JAKARTA, ITN- BAGI tokoh kuliner seperti Sisca Soewitomo produk Ariston yang telah dipercaya jutaan keluarga dunia selama lebih dari 50 tahun ini sudah tidak asing lagi. Mengingat usia produk Ariston yang melegenda. Ariston Peduli bekerjasama dengan National Culinary Service Academy  (NCSA) dan Indonesian Chef Associaton (ICA) menggelar talkshow “Meet the Legend” yang dihadiri oleh sebagian besar peserta dari mahasiswa jurusan perhotelan di Jakarta dan Bogor di Gandaria City, Sabtu (2/2/19).

Dengan dipandu Vice President bidang Profesi dan Pendidikan ICA pusat, Chef Lucky Permana talkshow yang berlangsung kurang lebih dua jam tersebut menghadirkan legendaris tokoh kuliner Indonesia, yakni Siswa Soewitomo dan Juliana Hartono pendiri Gado-gado Boplo yang diwakilkan anak lelakinya, Celvin.

Brand Ariston yang sudah diakui untuk produk pemanas dan pemanas air sudah puluhan tahun sampai sekarang masih dipakai. “Sudah terbukti dan teruji ketangguhannya kesekian generasi. Semoga generasi mendatang bisa tetap menjadi brand yang membanggakan buat kita semua,” ujar General Manager Ariston, Ferry dalam sambutannya saat membuka talkshow.

Ferry memberikan sertifikat the Legend Ariston kepada Sisca Soewitomo.

Menurutnya suatu brand bisa bertahan dan diingat karena ada pengorbanan yang tinggi untuk menciptakan bagaimana barang itu diingat. “Dari sekian banyak brand tetapi kami punya banyak keunikan, yakni brand servis, berkualitas, dan masih 100 persen bill up dari Italia dengan kekuatannya yang telah teruji yang kami dengar dari konsumen,” ungkapnya.

Sementara Sisca Soewitomo, mengatakan, “Saya terjun ke dunia kuliner karena saat waktu kecil melihat tak ada restoran, toko kue jarang, adanya tukang kue keliling. Sempat kuliah di Kedokteran, dan saat menikah punya impian memiliki kompor Ariston”.

Wanita kelahiran  April 1949 ini sudah tidak diragukan lagi dalam pengabdiannya terhadap kuliner Indonesia.  Hingga kini sudah ada 150 judul buku kuliner dan termasuk dua dalam bahasa inggris hasil karyanya. “Saya kuliah di Universitas Trisakti tahun 1973 dan menjadi dosen selama 18 tahun,” ungkapnya.

Setelah menikah Sisca ingin terus belajar yang gak usah mikir tapi maju, dan sempat menjadi translater Bahasa Inggris. “Saya tes beasiswa ke Taiwan  untuk china product, belajar bakery lulus dengan nilai baik dan kembali dikirim ke Amerika tujuh bulanan. Lanjut lagi mengikuti training ke Jerman,” ujarnya.

Sertifikat the Legend dari Ariston juga diberika kepada Celvin.

Menurutnya peralatan masak dapat menjadi pemersatu bangsa saat tidak mengerti bahasa, “Disaat saya harus bicara Bahasa Inggris tapi mereka tak bisa Bahasa Inggris, hingga akhirnya saya menggunakan semua alat dan bahan memasak untuk menjelaskannya, malah dengan Bahasa Jawa akhirnya saya menjelaskan sambil menunjuk semua bahan masak atau peralatan memasak,” jelas Sisca.

Mengajar di kampus banyak berhubungan dengan dunia profesional. Menurutnya ia bisa memamerkan sajian makanan Indonesia ke dunia. “Sekarang pemerintah telah memberikan modal untuk buka restoran. Tahun 1974 restoran tertutup, mau pesan makanan saja harus telpon dulu,” ungkapnya.

“Di luar negeri sekarang sudah banyak pelengkap bumbu masak, seperti daun jeruk, jeruk nipis, dll.  Bumbu dasar kita merah, putih, dan kuning. Putih untuk opor, merah bisa jadi apa saja. Ingin pintar masak, nanti saya ajarin dengan dibantu beberapa teman,” tutup Sisca mengakhiri pembicaraan.

Dilanjutkan pada kesempatan yang sama Celvin menceritakan bagaimana kesuksesan ibunya, yakni Juliana Hartono dalam merintis Gado-gado Boplo dari satu cabang menjadi 10 cabang dan berencana ingin go international.

Pada tahun 1970 Ibu Juliana memulai jualan gado-gado dengan menggunakan sebuah meja dan sebuah lemari etalase kecil di dalam gang kecil di bilangan Kebon Sirih. Usahanya tidak sia-sia, karena Gado-gado Boplo berhasil menjual kuliner Indonesia dengan tempat yang keren dan higienis.

Pria yang senang membagi tips ini memberikan tiga tipsnya dalam mengembangkan usaha, yakni pertama; mulailah dengan starting small modal, misalnya modal Rp500, jual Rp25, dan jangan menggunakan uang-uang lainnya. Kedua; fokus dengan menu yang ada ditonjolkan, jangan mengubah menu, namun memperbaiki boleh. “Dan yang ketiga; banyaklah membantu teman, karena jika kita menabur kebaikan, kita juga akan dibantu,” ungkapnya.

Kedua tokoh baik Sisca Soewitomo dan Celvin ini adalah teladan yang bisa dijadikan contoh oleh generasi muda sekarang ini. Khususnya bagi yang mau terjun di bisnis kuliner. Dan keduanya mempunya benang merah yang sama yaitu jika ingin sukses maka harus serius dan tekun.

“Acara ini diselenggarakan dengan tujuan bisa mengedukasi generasi mileinal agar mencintai kuliner Indonesia dan sekaligus bisa menjadi bagian ahli kuliner itu sendiri,” tambah Chef Lucky ketika menutup acara talkshow tersebut. (evi)