SOLO, ITN- Belum ke Solo rasanya jika tak mampir ke Kampoeng Batik Laweyan,  Surakarta, Solo, Jawa Tengah. Di tempat ini Indonesiatripnews.com merasakan pengalaman yang berbeda. Selain dapat membeli produk (batik), juga dapat melihat proses pengerjaan bahkan ikut terlibat dalam proses membuat batik.

Penyematan “Kampoeng Batik” pada kawasan ini tidak terlepas dari profesi yang dijalani mayoritas penduduk serta sejarah kerajinan batik.

Di Laweyan pengunjung bisa menikmati Wisata Belanja, Wisata Industri, Wisata Edukasi, Wisata Cagar Budaya (Heritage), dan Wisata Sejarah. Ada kurang lebih 80 pengusaha batik.

Pada masa kerajaan, kata Laweyan dipakai untuk menyebut kelompok masyarakat tertentu, yaitu yang dikenal sebagai kelompok kaum kaya (wong Nglawiyan), yang berlebih (kaluwih-luwih) dalam segala hal, terutama dalam hal kebutuhan hidup (harta kekayaan). Hal itu disebabkan karena daerah tersebut menjadi pusat perdagangan batik dan tempat tinggal para pengusaha batik tulis Jawa.

Kecamatan ini juga menjadi tempat berdirinya Sarekat Dagang Islam, asosiasi dagang pertama yang didirikan oleh para produsen dan pedagang batik pribumi, pada tahun 1912.

Memasuki kawasan Kampoeng Batik, tampak terlihat bangunan rumah-rumah yang masih menyimpan cerita sejarah, dengan pintunya yang berwarna warni dan unik bahkan masih ada rumah yang bangunannya tanpa paku (teknik pasak). Membuat pintu-pintu tersebut menjadi instagramable, cantik untuk difoto.

“Zaman dulu untuk mengaitkan kayu-kayu berbahan jati tua ini adalah dengan teknik pasak. Canggihnya, meski hanya dengan teknik pasak bangunan rumah ini sangat kuat,” ujar  Ketua Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan, Alpha Fabela Priyatmono, kepada Indonesiatripnews.com di Solo, Jawa Tengah.

Menurutnya Kampung Laweyan menyimpan perjalanan panjang cerita sejarah. “Gang-gang sempit yang diapit dinding-dinding setinggi lima meter ini akan membawa pengunjungnya seperti dihantui rasa penasaran tentang apa yang ada di balik pintu ini,” ujarnya saat melintasi gang-gang kecil di Kampung Lawean.

“Kampung Laweyan menyimpan kekayaan arsitektur Jawa Kuno peninggalan kejayaan kerajaan Majapahit. Bangunan khas dari rumah-rumah penduduk kampung Laweyan terletak pada pintu besar dengan desain unik yang kaya unsur filosofi dan seni,” ungkap Alpha sambil memperlihatkan contoh beberapa kunci rumah yang ada di Kampung Laweyan.

Sebagian besar rumah-rumah penduduk di sini menurutnya masih meninggalkan bagian orisinil masa lampau, terutama pintu. Meski sebagian besar di dalamnya telah mengalami renovasi.

Ada satu rumah dengan cat berwarna putih tanpa jendela, dari luar sempat mengira rumah ini kecil, tetapi ketika pemilik rumah membukakan pintu dan mengizinkan untuk masuk, terlihat di dalamnya sangat luas dan banyak menyimpan prasati-prasasti tua. Lantainya pun masih menggunakan batu bata buatan masa lampau yang tak diganti keramik olah pemilik rumah. “Rumah ini satu-satunya peninggalan yang masih orisinil, peninggalan tahun 1750,” ujar Alpha.

“Kecanggihan teknik arsitektur zaman dulu juga bisa dilihat dari sistem kunci pintu. Kunci pintu gerbang besar tua di sini tidak menggunakan kunci seperti yang ada saat ini. Tetapi dibuat dengan sistem geser, dengan cara mengunci dan membuka yang berbeda. Ada bagian rahasia yang hanya diketahui pemilik rumah untuk membuka pintu mereka,” jelasnya.

Selain rumah tua dengan bangun tahun 1750, keunikan lain dari Kampung Laweyan adalah bangunan tua bergaya arsitektur Eropa yang selaras dengan hunian masyarakat Jawa berkonsep Jawa dengan bentuk limasan dan beragam desain pintu. Banyak barang-barang peninggalan zaman dulu yang masih terlihat di sekitar rumah tersebut.

Jalan semakin sepi, jalan beraspal yang kami lalui, berubah menjadi jalan setapak. Tanpa banyak penjelasan, Alpha pun mulai membiarkan Indonesiatripnews.com mengamati satu per satu pintu pada beberapa rumah yang tampak tak berpenghuni. Terlihat pula beberapa bagian dinding kanan kiri jalan dengan beberapa lukisan mural. Warna yang beragam dengan desain pintu lawas memberikan suasana unik dan justru menyegarkan mata bagi yang melihatnya.

Cat yang mulai memudar, seakan menegaskan jika Laweyan adalah warisan sejarah. Sisa warna pada setiap pintu hampir jauh dari kesan ‘norak’. Paduan warnanya begitu terlihat jika pengecatnya adalah pelaku seni. Sungguh, membuat Indonesiatripnews.com terkagum-kagum sendiri dengan pintu-pintu ‘ciamik’ di Laweyan ini.

Sayangnya karena keterbatasan waktu, rumah hunian kuno yang masih mempertahankan bungker di dalamnya tak dapat dikunjungi. (evi)