{"id":45857,"date":"2026-10-03T13:12:01","date_gmt":"2026-10-03T06:12:01","guid":{"rendered":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/?p=45857"},"modified":"2026-10-03T13:12:29","modified_gmt":"2026-10-03T06:12:29","slug":"dari-rawa-sagu-ke-jantung-jakarta-sorong-selatan-menyapa-lewat-citra-cerita-dan-sepiring-papeda","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/berita\/dari-rawa-sagu-ke-jantung-jakarta-sorong-selatan-menyapa-lewat-citra-cerita-dan-sepiring-papeda\/","title":{"rendered":"Dari Rawa Sagu ke Jantung Jakarta: Sorong Selatan Menyapa Lewat Citra, Cerita, dan Sepiring Papeda"},"content":{"rendered":"<p><strong>JAKARTA, ITN<\/strong> \u2013 Sore itu, di tengah rimbun pepohonan Hutan Kota by Plataran, dua mama dari Sorong Selatan, Lidia Sawor dan Orpa Sawen, mengaduk sagu hingga berubah menjadi papeda yang bening dan kenyal. Para tamu berdiri mengelilingi mereka, sebagian mengabadikan dengan ponsel, sebagian lagi bertanya soal asal sagu yang dipakai. Bagi masyarakat di Kepala Burung Papua, papeda adalah makanan sehari-hari. Hari ini, ia menjadi pintu masuk bagi warga Jakarta untuk mengenal sebuah wilayah yang selama ini jarang terdengar.<\/p>\n<p>Momen itu menjadi bagian dari pembukaan \u201cJelajah Kemolekan Sorong Selatan: Ekowisata, Kebudayaan, dan Gastronomi Kepala Burung Papua\u201d, sebuah program yang lahir dari kolaborasi antara Konservasi Indonesia (KI), National Geographic Indonesia, dan Legenda Khatulistiwa. Program ini mengangkat tiga kampung di Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat Daya, yaitu Klaogin, Konda, dan Bariat, yang tengah merintis ekowisata berbasis masyarakat.<\/p>\n<p>Pembukaan acara yang turut dihadiri Kepala Bidang Promosi dan Kemitraan, Asisten Deputi Event Daerah, Eni Komiarti, mewakili Kementerian Pariwisata Republik Indonesia ini menandai dimulainya rangkaian kegiatan berupa pameran foto, dialog bersama narasumber dari pemerintah, lembaga konservasi, dan kepala kampung, pertunjukan tari, hingga demonstrasi masak pangan lokal.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-45858\" src=\"https:\/\/indonesiatripnews.com\/files\/2026\/10\/gh1-e1791007878465.jpg\" alt=\"\" width=\"700\" height=\"466\" title=\"\"><\/p>\n<p><strong>Hutan yang menjadi rumah<\/strong><\/p>\n<p>Sorong Selatan menyimpan bentang hutan rawa gambut tropis yang menjadi habitat beragam flora dan fauna. Namun bagi masyarakatnya, hutan itu lebih dari sekadar kawasan ekologis. Di sanalah mereka mencari pangan, belajar membaca musim, dan mewariskan cerita dari generasi ke generasi.<\/p>\n<p>\u201cKI bangga dan haru berdiri di tanah Sorong Selatan yang dianugerahi kekayaan alam luar biasa, menyimpan hutan rawa gambut tropis yang menjadi rumah bagi 416 spesies tumbuhan dan 372 spesies satwa. Namun bagi masyarakatnya, kekayaan ekologis ini lebih dari sekadar habitat biodiversitas, di sanalah mereka menggantungkan pangan, membaca tanda-tanda musim, serta merawat cerita leluhur,\u201d ujar Meizani Irmadhiany, Senior Vice President and Executive Chair, Konservasi Indonesia.<\/p>\n<p>\u201cBerperan penting sebagai paru-paru ekologis, dari sinilah ekowisata yang kami dorong bermula. Masyarakat adat bukan sekadar pelengkap wisata, melainkan pemangku kearifan lokal sekaligus penjaga utama benteng hijau mereka. Program ini sengaja dirancang agar tidak berhenti pada keindahan lanskap,\u201d tambah Meizani.