{"id":46324,"date":"2026-10-29T12:47:47","date_gmt":"2026-10-29T05:47:47","guid":{"rendered":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/?p=46324"},"modified":"2026-10-29T12:48:51","modified_gmt":"2026-10-29T05:48:51","slug":"harmony-in-diversity-merayakan-keindahan-batik-peranakan-dan-harmoni-dalam-keberagaman-di-house-of-tugu-old-town-jakarta","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/akomodasi\/harmony-in-diversity-merayakan-keindahan-batik-peranakan-dan-harmoni-dalam-keberagaman-di-house-of-tugu-old-town-jakarta\/","title":{"rendered":"Harmony in Diversity: Merayakan Keindahan Batik Peranakan dan Harmoni dalam Keberagaman di House of Tugu, Old Town Jakarta"},"content":{"rendered":"<p><strong>JAKARTA,<\/strong> <strong>ITN<\/strong> &#8211; Batik bukan sekadar kain bermotif. Di balik setiap goresan canting, ragam warna, dan motif yang terlukis, tersimpan kisah perjalanan manusia, pertemuan budaya, pada 5\u201312 November 2026 di House of Tugu,<br \/>\nKota Tua Jakarta, berkolaborasi dengan Bentara Budaya, lembaga kebudayaan di\u00a0bawah Kompas Gramedia. Sekaligus memperingati Ulang Tahun ke-dua dari House Of\u00a0Tugu Old Town Jakarta yang jatuh pada tanggal 7 November 2026.<\/p>\n<p>Menghadirkan karya tujuh seniman batik dari Jakarta, Cirebon, Pekalongan, dan Lasem, pameran ini mengajak masyarakat mengenal lebih dekat kekayaan batik Peranakan sebuah ekspresi budaya yang tumbuh dari pertemuan tradisi Tionghoa dan budaya lokal Nusantara, khususnya Jawa.<\/p>\n<p>Lebih dari sekadar perhelatan seni, Harmony in Diversity membawa pesan bahwa perbedaan bukanlah sesuatu yang harus dipertentangkan, melainkan kekayaan yang dapat saling melengkapi dan melahirkan serta warisan nilai yang diteruskan dari generasi ke generasi.<\/p>\n<p>Semangat inilah yang diangkat melalui pameran batik Peranakan bertajuk Harmony in Diversity, yang akan diselenggarakan keindahan baru.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-46325\" src=\"https:\/\/indonesiatripnews.com\/files\/2026\/10\/Ruang-R.A-Kasinem-e1793252664853.jpg\" alt=\"\" width=\"700\" height=\"525\" title=\"\"><\/p>\n<p><strong>Batik Peranakan: Kisah Akulturasi dalam Selembar Kain<\/strong><\/p>\n<p>Batik Peranakan berkembang di berbagai wilayah pesisir Nusantara, terutama sejak abad ke-19, ketika komunitas keturunan Tionghoa berbaur dengan masyarakat setempat dan turut mengembangkan tradisi membatik.<\/p>\n<p>Perpaduan tersebut melahirkan karakter visual yang khas. Motif flora dan fauna, bunga peoni, burung hong, serta ragam ornamen yangdipengaruhi kebudayaan Tionghoa berpadu dengan teknik, cita rasa, dan tradisi batik Jawa. Warna-warna cerah seperti merah, biru, dan\u00a0emas turut memperkaya identitas estetikanya.<\/p>\n<p>Dari proses akulturasi inilah lahir sebuah tradisi yang memperlihatkan bagaimana kebudayaan dapat berkembang tanpa kehilangan akar\u00a0sejarahnya.<\/p>\n<p>Melalui pameran ini, publik diajak untuk tidak hanya mengagumi keindahan visual batik Peranakan, tetapi juga memahami nilai sejarah, ketekunan, kreativitas, dan identitas budaya yang melekat pada setiap karya.<\/p>\n<p><strong>Tujuh Seniman, Empat Kota, Satu Semangat Kebudayaan<\/strong><\/p>\n<p>Pameran Harmony in Diversity menghadirkan tujuh seniman dan pelaku batik yang menjaga keberlanjutan tradisi batik Peranakan melalui karya dan\u00a0usaha mereka.<\/p>\n<p>Para peserta meliputi Dave Tjoa dari Jakarta; Giok atau Indrawati dari Batik Kanoman, Cirebon; Liem Po Hien dari Batik Liem Ping Wie,\u00a0Pekalongan; serta V alentina Ekawatiningsih dari Batik Lumintu, Sulistyono dari Batik Nyah Kiok, Sri Soesilaningsih atau Mak Som dari Batik\u00a0Surya Kencana, dan Rudi Siswanto dari Batik Kidang Mas.<\/p>\n<p>Karya-karya yang ditampilkan merepresentasikan keragaman karakter, teknik, motif, dan perjalanan para pembatik dalam merawat tradisi\u00a0sekalius mengembangkan kreativitas.<\/p>\n<p>Pameran ini dikuratori oleh Sri Rejeki, salah satu koordinator Ekspedisi Selisik Batik Harian Kompas, yang turut mendukung upaya\u00a0memperkenalkan kekayaan batik Indonesia kepada khalayak yang lebih luas.<\/p>\n<p>Kehadiran para seniman dengan latar dan perjalanan yang beragam menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya membutuhkan\u00a0kesinambungan, apresiasi, serta ruang bagi generasi penerus untuk terus berkarya.