JAKARTA, ITN- BATIK sudah menjadi ciri khas Indonesia sejak United Nations Educational, Scientific and Cultural Organisation (UNESCO) menetapkan batik sebagai warisan budaya Indonesia pada 2009 lalu.

Batik Tanah Air pun semakin terkenal hingga ke seluruh dunia. Seiring perkembangan zaman, kini perajin banyak meninggalkan cara tradisional (batik tulis) dengan alasan efisiensi waktu dan tenaga dengan menggunakan teknologi printing (batik printing). Perubahan teknik pembuatan ini banyak sedikitnya akan mengikis nilai seni dalam membatik.

Miftakhutin dengan koleksi batik tulis Tiga Negeri. (foto. evi)

Saat ini bisa dibilang batik tulis sudah banyak ditinggalkan, kecuali bagi perajin di Kampung Batik Tiga Negeri di Desa Kalipuceng Wetan, Kabupaten Batang. Di tempat ini, Batik yang dibuat oleh komunitas di Desa Kalipucang, Kabupaten Batang sudah dikenal dengan batiknya yang khas dengan corak “Tiga Negeri”.

Miftakhutin (40), pelatih sekaligus perajin batik Rifaiyah menjelaskan bahwa batik di daerah tersebut satu-satunya pembatik yang masih menggunakan cara tradisional. Batik ini merupakan batik yang khas karena selain motif-motifnya yang khas tidak ada di tempat lain, karya ini juga mengambil spirit dari ajaran KH Ahmad Rifai yang dituangkan ke dalam kain tersebut.

“Batik ini masih menggunakan teknik-teknik kuno jadi kita masih menggunakan tekniknya seperti yang diajarkan orangtua kita dulu. Saya mulai membatik sejak usia 9 tahun sampai sekarang, berarti sudah 31 tahun, tekniknya masih tetap sama, motifnya sama, pewarnaannya sama tidak berubah,” jelas perempuan yang biasa disapa Uting saat ditemui Indonesiatripnews.com di Galeri & Workshop Batik Rifaiyah Desa Kalipuceng Wetan, Batang, Rabu (3/5/18).

Lebih lanjut ia mengatakan, “Batik Rifaiyah masuk ke dalam kategori batik pesisir dengan ciri khas gabungan batik klasik dari Mataraman Solo dan Yogyakarta dengan sentuhan warna coklat, merah sentuhan China dari lasem,  dan biru dari pesisir Batang dan Pekalongan”.

Batik asal Batang yang terkenal ini salah satunya adalah Batik Tiga Negeri yang mewakili.dari perpaduan tiga daerah tersebut dalam satu kain.

“Batik Tiga Negeri ini kita jual mulai dari Rp350 ribu – Rp3,5 juta. Itu kalau di sini kita jual murah, tapi kalau  dijual di pameran yang Rp350 ribu kita jual Rp700 ribu,” ungkapnya.

Harga yang ditawarkan dari batik tulis ini terbilang mahal, karena proses pembuatan yang begitu lama  memakan waktu empat hingga enam bulan. Yang menjadikan batik ini istimewa ialah kehalusan, motifnya, dan pewarnaanya. Tergantung tingkat kesulitan motif dan kesibukan para pembatik di Komunitas Batik Rifaiyah ini, karena tak semuanya fuII-time jadi pembatik.

Dari pantauan motif-motif batik tulis yang ada di tempat tersebut antara lain motif lancur dan tambal, motif romo dan peloati, motif pecinan, motif tambal, motif dalang dan ilaili, dan masih banyak lainnya.

“Kita pakai sintetis, kalau jaman si mbah saya pake pewarna alam (dari tumbuh-tumbuhan) tahun 70-an itu hilang kemudian diganti naptol di generasi saya. Sebenarnya menurut mbah saya itu nggak sulit tapi karena ada evolusi industri ada pupuk, ada warna alam itu, kita jadi mau cepet karena warna alam itu celupannya tujuh kali sampai 20 kali kalau yang kita buat hanya dua sampai tiga kali sudah jadi. Kalau bukan warna alam kita menggunakan teknik-teknik kuno sehingga tidak luntur meski digunakan sampai puluhan tahun,” jelas Uting lebih lanjut.

Kepala Bagian Biro Hukum Komunikasi Publik Kemenpar, Khadijah saat mendengarkan motif batik tulis lancur yang menggambarkan seekor ayam tidak utuh gambarnya, kepala ayam dan badannya terpisah.

Setiap batik di daerah punya ciri khas masing-masing yang menggambarkan kearifan lokal daerah. Dari motif, warna, hingga corak bisa bermacam-macam. Batik Rifaiyah sendiri motifnya kebanyakan menggambarkan tumbuhan, sangat jarang ada motif hewan karena dalam ajaran Islam dilarang untuk menggambarkan makhluk hidup kecuali yang berasal dari flora.

Hal ini disebabkan oleh pembatik di Batang ini kebanyakan adalah muslim yang memegang teguh ajaran Islam, yang dibawa oleh guru besar Pondok Pesantren setempat yaitu KH Ahmad Rifai. Ia juga merupakan pejuang kemerdekaan di zaman kolonial dan seorang pahlawan nasional. Sehingga nama batik ini dinamai Rifaiyah.

Menurutnya anak-anak muda di Batang sekarang sudah mulai meninggalkan kerajinan warisan budaya nusantara ini.

“Dulu saya anggap membatik biasa saja karena kebiasaan dari kecil. Tapi saya diberitahu sama orang-orang yang meneliti batik kalau batik ini  satu-satunya di dunia. Saya baru sadar kalau kita punya warisan luhur,” jelasnya.

Fadila, salah seorang perajin batik tulis Tiga Negeri sedang melakukan proses ngalam yang memakan waktu kurang lebih tiga bulan.

Sementara Mutmainah perajin batik berusia muda (24 tahun) menceritakan jika ia lebih senang memilih kerja sebagai perajin batik.

“Saya senang jadi perajin batik karena hati saya tenang kalau sedang membatik,” ujar perempuan yang baru tiga tahun lalu menjadi perajin batik ini.

Dulu menurutnya membatik itu kurang keren, tapi dengan membatik justru ia mendapat pengalaman yang menurutnya luar biasa, yakni mengikuti pameran ke luar negeri, seperti ke Singapura dan juga ke luar kota, yakni ke Batam.

“Membatik itu harus sabar dan telaten. Memang inginnya cepat selesai, mengingat satu batik proses ngalam bisa memakan waktu tiga bulan,” ungkapnya

Sedangkan  Fadila (47 tahun), seorang perajin yang tidak berada jauh dari  Mutmainah mulai membatik sejak Sekolah Dasar. “Saya tidak bisa kerja yang lain, hanya bisa membatik. Dulu saya membatik pakai tungku kayu di rumah setelah memasak, belum ada kompor seperti ini,” ujarnya sambil membatik motif tambal dan lancur (ekor ayam). (evi)