BANGKA BARAT, ITN– INDONESIA negara yang kaya akan sejarah dan budaya. Sebagian tercatat rapi dalam catatan sejarah dan sebagian lagi hanya menyisakan reruntuhan cerita hingga menjadikannya misteri yang diburu kebenarannya oleh dunia.

Sejarah merupakan magnet utama bagi wisatawan saat mengunjungi Muntok, di Bangka Barat provinsi Bangka Belitung. Indonesiatripnews.com pada acara kunjungan Forum Wartawan Pariwista (Forwapar) selama tiga hari (24-26 September 2019) lalu berkesempatan untuk melihat dan memahami beberapa bangunan bersejarah yang ada di kota Negeri Sejiran Setason tersebut.

Masjid Jami yang berdampingan dengan Klenteng Kung Fuk Miaw yang menjadi simbol kerukungan umat beragama di Muntok. (foto itn/evi)

Hari pertama menginap di Hotel & Restaurant Yasmin yang terletak di Jalan Depati Amir No 07 Muntok, Bangka Barat selain dapat menikmati jajanan pasar seribu kue Ibu Siah di pagi hari, wisatawan juga dapat melihat indahnya bangunan tempat beribadah, yakni Masjid Jami dan Klenteng Kung Fuk Miaw yang berdiri berdampingan.

Masjid Jami dan Klenteng Kung Fuk Miaw

Menurut masyarakat sekitar bangunan masjid Jami dan Klenteng Kung Fuk Miaw ini merupakan simbol kerukunan umat beragama serta suku  di Muntok.

Masjid yang dibangun pada 1883 ini merupakan masjid tertua yang berada di Muntok. Teretak di tengah Kota Muntok tepatnya di Kawasan Pasar Muntok, masjid ini memiliki tangga naik di sisi timurnya, sementara sisi selatan dan utara masing-masing memiliki empat jendela besar dengan pintu di bagian tengahnya.

Masjid yang didominasi warna hijau dan putih ini memiliki atap dengan dua tingkat menyerupai tumpeng.

Masjid Jami (foto. itn/evi)

Sementara di sebelahnya, Klenteng Kung Fuk Miaw merupakan klenteng pertama di Muntok yang diperkirakan dibangun pada 1820 oleh orang-orang China dari Suku Kuantang dan Fu Kien yang telah lama menetap di Muntok. Saat masuk klenteng ini,  terlihat di bagian beranda yang ditopang oleh dua pilar berlilitkan naga.

Rumah Mayor China

Dihari kedua, Rabu (25/9/19), Rumah Mayor China yang menjadi bagian dari perkembangan Kota Muntok dengan akulturasi budaya China, Melayu, dan Eropa di Kota Timah ini menjadi tempat persinggahan untuk mengenal lebih jauh.

Memasuki Rumah Mayor akan terlihat dua arca singa. Dahulu rumah ini tak lain adalah kediaman Mayor Chung A Tiam, seorang keturunan Tionghoa yang diberi gelar kehormatan Mayor oleh Pemerintah Belanda pada zaman penjajahan.

Rumah Mayor China dengan 16 pilar besar di bagian teras. (foto itn/evi)

Gelar Mayor merupakan pangkat terhormat untuk orang terpandang yang bertugas sebagai pengatur dan pelaksana kegiatan perdagangan di Muntok. Rumah yang ditempat oleh keturunan sang Mayor ini menyimpan sejumlah benda-benda antik dan bersejarah milik keluarga.

Bangunan Rumah Mayor yang didirikan pada 1834 memiliki arsitektur bangunan khas Eropa dengan penggunaan 16 pilar besar di bagian teras. Lokasi rumah ini berada di depan Pelabuhan Kota Muntok, Kabupaten Bangka Barat.

“Muntok adalah kota tua yang berdiri sejak berabad silam dan sejak zaman Belanda, kota Muntok telah dibangun menjadi sebuah kota pelabuhan,” ujar Ketua Mentok Heritage Community (MHC), Chairul Amri Rani kepada Indonesiatripnews.com.

Melalui Pelabuhan Muntok inilah menurut Amri, hasil alam terutama lada dan timah putih Bangka, diangkut kapal-kapal Belanda menuju ke daratan Eropa. Jejak-jejak kejayaan Mentok di masa lalu masih bisa dijumpai hingga kini.

Foto keluarga Mayor China yang terpasang di dinding rumah. (foto itn/evi)

Saat memasuki ruangan tengah yang luas terlihat di dalamnya altar pemujaan, meja dan kursi tamu, hiasan-hiasan dinding yang berupa foto Mayor, juga istrinya, Yap Im Neo, foto-foto keluarga besar, hiasan dinding yang merupakan ucapan selamat ulang tahun, ulang tahun pernikahan dalam bahasa Mandarin.