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-46328\" src=\"https:\/\/indonesiatripnews.com\/files\/2026\/10\/P1181030a-e1793252853720.jpg\" alt=\"\" width=\"700\" height=\"590\" title=\"\"><\/p>\n<p><strong>House of Tugu Old Town Jakarta: Ruang Bertemunya Sejarah dan Kebudayaan<\/strong><\/p>\n<p>Pemilihan House of Tugu, Kota Tua Jakarta, sebagai lokasi pameran memiliki makna tersendiri. Selain berada di kawasan bersejarah Batavia,\u00a0House of Tugu Old Town Jakarta merupakan hotel butik sekaligus ruang pelestarian seni, sejarah, dan warisan budaya Nusantara.<\/p>\n<p>Dengan koleksi lebih dari 1.000 benda antik dan karya seni yang dihimpun selama puluhan tahun, House of Tugu menghadirkan suasana\u00a0yang mempertemukan berbagai lapisan sejarah dan tradisi, termasuk kekayaan budaya Peranakan Tionghoa.<\/p>\n<p>Dalam konteks tersebut, Harmony in Diversity menemukan ruang yang selaras dengan pesan yang dibawanya. Karya-karya batik Peranakan\u00a0hadir bukan hanya sebagai objek seni, melainkan sebagai bagian dari kisah panjang perjumpaan budaya yang terus hidup hingga hari ini.<\/p>\n<p>Bagi House of Tugu, penyelenggaraan pameran ini merupakan bagian dari semangat untuk menjadikan warisan budaya sebagai pengalaman\u00a0yang dapat dinikmati, dipelajari, dan diapresiasi oleh masyarakat lintas generasi.<\/p>\n<p><strong>Lebih dari Pameran: Pengalaman Budaya untuk Publik<\/strong><\/p>\n<p>Untuk memperluas pengalaman pengunjung, Harmony in Diversity akan disertai sejumlah kegiatan yang berlangsung sepanjang periode pameran.<\/p>\n<p>Rangkaian acara meliputi pembukaan pameran pada 5 November, Bazaar Batik Peranakan pada 5-8 November, Peranakan Afternoon Tea pada\u00a05-12 November, Workshop Batik pada 6 November, Talkshow pada 7 November, serta kegiatan Urban Sketchers pada 8 November 2026.<\/p>\n<p>Berbagai kegiatan tersebut dirancang untuk membuka ruang interaksi antara seniman, pencinta batik, komunitas kreatif, wisatawan, dan\u00a0masyarakat umum. Bazaar juga menjadi kesempatan untuk mendukung para pelaku usaha batik dan usaha kecil menengah yang\u00a0mempertahankan tradisi kerajinan ini.<\/p>\n<p>Melalui pendekatan yang memadukan pameran, edukasi, apresiasi seni, dan pengalaman budaya, acara ini diharapkan dapat menjangkau\u00a0generasi muda serta menumbuhkan minat yang lebih luas terhadap batik Peranakan.<\/p>\n<p><strong>Merayakan Keberagaman, Merawat Warisan Bersama<\/strong><\/p>\n<p>Tema Harmony in Diversity mencerminkan semangat Bhinneka Tunggal Ika-berbeda-beda,\u00a0tetapi tetap satu. Nilai ini terasa nyata dalam perjalanan batik Peranakan, ketika pengaruh budaya yang berbeda tidak saling meniadakan,\u00a0melainkan berpadu dan membentuk tradisi yang kaya serta khas.<\/p>\n<p>Melalui kolaborasi House of Tugu dan Bentara Budaya, pameran ini diharapkan menjadi ruang untuk merayakan kreativitas para pembatik,\u00a0memperkuat apresiasi terhadap warisan budaya Indonesia, serta mengingatkan publik akan pentingnya menjaga keberagaman sebagai bagian\u00a0dari identitas bangsa.<\/p>\n<p>Pada akhirnya, Harmony in Diversity mengajak kita melihat bahwa harmoni tidak berarti menyeragamkan perbedaan. Harmoni justru tumbuh ketika\u00a0setiap identitas mendapat ruang untuk hadir, saling menghargai, dan bersama-sama menciptakan sesuatu yang bermakna.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA, ITN &#8211; Batik bukan sekadar kain bermotif. Di balik setiap goresan canting, ragam warna, dan motif yang terlukis, tersimpan kisah perjalanan manusia, pertemuan budaya, pada 5\u201312 November 2026 di House of Tugu, Kota Tua Jakarta, berkolaborasi dengan Bentara Budaya, lembaga kebudayaan di\u00a0bawah Kompas Gramedia. Sekaligus memperingati Ulang Tahun ke-dua dari House Of\u00a0Tugu Old Town [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":46326,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[70,71],"tags":[],"class_list":["post-46324","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-akomodasi","category-hotel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/json\/wp\/v2\/posts\/46324","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/json\/wp\/v2\/comments?post=46324"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/json\/wp\/v2\/posts\/46324\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":46329,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/json\/wp\/v2\/posts\/46324\/revisions\/46329"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/json\/wp\/v2\/media\/46326"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/json\/wp\/v2\/media?parent=46324"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/json\/wp\/v2\/categories?post=46324"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/json\/wp\/v2\/tags?post=46324"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}