{"id":8757,"date":"2019-01-25T00:44:59","date_gmt":"2019-01-24T17:44:59","guid":{"rendered":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/?p=8757"},"modified":"2019-01-25T00:44:59","modified_gmt":"2019-01-24T17:44:59","slug":"investasi-pangan-hewani-untuk-mencegah-stunting","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/gaya-hidup\/investasi-pangan-hewani-untuk-mencegah-stunting\/","title":{"rendered":"Investasi Pangan Hewani untuk Mencegah Stunting"},"content":{"rendered":"<p><strong>JAKARTA, ITN<\/strong>&#8211; RISET Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan, angka stunting pada usia balita di Indonesia mengalami penurunan, dari 37,2% (Riskesdas 2013) menjadi 30,8% (2018). Namun, sebanyak 18 provinsi masih memiliki angka stunting sebesar 30-40%, bahkan 11,5% tergolong sangat pendek. Bila dikalikan dengan jumlah balita di Indonesia, maka jumlahnya tidak bisa dibilang sedikit.<\/p>\n<p>\u201cYang kita khawatirkan adalah korelasinya dengan risiko retardasi mental,\u201d ujar Konsultan Nutrisi dan Penyakit Metabolik FKUI\/RSCM, Dr dr Damayanti Rusli Sjarif, SpA(K), dalam acara <em>MilkVersation Hari Gizi Nasional &#8211; Investasi Pangan Hewani, Stunting, dan Upaya Selamatkan Generasi Mendatang<\/em>.<\/p>\n<p>Bila diartikan, stunting adalah perawakan pendek yang disebabkan oleh kekurangan gizi dalam jangka panjang (kronis). \u201cBisa karena asupan nutrisinya tidak cukup, atau karena kebutuhannya meningkat misalnya karena anak sakit,\u201d jelas dokter Damayanti.<\/p>\n<p>Persoalan stunting di Indonesia sudah terjadi sejak 40-50 tahun lalu. Di beberapa daerah, bahkan ada kasus stunting yang mengenai tiga generasi, dari kakek\/nenek, bapak\/ibu, dan anak.<\/p>\n<p>Stunting bukan sekadar persoalan perawakan pendek. Dijelaskan oleh Dr. dr. Damayanti, stunting selalu dimulai dari penurunan berat badan (BB) atau <em>weight faltering<\/em> akibat asupan nutrisi yang kurang. \u201cSaat BB mulai turun, anak tidak langsung jadi pendek. Terjadi penurunan fungsi kognitif dulu, baru stunting,\u201d paparnya.<\/p>\n<p>Anak dengan BB &lt;10 kg, sebanyak 50-60% energi dipakai untuk perkembangan otak. Bila asupan nutrisinya kurang, maka otak yang akan dikorbankan terlebih dulu. Anak yang \u2018baru\u2019 mengalami <em>weight faltering<\/em> saja bisa mengalami penurunan IQ hingga 3 poin. Bisa dibayangkan betapa banyak penurunan IQ yang mungkin muncul bila anak sampai stunting.<\/p>\n<p>Selain fungsi kognitif terganggu, pembakaran lemak pun terganggu. Sehingga ketika anak diberi makan banyak, mudah terjadi obesitas. \u201cBila ditelusuri, orang yang sekarang mengalami penyakit degeneratif mungkin dulunya stunting,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Otak dan sinaps-sinapsnya berkembang pesat selama 1.000 hari pertama kehidupan atau hingga anak berusia 2 tahun. \u201cSampai usia dua tahun, anak tidak boleh kekurangan nutrisi sama sekali, karena dampaknya <em>irreversible<\/em>,\u201d tegas dokter Damayanti lebih lanjut.<\/p>\n<p>Proporsi kebutuhan nutrisi anak menurutnya berbeda dengan dewasa. Akhir-akhir ini banyak digaungkan mengenai piring makan sehat, di mana \u00bd piring berisi sayur dan buah. \u201cItu untuk orang dewasa, bukan untuk anak. Untuk anak, kebutuhannya berbeda,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Selewat masa ASI eksklusif 6 bulan, selain pemberian ASI, asupan lain yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi adalah MPASI. Komposisi MPASI idealnya juga menyerupai komposisi ASI; harus mengandung\u00a0 karbohidrat, lemak, dan protein. Sejak awal MPASI hingga usia 2 tahun, ketiga makronutrisi ini harus tercukupi, untuk mendukung pertumbuhan otaknya. Ya, jangan takut memberikan lemak pada si kecil, karena zat ini sangat penting bagi otaknya.<\/p>\n<p>Protein utamakan hewani, karena dalam ASI, komposisi protein hewani lebih banyak. \u201cKandungan asam amino pada protein hewani lengkap,\u201d teangnya.<\/p>\n<p>Sedangkan protein nabati, asam aminonya kurang lengkap. Protein hewani boleh digabung dengan protein nabati, asal selengkap asam amino esensial pada ASI.<\/p>\n<p>Dr dr Damayanti mengkritisi tren pemberian puree sayur dan buah, atau tepung-tepung organik berbasis nabati. Menurutnya, makanan dengan sumber tunggal seperti ini tidak mencukupi kebutuhan nutrisi anak. Boleh saja memberikan puree buah\/sayur, tapi harus ada protein hewani.<\/p>\n<p>Susu dan telur adalah sumber protein hewani yang paling baik. Diikuti dengan produk susu, unggas, ikan, hati, dan daging. Jadi, sumber hewani tidak harus mahal. Anak bisa diberi telur, hati ayam, dan berbagai jenis ikan lokal yang harganya relatif terjangkau. (*\/evi)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA, ITN&#8211; RISET Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan, angka stunting pada usia balita di Indonesia mengalami penurunan, dari 37,2% (Riskesdas 2013) menjadi 30,8% (2018). Namun, sebanyak 18 provinsi masih memiliki angka stunting sebesar 30-40%, bahkan 11,5% tergolong sangat pendek. Bila dikalikan dengan jumlah balita di Indonesia, maka jumlahnya tidak bisa dibilang sedikit. \u201cYang kita khawatirkan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":8758,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[73,74],"tags":[],"class_list":["post-8757","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-gaya-hidup","category-kesehatan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/json\/wp\/v2\/posts\/8757","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/json\/wp\/v2\/comments?post=8757"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/json\/wp\/v2\/posts\/8757\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/json\/wp\/v2\/media\/8758"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/json\/wp\/v2\/media?parent=8757"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/json\/wp\/v2\/categories?post=8757"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/json\/wp\/v2\/tags?post=8757"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}