LOMBOK-GILI MENO, ITN- Tahun 2018 silam, pariwisata Nusa Tenggara Barat (NTB) digoncang gempa dahsyat, namun dalam kurun waktu 10 bulan terlihat parwisata di NTB sanggup bangkit dan pulih kembali. Berbeda dengan tahun ini, pandemi Covid-19 sangat dirasakan begitu berat bagi para pelaku industri pariwisata, dan tak sedikit membuat usaha mereka ‘tiarap’.

Memasuki Kawasan Ekowisata Mangrove dan Pengamatan Burung Gili Meno.

Berwisata ke Pulau Lombok, rasanya akan kurang jika tidak menyeberangi pulau-pulau kecil yang indah di sekitar pulau Lombok. Terdapat banyak pulau-pulau kecil yang indah yang bisa dinikmati di pulau Lombok, salah satunya yakni Gili Meno.

Lombok memang berisi banyak pulau kecil yang bisa dijadikan private island. Pulau-pulau kecil yang disebut Gili ini terkadang dibuka untuk umum meskipun dikelola secara pribadi untuk dijadikan obyek wisata.

Andong menjadi sarana transportasi di Gili Meno.

Gili Meno adalah salah satu yang unik. Berbagai daya tarik dan ciri khas yang terdapat di Gili Meno tidak ditemukan di Gili lainnya. Bersama keluarga kecilku pada Minggu (6/9/2020) saya mencoba untuk melakukan perjalanan ke Gili Meno. Gili Meno merupakan salah satu pulau dari tiga serangkaian pulau-pulau wisata andalan Lombok Utara. Selain Gili Meno ada Gili Trawangan dan Gili Air, yang kesemuanya memiliki pasir dan karang berwarna putih bersih. Gili Meno di NTB menjadi salah satu destinasi favorit turis selain Gili Trawangan.

Salt Lake atau Ganau Garam yang berada di tengah Gili Meno.

Dengan ditemani sahabat yang biasa disapa Om Ary Dabog yang juga menjadi tour guide kami, perjalanan dimulai dengan naik perahu dari Pelabuhan Bangsal untuk menyeberang menuju Gili Meno. Tarif perahu dikenakan Rp20.000 per orang untuk sekali jalan. Jadwal keberangkatan perahu hanya 4 x sehari, yakni dimulai pukul 08.00, 11.00, 14.00, 17.00 WIT.

Sampai di Gili Meno, pemandangan yang luar biasa indah begitu mempesona dan memanjakan mata. Di pulau kecil yang bebas macet ini wisatawan dapat melarikan sejenak dari hiruk pikuk kehidupan, rutinitas yang menekan, dan serta melepas lelah.

Masjid yang berdiri kokok bermaterial kayu jati di Gili Meno.

Kami memilih untuk berjalan kaki, karena di tempat ini tidak ada mobil maupun motor. Sepeda menjadi andalan warga setempat. Bila tidak ingin berjalan kaki, wisatawan bisa menyewa ‘Andong’ Rp200 ribu untuk berkeliling dengan maksimum tiga orang penumpang.

Salt Lake atau Danau Garam menjadi tujuan wisata pertama yang ingin kami lihat, danau ini merupakan satu-satunya danau  di Indonesia yang berada di tengah pulau dengan air garam (asin). Sebelum sampai ke danau kami harus memasuki Kawasan Ekowisata Mangrove dan Pengamatan Burung Gili Meno. Suasana hening, sepi, syahdu, ditambah suara merdu burung, dan udara yang segar sangat kami rasakan. Sepanjang jalan terlihat banyaknya pohon kelapa yang menambah pesona pulau ini.

Fasilitas kolam renang di Kura-Kura Resort yang tetap terjaga kebersihannya.

“Di masa pandemi Covid19 menjadi sepi, biasanya di kawasan ini banyak wisatawan mancanegara (wisman) yang ‘berseliweran’ memenuhi jalur ini,” ujar Ary.

Dan yang menakjubkan kami, ada sebuah masjid besar di pulau ini dengan seluruh bangunannya menggunakan kayu jati. Masjid ini sempat dibangun ulang setelah gempa besar meruntuhkan bangunan asli masjid. Masjid yang tampak kokoh ini dibangun dari hasil sumbangan masyarakat, wisatawan, dan pengusaha wisata.

DermagaGili Meno dengan pasir putihnya yang mempesona.

Setelah berkeliling, kami mampir sejenak ke salah satu resort yang dalam masa pandemi Covid19 harus tutup mengingat tidak ada tamu yang datang. Kura Kura Beach Resort yang kami singgahi ini posisinya sangat strategis menghadap ke laut dan sangat dekat dengan dermaga.

“Terakhir kunjungan wisman datang ke sini di bulan Maret, sedangkan wisatawan lokal di bulan Juli. Meski resort tutup, pemeliharaan fasilitas resort terus kami lakukan. Saya berharap pandemic Covid19 segera berlalu dan pariwisata di Gili Meno bisa segera bangkit,” ujar pengelola Kura Kura Beach Resort, Hery.

Kura Kura Beach Resort memiliki fasilitas 15 kamar dengan tarif sewa Rp700 ribu – Rp800 ribu, dan Rp1 juta saat high season. Dilengkapi dengan restoran, kolam renang, dll. “Saat pandemi ini hanya Rp400 ribu dan kami tidak menutup untuk wisatawan lokal menginap disini,” ungkapnya.

Foto bersama om Ary Dabog dan keluarga kecilku saat di Gili Meno.

Di Kura Kura Beach Resort juga menawarkan paket perjalanan “Lombok Wildlife Park” yang berada 30 menit dari Gili. Wisatawan akan mendapatkan pengalaman melihat 195 binatang dengan 50 spesies. Bisa melakukan reservasi di emal: reservation@kurakuragilimeno.com atau WhatsApp: 081558552348.

Waktu pun terus berlalu meski rasanya tak ingin beranjak untuk terus menikmati keindahan suasana di Gili Meno walau dibalut sepi. Pukul 15.00 WIB kami pun harus kembali ke Pelabuhan Bangsal, mengingat jadwal perahu ke Bangsal hanya dua kali, yakni pukul 08.00 dan 15.00 WIB. (erna-KITers Lombok)