JAKARTA, ITN- NASI Megono tidak hanya ada di Pekalongan, Jawa Tengah. Makanan khas yang satu ini juga ada di Batang. Megono berasal dari kata mergo yang artinya sebab dan ono yang artinya ada. Makanan rakyat ini sangatlah mudah membuatnya, yakni nangka muda yang dicacah kecil-kecil dan ditambahkan parutan kelapa, cabe, dan bumbu-bumbu lainnya. Nasi Megono ini bisa disajikan dengan mendoan tempe, ayam bakar, dan lain-lainnya.

Nasi Royal (nasi dengan megono) yang dibungkus dengan daun pisang lalu dikukus. (foto. evi)

“Ada sedikit perbedaan antara Nasi Megono Pekalongna dengan Nasi Megono Batang, yakni Megono Pekalongan memakai bunga kecombrang, sedangkan di Batang tidak memakai kecombrang,” ujar Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata dan Olahraga Kabupaten Batang, Endah Karunia Sabati kepada IndonesiaTripNews.com.

Meskipun Nasi Megono lebih identik dengan daerah  Kabupaten Pekalongan, namun hampir di sepanjang jalan terdapat warung lesehan Nasi Megono di Kabupaten Batang ini.

Lontong Lemprak Mba Moer

“Di Batang, Nasi Megono kami namakan Nasi Royal. Bedanya dengan Nasi Megono, hanya terletak dari cara penyajiannya. Nasi Royal di Batang ini, yakni nasi yang diberikan Megono lalu dibungkus dengan daun pisang dan dikukus,” ujar Kepala Dinas Pariwisata dan Olahraga Kabupaten Batang,  Wahyu Budi lebih lanjut.

Mba Moer (kiri) bersama adiknya, Anti yang telah berjualan Lontong Lemprak di Alun-alun Kota Batang selama kurang lebih 21 tahun. (foto. evi)

Selain Nasi Megono, Lontong Lemprak juga menjadi pilihan yang harus dicoba jika berada di Batang. Terletak di pojok Timur Alun-alun Kota Batang, IndonesiaTripNews.com mencoba untuk makan di Lontong Lemprak Ayam Kampung  “Mbak Moer” Khas Batang.

Lontong Lemprak ini tak beda jauh dengan yang namanya Lontong Opor, terdiri dari lontong, ayam kampung, dan diberi kuah opor (kuah santan). Yang membedakan hanya tambahan sambal merah yang terbuat dari cabe merah dan bawang daun goreng.

Pengunjung menikmati Lontong Lemprak Mba Moer.

Harga satu porsi Lontong Lemprak Mba Moer dihargai Rp19.000 namun jika tak ingin banyak lontongnya hanya dikurangi Rp1.000. “Untuk kuah opor pengunjung boleh memilih kuah opor encer atau kental (banyak santan),” ujar Antiningsih adik dari Mbak Moer.

“Saya sudah 21 tahun berjualan Lontong Lemprak di alun-alun Kota Batang,” ujar Mbak Moer yang memiliki nama lengkap Moertiningsih.

Lontong Lemprak menjadi suguhan jamuan makan malam saat berkunjung ke rumah dinas Bupati Batang, Wihaji pada Jumat malam (4/5/18). (foto evi)

Nama Lemprak sendiri menurut Mbak Moer, karena pengunjung makan tidak duduk dibangku melainkan duduk lesehan/lemprakan. Warung mulai buka pukul 17.00-22.00 WIB. “Sehari saya menghabiskan 11 ekor ayam kampung dengan ukuran ayam 1,5-1,7 Kg. Ayam kampung bisa empuk karena dimasak sekalian banyak,” ungkap Mba Moer yang mengaku warungnya selalu dikunjungin hingga ratusan pengunjung.

Tidak hanya di warung Lontong Lemprak Mba Moer, saat berkunjung ke rumah dinas Bupati Batang, Wihaji, Jumat malam (4/5/18) IndonesiaTripNews.Com bersama peserta press tour Biro Komunikasi Publik Kementerian Pariwisata mendapat suguhan Lontong Lemprak yang menjadi ciri khas Batang tersebut.

Kue Serabi asal Kalibeluk berukuran besar-besar, berbentuk bulat, dan memiliki rasa khas ini bisa dikonsumsi untuk beberapa orang.

Selain makanan utama Nasi Megono dan Lontong Lemprak, Kue Serabi Kalibeluk menjadi camilan khas Batang. Kue serabi berbahan dasar tepung dan santan ini dinamakan Serabi Kalibeluk karena asal kue ini asli dari desa Kalibeluk, Kecamatan Warungasem Kabupaten Batang.

Kalibeluk merupakan sentra produksi kue serabi yang cukup populer di Batang. Berbeda dengan daerah lainnya, serabi asal Kalibeluk berukuran besar-besar, berbentuk bulat, dan memiliki rasa khas ini bisa dikonsumsi untuk beberapa orang.

Kue Serabi Kalibeluk cocok sebagai pelengkap minum kopi disaat menanti senja. (foto. evi)

Kue serabi  ini sangat cocok sebagai pelengkap minum kopi disaat menanti senja. Saat singgah di lokasi wisata outbound (Kedai Jerli Deswita Pandasari) dua varian rasa serabi, yakni original dan rasa gula jawa menjadi suguhan yang harus dicoba.

“Dahulu memang hanya dua rasa, original dan gula jawa, namun seiring dengan perkembangan zaman, banyak varian rasa yang dikembangkan oleh generasi muda, seperti rasa stroberi cokelat, kelapa, dll,” tutup Wahyu. (evi)