JAKARTA, ITN– SOTO (Soto Ayam) dan Gado-gado, dua makanan ini menjadi santapan Indonesiatripnews.com saat mengikuti Gala Dinner pada acara Wonderful Indonesia Gastronomi Forum 2018 yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) di Aryaduta Hotel, Jakarta Pusat, Kamis malam (21/11/18) lalu.

Apa beda dari dua makanan yang disajikan ini dalam daftar menu Gala Dinner? Tentu saja berbeda. Soto Ayam telah dipilih pemerintah menjadi nation’s food, sementara Gado-gado menjadi salah satu makanan nation’s food versi Kemenpar selain Rendang, Nasi Goreng, dan Sate.

Soto Ayam telah ditetapkan pemerintah menjadi nation’s food.

Menteri Pariwisata Arieh Yahya dalam sambutannya mengatakan, “Kemenpar melakukan diplomasi antar-negara melalui promosi kuliner. Kali ini, langkah yang ditempuh adalah dengan melibatkan para diaspora, yakni warga Indonesia yang tinggal di luar negeri, untuk mempromosikan kuliner dengan cara membuka restoran di negaranya”.

Hal ini menurutnya bertujuan untuk memperkenalkan kuliner Indonesia serta menarik minat kunjungan wisman dari berbagai negara.

“Kita tidak punya banyak restoran di luar negeri. Untuk menyikapi hal tersebut, kita melakukan co-branding dengan restoran di luar negeri. Ini merupakan diplomasi kuliner yang kami lakukan. Pemerintah memang sebaiknya terlibat dalam hal ini, bahkan lebih baik lagi jika kita memberikan insentif kepada diaspora yang membuka restoran menu Indonesia di luar negeri. Hal itu bisa menjadi stimulus yang baik,” ungkap Menpar.

Gago-gado merupakan satu dari empat menu nation’s food versi Kemenpar.

Kegiatan ini bertujuan memberikan apresiasi dan motivasi kepada restoran Indonesia di mancanegara yang telah membantu pemerintah untuk mempopulerkan kuliner Indonesia di kancah dunia.

“Kemenpar mendukung mitra co-branding restoran diaspora Indonesia di mancanegara agar tumbuh dan berkembang di tengah persaingan ketat dengan negara tetangga,” ungkapnya.

Arief mencontohkan kesuksesan Thailand yang memiliki nation’s food Tom Yam dipopulerkan oleh lebih dari 16.000 restoran diaspora yang tersebar di seluruh dunia. “Tumbuh pesatnya restoran Thailand ini tidak lepas dari peran pemerintah yang memberikan soft loan sekitar Rp1,5 miliar untuk setiap restoran. Untuk penerapan di Indonesia, kita mendukung restoran tersebut melalui co-branding,” ujar Menpar lebih lanjut.

Tak hanya melakukan co branding 100 restoran Indonesia dan menetapkan nation’s food, Kemenpar juga menetapkan tiga  destinasi kuliner Indonesia yaitu Bali, Bandung, dan Joglosemar (Jogya, Solo dan Semarang). Bentuk kerjasama yang terjadi adalah, para diaspora bisa menggunakan branding Wonderful Indonesia untuk meningkatkan nilai merek restoran. Sedangkan, para mitra juga bisa mempromosikan pariwisata melalui lima nation’s food.

Menpar Arief Yahya

Apresiasi yang sama juga diberikan oleh Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi. “Kami memberi apresiasi kepada para diaspora yang memperkenalkan makanan di luar negeri. Saya paham, kita terus berusaha mempertahankan daya tarik makanan Indonesia, disana merupakan negara dimana makanan Indonesia paling banyak ada. Disinilah para diaspora berperan,” ujar Menlu Retno.

Menlu Retno berpendapat agar nama makanan Indonesia yang dipromosikan dipertahankan nama aslinya, seperti nasi goreng, gado – gado, dan lain-lain. Menlu Retno pun mengakui untuk memperkenalkan kuliner Indonesia kepada dunia memang memerlukan usaha lebih, namun hal itu dapat meningkatkan nilai jual pariwisata Indonesia bagi wisman.

“Dalam promosi, kita tetap harus memperhatikan keaslian makanan, tampilannya, serta bagaimana makanan tersebut dijual. Biasanya sebuah makanan akan naik nilai jualnya kalau ada cerita dibaliknya. Kembangkanlah Indonesia yang majemuk dan damai. Mari dukung diplomasi kuliner Indonesia,” tambah Retno.

Seperti diketahui kuliner merupakan media diplomasi sosial ekonomi paling halus, cepat, impactful, dan efektif untuk mempopulerkan Indonesia sebagai destinasi pariwisata yang menarik di dunia. Kuliner juga memberikan kontribusi terbesar dalam kegiatan pariwisata  sekitar 30% hingga 40% pengeluaran wisatawan untuk kebutuhan makan dan minum.

Pemberian co-branding certificate yang dilakukan Menteri Luar Negeri dan Menteri Pariwisata.

Sementara pada kesempatan jumpa pers sejam sebelum acara Gala Dinner dimulai, Ketua Tim Percepatan Wisata Kuliner dan Belanja Kemenpar Vita Datau Messakh mengatakan, kerjasama co-branding yang dilakukan dengan lebih dari 100 restoran Indonesia milik diaspora di Eropa, Amerika, Australia, Middle East, ASEAN, China dan Asia Timur tersebut menggunakan kriteria.

Kriteria yang harus dimiliki, yakni pertama restoran tersebut berada di kota utama dunia dengan lokasi mudah dijangkau serta sudah berdiri lebih dari tiga tahun kecuali restoran yang memiliki konsep outstanding dan sangat representatif bagi kuliner Indonesia. Kedua memiliki minimal dua dari lima masakan nasional yang dipopulerkan oleh Kemenpar.

Kriteria ketiga, yakni pemiliknya bersedia menjadi outlet channel mitra promosi Wonderful Indonesia. Dan mempunyai review bagus dengan rating minimal 3,5 dari website traveller and foods popular seperti Google, TripAdvisor, Yelp, dan Zomato.

“Setelah terpilih, mereka mendapatkan recognition sebagai official cobranding partner Wonderful Indonesia yang dinyatakan dalam sertifikat apresiasi dan ditandatangani langsung oleh Menpar Arief Yahya,” ungkap Vita Datau lebih lanjut.

Kegiatan Wonderful Indonesia Gastronomi Forum 2018 yang berlangsung dalam dua hari 22 – 23 November lalu dihadiri sekitar 250 peserta dari unsur Pentahelix pariwisata menampilkan sejumlah narasumber yang mempresentasikan isu aktual seputar upaya mempopulerkan kuliner Indonesia di kancah dunia.

Pada malam Gala Dinner tersebut juga dilakukan pemberian penghargaan Culinary Ambassador kepada Ibu Sri Owen – Inggris, Chef Agus Hermawan – Belanda, Chef Widjono Purnomo – Amerika Serikat dan juga Chef William Wongso – Indonesia. Penghargaan Lifetime Achievement pun diberikan kepada Almarhuma Bondan Winarno atas segala jasa beliau untuk memajukan wisata kuliner di Indonesia. (evi)