SOLO, ITN- Sejak diresmikan pada awal April 2018 lalu, Tumurun Private Museum kini menjadi kebanggaan masyarakat Solo. Museum ini menjadi perbincangan para pecinta seni di Indonesia serta menambah deretan museum seni yang mulai bermunculan di Indonesia.

Sesuai dengan nama museumnya, museum ini tidak dibuka secara publik untuk umum. Dikarenakan museum tersebut museum private milik Iwan Kurniawan Lukminto, anak dari pendiri perusahaan tekstil terbesar Asia, PT Sritex, HM Lukminto. Maka tidak semua orang dapat dengan leluasa masuk ke museum ini.

Tumurun Private Museum. (foto ibonk/journeyofindonesia)

Untuk bisa berkunjung ke museum ini, pihak Tumurun tidak membebani biaya sama sekali namun  harus melakukan reservasi terlebih dahulu, tujuh hari sebelum hari kunjungan melalui website Tumurun Private Museum. Pasalnya sistem yang digunakan adalah penjadwalan. Tumurun Private Museum menerima kunjungan dari hari Senin hingga Sabtu dengan maksimal 10 reservasi tiap harinya.

Museum yang terletak di Jalan Kebangkitan Nasional, dekat dengan Taman Sriwedari, Solo ini terinspirasi dari ayahnya yang juga serorang kolektor dan penikmat seni. Tak hanya itu mobil Mercy keluaran tahun 1972 peninggalan milik almarhum Lukminto yang ketika ia wafat dan tidak ada yang merawatnya juga menjadi inspirasi untuk segera membangun ruang yang besar agar mobil Mercy dan karya-karya seni koleksi almarhun Lukminto dapat tersimpan dengan baik.

nstalasi bertajuk “Changing Perspectives” karya perupa muda asal Jogjakarta, Wedhar Riyadi,dengan tinggi tujuh dan lima meter. (foto ibonk/journeyofindonesia)

Indonesiatripnews.com yang datang bersama peserta famtrip Forum Wartawan Pariwisata (Forwapar) belum lama ini  berkesempatan untuk mengunjungi museum tersebut. “Tumurun diambil dari kata turun-temurun dalam arti mewariskan dari generasi lama ke generasi baru. Sehingga semua karya seni yang ada di museum ini baik itu patung, lukisan, dan mobil adalah koleksi milik pribadi,” ujar pemandu museum, Sofyan Prasetyo.

Untuk masuk ke museum, selain tidak diperkenankan membawa masuk tas, Sofyan juga tidak menyarankan untuk masuk ke lantai 2 dikarenakan dibagian atas menjadi area modern art terdapat lukisan tua yang pelukisnya sudah tidak ada, serta beberapa lukisan maestronya Indonesia, seperti pelukis Affandi, Sudjoyono, HIdayat, Basoeki Abdullah, Antonio Blanco, dll yang harus dijaga keamanannya.

Pemandu museum, Sofyan Prasetyo saat menjelaskan lukisan kaya
Lukisan karya Rudi Mantofani yang berjudul “Merah dan Putih (2017)” dengan ukuran 180 cm x 300 cm. (foto. ITN/evi)

Tak hanya itu sebelum masuk Sofyan juga menyarankan kepada pengunjung museum untuk tidak menyentuh karya seni dengan alasan apapun, seperti lukisan, patung, juga mobil. “Jarak karya seni dengan pengunjung kurang lebih satu meter, agar karya tersebut tidak tersenggol dengan kita. Boleh mengambil foto tetapi flash dimatikan karena dapat berpengaruh kepada karya seni,” ungkapnya.

Sebelum berkeliling, ia pun berpesan untuk tidak menduduki panggung melingkar berwarna putih, serta kursi dan meja yang ada di bagian belakang, dikarenakan meja dan kursi tersebut merupakan karya seni.

Lukisan I Made Djirna menggunakan pasir sebagai bahan dasar lukisannya. (foto ITN/evi)

Sebelum menjelaskan, Sofyan juga menyarakankan bagi pengunjung yang masih belum jelas mengenai sebuah karya yang ada di museum ini dibekali dengan barcode yang dapat langsung scan QR dari gadget masing-masing dan akan mendapat informasi yang lengkap tentang karya tersebut.

Perjalanan menikmati karya seni di museum ini dimulai dengan menikmati beberapa karya seni terfavorit yang berada di lantai dasar tepatnya area Contemporary Art. Ada sekitar 100 karya seni yang di pajang di lantai dasar ini.

“Di area ini pelukisnya masih muda-muda dan produktif. Yang pertama Sofyan memperkenalkan instalasi bertajuk “Changing Perspectives” karya perupa muda asal Jogjakarta, Wedhar Riyadi, dua instalasi setinggi tujuh dan lima meter ini tampak telihat megah berdiri di tengah ruangan.

Karya seniman asal Solo, Aditya Novali berjudul “The Wall: Asian (Un) Real Estate Project (2013)” berukuran 365 cm x 180 cm x 25 cm menceritakan sebuah apartemen yang berada di luar negeri dengan dua pemikiran orang luar negeri tentang apartemen. (foto ITN/evi)

“Melalui instalasi ini Wedhar Riyadi mengkritik sosial media. Menurut Wedhar orang yang sedang menggunakan akun sosial media, dalam hal ini Facebook dan Instagram itu sudah no privacy lagi, karena secara tidak langsung kita sedang melakukan apa dan sedang apa, dan kita sedang dimana itu secara tidak langsung banyak pasang mata yang melihat, untuk itulah instalasi tersebut digambarkan banyak pasang mata,” ungkap Sofyan.

Tak hanya itu, menurutnya Wedhar juga menggambarkan pada instalasi tersebut selagi kita banyak yang mengamati ternyata kita juga banyak yang mengikuti, sehingga pada instalasi yang memiliki tinggi lima meter tersebut menggunakan kaki.