Dahulu ruang tengah ini merupakan pertemuan Mayor dan rekan-rekannya, ruang hiburan seperti dansa, sekarang menjadi ruang sembahyang.

Tanjung Kalian

Selesai dari Rumah Mayor China, perjalanan sejarah selanjutnya, yakni Tanjung Kalian Lighthouse. Melihat menara suar (mercusuar) Belanda dengan arsitektur Inggris setinggi 56 meter.

Mercusuar yang dibuat pada tahun 1862 ini memiliki 18 lantai dengan 190 anak tangga batu yang melingkar di dalam mercusuar tersebut. Seperti halnya mercusuar yang lain, mercusuar ini masih berfungsi sebagai sarana penyelamat lalu lintas kapal di wilayah Tanjung Kalian pada malam hari. Sinar lampu mercusuar ini masih dapat di lihat dengan jelas pada radius 25 mil jarak kapal.

Tanjung Kalian. (foto itn/evi)

Dari ketinggian 18 lantai ini, wisatawan dapat menikmati suasana pantai dengan sempurna, seperti Batu Rakit, Batu Berani, dan Muntok Asin. Tak hanya itu, destinasi popular warga Muntok ini memiliki sebuah bangkai kapal Van Der Parra yang karam di bom oleh tentara Jepang.

Selain itu ada juga beberapa bangkai kapal lainnya di pantai dan monument Perang Dunia II yang mengingatkan akan sengitnya pertempuran di peraian Bangka.

Pesanggrahan Menumbing

Lanjut dari Tanjung Kalian menuju Pesanggrahan Menumbing yang merupakan salah satu aset sejarah Bangka Barat yang menjadi saksi dari perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia oleh Ir Soekarno, Drs Mohamad Hatta, dan para pejuang kemerdekaan lainnya.

Pesanggrahan Menumbing yang menjadi salah satu aset sejarah Bangka Barat (foto itn/evi)

Pesanggarahan ini berada di ketinggian 445 mdpl dengan luas dua hektar terdiri dari tiga bangunan, yakni bangunan utama dan dua bangunan pavillium. Bangunan utama menempati lokasi di puncak bukit Menumbing dengan interior yang terdiri dari atas ruang tamu, aula pertemuan, dan kamar-kamar tidur.

Pada bagian belakang berupa dapur dan kamar mandi. Arsitektur bangunan ini terlihat rapih dan bergaya Eropa. Pada ruang aula pertemuan terlihat dindingnya yang terbuat dari batu granit. Sedangkan di bagian atapnya berfungsi sebagai lokasi pandang yang dapat melihat ke arah perairan yang mengelilingi Kota Muntok, mulai dari perairan Laut China Selatan sampai perairan Selat Bangka.

Mobil klasik berada di Pesanggrahan Manumbing yang digunakan para tokoh NKRI saat berada di Muntok. (foto itn/evi)

Dari pantauan yang terlihat di dalam pesanggrahan ini banyak menyimpan barang-barang bersejarah, seperti perabotan lama dan meja tulis dari batu pualam, juga mobil klasik  berwarna hitam  dengan merek Ford De Luxe buatan tahun 1948. Mobil ini digunakan oleh tokoh-tokoh NKRI yang diasingkan untuk mengunjungi beberapa orang di kota Muntok dan kota lainnya di Pulau Bangka.

Di sekitar bangunan yang mirip benteng ini banyak lembah yang curam serta perbukitan yang masih terjaga kelestariannya, tak heran kalau udara di sekitar Pesanggrahan Menumbing ini terasa sejuk.

Pesanggrahan Muntok (Wisma Ranggam)

Dari Pesanggarahan Menumbing, perjalanan serajah dilanjutkan menuju Pesanggarahan Muntok atau Wisma Ranggam. Gedung ini dibangun pada 1827 oleh Banka Tin Winning (BTW) perusahaan tambang timah pada masa kolonial Belanda untuk peristirahatan karyawan perusahaan timah milik Belanda. Pada 6 Februari 1949 menjadi tempat pengasingan Bung Karno dan Agus Salim untuk kemudian bertemu dengan Bung Hatta.

Wisma Ranggam tempat pengasingan Bung Karno dan Agus Salim untuk kemudian bertemu dengan Bung Hatta. (foto itn/evi)

Memasuki pesanggrahan di halaman pesanggrahan berdiri sebuah monumen dengan tulisan yang dibuat sebagai kenang-kenangan di pengasingan.

Berbeda dengan Pesanggrahan Menumbing yang lebih banyak terlihat perabotan, di Wisma Ranggam sedikit lebih kosong, namun begitu kesan histori dan gambaran masa lalu masih sangat terasa ketika berkeliling. Kamar tidur para tokoh sejarah pun masih tampak terlihat terawat hingga kini.

Vas bunga dan beberapa replika peninggalan Bung Karno di kamarnya. (foto itn/evi).