<\/p>\n<p>Menurut Didi Kaspi Kasim selaku Editor in Chief National Geographic Indonesia, cara sebuah tempat diceritakan ikut menentukan bagaimana tempat itu kelak diperlakukan. \u201cSekarang ini, sebuah tempat bisa viral dalam hitungan hari, dan itu tidak selalu kabar baik bagi tempat tersebut. Karena itu, kami ingin mengajak orang datang sebagai pejalan yang mau memahami, bukan sekadar melihat. Kekaguman itu awal yang baik, tapi tidak cukup. Yang kami harapkan, orang mengenal Sorong Selatan sebagai rumah bagi masyarakatnya, bukan hanya sebagai pemandangan yang indah.\u201d<\/p>\n<p>Semangat tersebut turut diwujudkan melalui pameran foto yang berlangsung pada 1\u20134 Oktober 2026 di Hutan Kota by Plataran, sebagai upaya membawa cerita Sorong Selatan lebih dekat kepada audiens yang lebih luas di Jakarta dan Indonesia. Melalui fotografi, pengunjung diajak tidak hanya melihat kemolekan alamnya, tetapi juga mengenal masyarakat, keseharian, serta ruang hidup yang membentuk Sorong Selatan.<\/p>\n<p>Dari sisi industri perjalanan, CEO Legenda Khatulistiwa Narendra Makes menilai operator wisata punya tanggung jawab untuk berani membatasi. \u201cTugas kami memang memberi pengalaman terbaik untuk tamu. Tapi ada kalanya pengalaman terbaik itu justru datang dari aturan yang dijaga: jumlah tamu yang dibatasi, jalur yang tidak boleh dilewati, waktu yang harus dihormati. Perjalanan yang baik seharusnya meninggalkan manfaat bagi kampung yang dikunjungi, bukan hanya foto di galeri ponsel kita,\u201d tuturnya.<\/p>\n<p><strong>Suara dari pemerintah dan kampung<\/strong><\/p>\n<p>Sesi dialog bertajuk &#8220;Masa Depan Keanekaragaman Hayati Sorong Selatan&#8221; yang dipandu Didi Kaspi Kasim mempertemukan suara dari lembaga konservasi, pemerintah daerah, dan tokoh masyarakat setempat, yaitu Robeth Mandosir, Papua Program Director Konservasi Indonesia; Irman Murafer, S.Sos., M.Si., Sekretaris Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Papua Barat Daya; Kepala Kampung Klaogin Martinus Sawen; serta Kepala Kampung Bariat Adrianus Kemeray.<\/p>\n<p>Robeth mengingatkan bahwa pariwisata selalu membawa dua sisi. \u201cWisata bisa membuka penghasilan baru bagi masyarakat, tapi juga bisa menambah tekanan pada alam kalau tidak diatur sejak awal. Sampah, gangguan satwa, perubahan habitat, semua itu nyata. Yang membedakan ekowisata dari wisata alam biasa adalah ada tata kelolanya, ada batasnya, dan manfaatnya kembali ke masyarakat,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Irman Murafer menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak memandang alam Sorong Selatan semata sebagai objek wisata. \u201cHutan, sungai, dan kampung-kampung ini adalah ruang hidup masyarakat jauh sebelum ada wisatawan yang datang. Pariwisata harus menyesuaikan diri dengan kehidupan itu, bukan sebaliknya,\u201d ujarnya. Ia juga menekankan pentingnya kesiapan masyarakat. \u201cKami tidak ingin warga hanya menjadi penonton atau pekerja di tanahnya sendiri. Masyarakat harus menjadi pelaku sekaligus penerima manfaat utama. Promosi tetap penting, tapi harus berjalan bersama pengaturan daya dukung, supaya makin banyak orang yang datang tidak berarti makin banyak alam yang hilang.\u201d<\/p>\n<p>Bagi Martinus Sawen, alam di sekitar Klaogin tidak pernah dipandang sebagai objek wisata. \u201cHutan dan sungai itu dapur kami, sekolah kami, tempat cerita orang tua kami tinggal,\u201d katanya. \u201cKami senang kalau tamu datang. Kami hanya minta satu hal: datanglah seperti orang yang bertamu ke rumah saudara. Ikuti aturan kampung, hormati tempat yang kami jaga.