera Bura, Modal Rakyat dapat mengajak masyarakat Indonesia, khususnya perempuan untuk berkontribusi pada inklusi keuangan di Indonesia. Stanis menargetkan hingga tahun 2020 Modal Rakyat dapat menyalurkan Rp300 Milliar dan meningkatkan angka Pendana dan Peminjam perempuan hingga 70%.

Sektor yang telah didanai mencakup perdagangan, agen pulsa, IT, logistik, kesehatan, kelautan, otomotif, perikanan dan lain-lain. Selain itu, Modal Rakyat juga terus mengembangkan layanan dengan meluncurkan fitur kredit pinjaman lunak atau penyaluran CSR. Peran fintech P2P lending dalam membantu penyaluran dana kepada masyarakat memang mulai dirasakan oleh UMKM.

Di samping peran swasta, dukungan pemerintah juga diperlukan guna mengembangkan sektor UKM di Indonesia. Kepala Sub Direktorat Metodologi Analisis Riset BEKRAF Dian Permanasari mengatakan, “Ini menjadi terobosan baru, kolaborasi yang patut didukung. Apalagi di daerah Indonesia timur industri kreatif masih banyak tertinggal, oleh karena itu kita harus membangun inisiatif bersama”. (*/evi)