Dilanjutkan dengan memperkenalkan mobil Mercy milik almarhum Lukminto yang telah menemani Lukminto ketika masih berdagang di Pasar Klewer, Solo hingga wafat. Menurut Sofyan mobil tersebut masih bisa jalan dan interior mobil pun masih original.

Lukisan berjudul ‘Sapalah Kehidupan dengan Ramahi (2013)’ berukuran 145 cm x 145 cm karya Abdul Djalil Pirous ini terdapat potongan ayat suci Al Qur’an, yakni surat Al-Isro ayat 37. (Foto ITN/evi)

Koleksi terfavorit selanjutnya, yakni karya baru dari seniman Bali, I Made Djirna yang baru empat bulan hadir di museum. Lukisan dengan media canvas berukuran 295 cm x 485 cm tersebut berjudul ‘Mencari Yang Hilang (2014)’ menceritakan Ramayana dan Sinta. Lukisan I Made Djirna sangat menarik dikarenakan bahan dasar yang dijadikan media lukisannya menggunakan pasir.

Lukisan bendera merah putih dengan penambahan material Kepulauan Indonesia di tengah yang menggambarkan berbagai macam ras, suku, budaya, dan agama yang ada di Indonesia tampak terlihat menyegarkan mata.

Menariknya Kepulauan Indonesia tersebut terbuat dari cat acrylic yang dikeraskan lalu dibentuk dan di ukir. Kepulauan tersebut jika diperhatikan memiliki dua warna yang dapat dilihat. Banyak yang mengira kalau lukisan karya Rudi Mantofani yang berjudul “Merah dan Putih (2017)” dengan ukuran 180 cm x 300 cm tersebut terbuat dari kertas yang ditempel, namun yang sesungguhnya warna merah putih tersebut sebuah lukisan.

“I am a ghost in my own house (2012)” menceritakan sebuah kehidupan. (foto ibonk/journeyofindonesia)

Bergeser sedikit dari karya Rudi, terapat dua lukisan karya Eddy Susanto berjudul “Melencolia I (Java Durer #2) 2016” yang berukurkan 300 cm x 200 cm menggunakan aksara Jawa, serta “After Baba (T) D Diponegoro (2013)” yang berukuran 190 cm x 300 cm. Menariknya lukisan yang menceritakan perang Diponegoro ini dapat berubah warna jika diberi cahaya.

Dilanjutkan dengan lukisan karya F Sigit Santosa yang berjudul “Mea Culpa, Mea Culpa, Mea Maxima Culpa (2017)” dengan ukuran 200 cm x 140 cm yang menggunakan cat minyak pada canvas. “Mengungkapkan betapa malaikat pun menyesali diri karena berbuat dosa,” ujar Sofyan.

“Ini lukisan terfavorit saya. Lukisan berjudul ‘Sapalah Kehidupan dengan Ramahi (2013)’ berukuran 145 cm x 145 cm karya Abdul Djalil Pirous ini terdapat potongan ayat suci Al Qur’an, hampir di setiap lukisan karya seniman lulusan ITB Bandung ini memasukan potongan ayat suci Al Qur’an yang terkait dengan judul lukisannya,” jelas Sofyan.

Untuk lukisan ini menurutnya Abdul Djalil mengambil potongan dari surat Al-Isra ayat 37, yang arti dari ayat tersebut, yaitu dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan sombong, sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.

Menikmati karya seni Melati Suryodarmo “I am a ghost in my own house (2012)” menceritakan sebuah kehidupan yang juga ditampilkan dalam layar tv. (Foto ibonk/journeyofindonesia)

Lukisan tersebut mengambil cerita lempengan bumi yang dibawahnya terdapat magma, dan yang menakjubkan pada gambar lempengan bumi tersebut terbuat dari emas.

Sementara seniman Melati Suryodarmo dengan karyanya yang berjudul “I am a ghost in my own house (2012)” menceritakan sebuah kehidupan yang juga ditampilkan dalam layar tv.

Di sebelah karya Melati, karya seniman asal Solo, Aditya Novali berjudul “The Wall: Asian (Un) Real Estate Project (2013)” berukuran 365 cm x 180 cm x 25 cm menceritakan sebuah apartemen yang berada di luar negeri dengan dua pemikiran orang luar negeri tentang apartemen. Yang pertama kalau tinggal di apartemen seperti kita menginap di apartemen pada umumnya, dan yang kedua pemikiran kalau tinggal di apartemen seperti di penjara.

Aditya menggambarkannya dengan membuat 126 kotak yang berisi kamar apartemen tersebut. Uniknya pada kotak-kotak yang terdapat pada karya tersebut memiliki tiga bagian yang bisa diputar. Sofyan pun kemudian memutar bagian dari lukisan yang hanya bergambar tembok, yang setelah diputar terdapat gambar kamar penjara, dan di putar lagi terdapat gambar kamar tidur biasa.

Yang terakhir Sofyan memperlihatkan sebuah lukisan terfavorit karya seniman Jakarta, yakni Windi Apriani yang berjudul “Ere Dim (2019)” berukuran 230 cm x 190 cm dengan media arsiran ballpointpen di canvas. Lukisan tersebut menceritakan ke-detailan bagaimana si pelukis tersebut membuat karyanya. Nindi menurut Sofyan merupakan seniman yang tipikalnya tidak mau di ‘deadline’ dalam menciptakan karya lukisnya.

Mengingat suasana museum ini sangat instagenic, jangan lupa sebelum keluar dari museum sempatkan untuk berfoto dengan beberapat karya seni yang ada. Untuk ber-swafoto pengunjung diberikan waktu selama 15 menit. (evi)