\u201d<\/p>\n<p>Adrianus Kemeray menambahkan harapan agar wisatawan membawa pulang sesuatu yang lebih dari kenangan. \u201cKami ingin anak-cucu kami yang lahir di Bariat nanti masih bisa mengenal hutan dan sungai seperti yang kami kenal sekarang. Kalau tamu pulang dan jadi ikut peduli, itu sudah jadi oleh-oleh paling berharga dari Bariat,\u201d ucapnya.<\/p>\n<p>Selepas dialog, pengunjung diajak menyaksikan pertunjukan tari dan tur pameran foto yang merekam keseharian masyarakat Klaogin, Konda, dan Bariat, sebelum ditutup dengan demonstrasi masak oleh mama-mama dari Sorong Selatan.<\/p>\n<p><strong>Berlanjut hingga 4 Oktober<\/strong><\/p>\n<p>Pada 3 Oktober 2026, dialog berlanjut dengan tema \u201cBerbagi Tradisi dan Kearifan Merawat Hutan\u201d yang dipandu Mahandis Yoanata Thamrin. Sesi ini menghadirkan Syahlan Machmud, South Sorong Livelihood Coordinator Konservasi Indonesia; Orpa Sawen dari Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Klaogin; Yobolina Sopia Sawor dari Pokdarwis Bariat; serta Didi Kaspi Kasim. Mereka akan berbagi tentang pengetahuan yang diwariskan para tetua dalam merawat hutan, tradisi pangan kampung, hingga cara masyarakat menentukan apa yang boleh dibagikan kepada wisatawan dan apa yang tetap dijaga sebagai ruang hidup mereka. Sesi masak pangan lokal juga kembali digelar.<\/p>\n<p>Melalui kolaborasi ini, Konservasi Indonesia berperan sebagai mitra konten dan konservasi, National Geographic Indonesia sebagai mitra editorial dan media, dan Legenda Khatulistiwa sebagai mitra ekosistem pariwisata sekaligus tuan rumah. Ketiganya berharap Sorong Selatan dikenal bukan sebagai destinasi baru yang perlu segera dikunjungi ramai-ramai, melainkan sebagai ruang hidup yang layak dikenal dengan hormat.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA, ITN \u2013 Sore itu, di tengah rimbun pepohonan Hutan Kota by Plataran, dua mama dari Sorong Selatan, Lidia Sawor dan Orpa Sawen, mengaduk sagu hingga berubah menjadi papeda yang bening dan kenyal. Para tamu berdiri mengelilingi mereka, sebagian mengabadikan dengan ponsel, sebagian lagi bertanya soal asal sagu yang dipakai. Bagi masyarakat di Kepala Burung [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":45859,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[84,88],"tags":[],"class_list":["post-45857","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-berita","category-metropolitan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/json\/wp\/v2\/posts\/45857","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/json\/wp\/v2\/comments?post=45857"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/json\/wp\/v2\/posts\/45857\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":45860,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/json\/wp\/v2\/posts\/45857\/revisions\/45860"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/json\/wp\/v2\/media\/45859"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/json\/wp\/v2\/media?parent=45857"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/json\/wp\/v2\/categories?post=45857"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/json\/wp\/v2\/tags?post=45857"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}