Dengan dipandu pengurus pesanggrahan, Alfani mengajak berkeliling dan menceritakan peristiwa pada masa dimana tokoh proklamasi diasingkan dan berjuang dengan segala keterbatasan yang ada di Pulau Bangka.

Indonesiatripnews.com menyempatkan diri untuk masuk ke kamar yang dahulu pernah digunakan para tokoh besar bangsa ini untuk beristirahat. Yang menarik di kamar Bung Karno terlihat vas bunga yang diletakkan di sebuah meja. “Vas bunga ini isinya bunga mawar, setiap tiga hari sekali bunganya diganti. Yang bekerja mengisi bunga ini masih ada, beliau bernama Raden Ayu Indrawati, usianya 90 tahun, dan tinggal tak jauh dari sini,” ungkap Alfani.

Di kamar inilah Bung Karno menangis melihat bendera Pusaka Merah Putih dibentangkan, yang selama itu berpisah karena disembunyikan di Kampung Ulu Mentok, di rumah AM Yusuf Rasidi. (foto itn/evi)

Selain kamar Bung Karno, Kamar dengan foto Bung Karno yang terpasang besar dengan sebuah mesin jahit dan bendera Sangsaka Merah Putih tampak menghiasi kamar tersebut. Kamar ini mengisahkan, sehari sebelum Sangsaka Merah Putih di bawa pulang ke Yogyakarta, Bung Karno menangis melihat bendera Pusaka Merah Putih dibentangkan, yang selama itu berpisah karena disembunyikan di Kampung Ulu Mentok, di rumah AM Yusuf Rasidi.

Hari menjelang sore, perjalanan sejarah dilanjutkan dengan mengunjungi Museum Timah Indonesia Muntok (Hoofdbureau-Bankatinwinning) yang menjadi perjalanan terakhir menjelajahi perjalanan sejarah di Negeri Sejiran Setason di Bangka Barat. Museum yang terletak di Jalan Jenderal Sudirman, Muntok, Kabupaten Bangka Barat ini menyimpan kisah panjang tentang perjalanan sejarah pertimahan Bangka Belitung.

Museum Timah Indonesia Muntok

Museum Timah Indonesia Muntok dibuka untuk umum sejak 7 November 2013. Bangunan museum berarsitektur Eropa ini dulunya adalah kantor perusahaan timah Belanda tahun 1915 dan bernama Hoofdbureau-Banka Tinwinning Bedriff.

Museum Timah Indonesia Muntok yang bergaya arsitektur Eropa. (foto itn/evi)

Terdapat total sembilan galeri di museum ini. Galeri pertama menyajikan sejarah Bangka dan Muntok. Galeri kedua menerangkan tentang sosial budaya Muntok. Galeri ketiga tentang sejarah Perang Dunia II di Muntok.

Galeri keempat menceritakan sejarah pengasingan Bung Karno di Muntok. Galeri kelima berisikan seputar geologi dan eksplorasi. Galeri keenam dan ketujuh menginformasikan tentang sejarah pengetahuan penambangan darat dan laut. Galeri kedelapan berisi pengetahuan peleburan timah, dan terakhir atau galeri kesembilan yaitu sarana dan prasarana kreasi anak zaman.

Salah satu galeri di Museum Timah Indonesia Muntok yang menyimpan sejarah pengasingan Bung Karno. (foto dok itn)

Di ruang galeri Geologi dan Eksplorasi serta Galeri Tambang Darat dan Tambang Laut dipamerkan peta pertambangan timah di dunia dan Indonesia, alat untuk mengukur kandungan timah, alat pemetaan wilayah, jenis-jenis timah mentah, dan alat eksploitasi timah.

Hanya ada dua tempat di Indonesia yang memiliki kandungan timah besar yakni Karimun dan Kundur di Kepri serta Bangka-Belitung. Di Galeri Peleburan Timah dijelaskan sejarah peleburan logam dari masa ke masa. Peleburan timah pertama di dunia terjadi di Turki pada tahun 1.500 SM ketika seseorang mencampurkan tembaga dan timah menjadi perunggu.

Salah satu galeri museum yang menjabarkan proses peleburan bijih timah di PT Timah. (foto itn/evi)

Peleburan timah di Bangka telah berlangsung mulai abad ke-10. Ruangan ini menjabarkan dengan detail proses peleburan bijih timah di PT Timah dan beberapa sampel timah olahan siap jual.

Dalam Galeri Sarana Prasarana memamerkan foto-foto lama Kota Muntok tempo doeloe, termasuk peta kota tua Muntok. Galeri Bung Karno menampilkan foto ketika Bung Karno dan kawan-kawan diasingkan ke Muntok. Termasuk miniatur Wisma Ranggam dan Wisma Menumbing, gedung tempat tokoh-tokoh diasingkan di Muntok. (evi)